Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

8 July 2013

Menjelaskan 2

Part I

***
Oke, akhir-akhir ini Sangjin Oppa rajin banget tanya-tanya tentang Islam.
Sekali lagi, gara-gara bahasa Jepangku yang nggak karuan, aku pengen nangis. T^T

"Nadiyah, kamu di tahun ke-4 kan sekarang?"
"Iya."
"Balik ke Indonesia, langsung wisuda?"
"Nggak, tahun depan kayaknya. Tahun depan bulan Februari."
"Ah, begitukah. Habis wisuda, mau ngapain? Kerja?"
"Nggak. Pengennya nikah."
"Beneran?" *ekspresi terkejut*
"結婚するかもしれない" (terjemahannya kira-kira: Menikah atau nggak, nggak tahu)
"Ah, orang Indonesia habis wisuda pada nikah apa?" *1
"Nggak juga sih."
"Kalau Nadiyah mau nikah apa?"
"Ah, kalau sekarang mencari hati dulu."
"Hahahahahha.. Kalau di Islam, misalnya nih kalau Nadiyah, kalau udah jadian boleh liat rambut?"*2
"Nggak boleh. Bolehnya kalau sudah nikah."
"Sudah nikah? Koq susah sih?"
"Kan rahasia. Soalnya precious person, oppa. 소중한 사람?"
"Hem bener. Trus misalnya nih, kalau udah jadian, nggak boleh pisah gitu?"
"Ya, masih ada yang pisah sih..."
"Trus kalau nikah baru bisa lihat rambut ya?"
"Iyaps. Benar sekali."
"Ah, kenapa sih dalam Islam nggak boleh makan babi?"
*jengjeng* "......"
"Jorok ya?"
"Iya sih, tapi alasannya bukan itu aja Oppa."
"Kamu nggak tahu alasannya?"
*Jleb* "Aku tahu, tapi susah menjelaskannya..."
"Ahahhahaha. Kalau gitu belajar bahasa Korea aja sudah sana!"
"Iya deh iyaa~~"

Aku pun melenggang ke kamar. Selalu deh. :|

***
Note:
1 : Mungkin dia bilang begitu karena semester kemaren ada yang nikah pas pulang ke Indonesia.
2 : Konsep pacaran, jadian (付き合う) itu emang nggak ada di Islam. Tapi berhubung aku bingung menjelaskannya *lagilagi* ya aku bilang aja, bisa aja putus kalau pas pacaran. Bener kan?

4 July 2013

Menjelaskan

Ramadhan sebentar lagi tiba.
Tapi gaung menyambut Ramadhan tak sebesar ketika berada di Indonesia tentunya.

Aku mau cerita tentang kejadian hari ini, dan beberapa kejadian sebelumnya.
Tentang identitas.
***
Awal aku datang disini, cuma Nabe alias Watanabe yang tahu kalau misalnya yang berjilbab itu adalah seorang Muslim. Terima kasih kepada mbak Zulfa yang sebelumnya adalah language partner si Nabe. Mungkin mbak Zulfa sudah menjelaskan beberapa hal tentang Islam kepada Nabe. Jadi ketika makan bareng, si Nabe yang biasanya langsung pasang badan untuk memilihkan makanan atau menunjukkan makanan apa yang bisa dimakan olehku.

Waktu berlalu dan kemudian pertanyaan datang lagi. Kali ini pertanyaannya dobel, dari Nabe dan Sangjin Oppa. Karena Nabe yang sudah tahu duluan tentang kerudung dan soal makananku, jadi Nabe yang menjelaskan hal-hal dasar kepada Sangjin Oppa. Sampai kemudian mereka tanya:

"Lah, kami emang nggak boleh liat rambutmu ya?"
"Nggak boleh, sama sekali nggak boleh. Kecuali orang tua dan saudaraku."
"Kalau cewek?"
"Boleh." (tapi kemudian aku baru tahu kalau misalnya membuka kerudung depan wanita non-muslim pun tak boleh)
"Koq nggak boleh sih? Aku lihat ada yang lepas tuh."
"Eh? Apapun alasannya kalau kamu lihat ada orang yang makai kerudung kayak aku itu Muslim dan dia nggak boleh minum sake dan makan babi."
"Begitukah?"
"Yups."
"Padahal sake enak loh." goda mereka.
"Ah, baunya saja sudah tidak enak, menurutku"

Ada lagi yang melihat aku pake rok, baju panjang dan kerudung, kemudian bertanya.
"Nadiyah, nggak panas?"
"Nggak tuh. Kenapa?"
"Aku ngelihatnya aja gerah. Jadi kamu nggak boleh pake lengan pendek?"
"Nggak boleh kalau keluar."
"Bikini?"
"Apalagi..."
"Lah kalau berenang gimana?"
"Ada baju panjang..."
"Berat ya? Harus pake baju gini"
"Nggak lah. Aman lagi dari sengatan matahari..."
"...."

Kemudian ada yang tanya lagi tentang kerudung. Sambil narik-narik kerudungku.
"Nadiyah, ini fashion?"
"Eh bukan. Ini aturan agama."
"Agama? Agama apa?"
"Islam."
"Hem? Kamu punya warna apa aja?"
"Eh banyak sih, menyesuaikan baju...."
"Ah, fashion itu namanya..."
"*terdiam*"

Kemarin, ada lagi orang dari Vietnam, yang tanya-tanya kenapa aku pake kerudung.
"Kamu kenapa pake ini, Nad?" (sambil tunjuk kerudung)
"Ah, ini karena aku seorang Muslim"
"Muslim?"
"Iya, muslim. Islam."
"Hem? Nggak pernah dengar tuh."
"Eh?"
"Bukan Kristen?"
"Bukan."
"Jadi semua orang Indonesia pake ini?"
"Nggak, soalnya ini bukan budaya Indonesia. Dan di Indonesia juga bukan cuma orang Islam aja. Ada orang dengan agama lain..."
"Kamu nggak panas?"
"Nggak, biasa aja. Indonesia lebih panas"
"Ah begitukah. Kamu nggak boleh minum sake bukan?"
"Iya aku nggak boleh minum sake."
"Eh, temenmu bukan Islam ya?"
"Ah, temenku juga Islam."
"Kenapa dia nggak pake pakaian kayak kamu?"
"Ah itu pilihan dia."
"Jadi orang boleh milih dia pake kayak kamu atau nggak?"
"Sebenarnya ini kewajiban. Kamu tahu konsep dosa?"
"Dosa? Apa itu?"
"Surga dan Neraka?"
"Ah aku nggak tahu..."
"Begitukah? Aku susah menjelaskannya kalau begitu... Maaf ya..."
"Ah nggak apa. Aku cuma penasaran aja."

Kalau udah gitu hanya aku yang bisa mengucapkan istighfar dalam hati karena nggak bisa menjelaskan.

Dan hal menyangkut Ramadhan.

Seminggu ini aku ditanya hal yang sama.

Pertama, teman dari China, Chen Jie.
"Nadiyah, aku dengar kamu bakal nggak makan dan minum ya?"
"Maksudmu pas Ramadhan? Puasa?"
"Iya, puasa. Nggak makan dan minum sama sekali?"
"Ah, bukan nggak makan dan minum sama sekali seharian. Tapi boleh makan dan minum pada jam tertentu saja."
"Dari jam berapa sampai jam berapa?"
"Dari jam 3, sampe jam 8 malam. Sepertinya."
"Nggak boleh minum air dikit aja? Kalau haus gimana?"
"Ya ditahan."
"Berat ya?"
"Ahahahaha, kalau nggak dicoba nggak tahu."
"Jadi aku nggak boleh ngajak kamu makan?"
"Kalau kamu mau minta temenin sih oke aja."
"Kamu nggak lapar nanti?"
"Lapar pasti dong. Tapi ya kewajiban."
"Woooo... Hebat..."

Kemudian dua hari berturut-turut dari Sangjin Oppa.
"Nadiyah. Udah mau Ramadhan, bukan?" (*btw, dia melafalkan Ramadhan itu La-ma-da-n)
"Eh? Lama? Lama? Apa?"
"Ramadhan"
"Ah, Ramadhan. Iya. Loh koq tahu?"
"Iya, nggak boleh makan dan minum bukan?"
"Hem hem. Kenapa emang?"
"Ramadhan ngapain aja sih?"
"Hem, nggak boleh makan minum dari jam 3 sampai jam 8"
"Sama sekali?"
"Sama sekali."
"Kalau haus?"
"Nggak boleh minum"
"Tapi kan nggak ada yang lihat. Minum aja pas di rumah."
"Yaaa.. Nggak boleh lah...."
"Dikit aja dikit..."
"Oppaaa....."
"Jadi makannya cuma boleh dari jam 8 malam?"
"Iya. Emang kenapa?"
"Kalau lapar makan aja, Nad. Walaupun belum jam 8. Ahahahahha"
"Yaa..! Mana boleh begitu..."
"Dari kapan sampai kapan Ramadhannya?"
"Dari minggu depan sampai bulan Agustus."
"Ah begitukah..."

Kemudian berlanjut hari ini. Pulang dari kampus.
"Nadiyah, minggu depan kita makan yuk di downtown."
"Eh? Minggu depan?"
"Atau kalau nggak minggu depan, pas habis ujian aja? Gimana?"
"Tapi minggu depan dan habis tes kan ada Ramadhan.."
"Ah, aku lupa... Ah gini aja, kamu rubah tuh jam tangan kamu jadi jam 8 pas kita makan. Kan udah jam 8 boleh makan...."
"Hengg... =_=" Oppaa~~"
"Yah trus gimana?"
"Nggak tahu deh..."
"Cowok juga harus puasa ya?"
"Iya harus puasa. Malah nggak boleh kalau nggak. Cewek sih boleh nggak puasa..."
"Eh? Ya kamu nggak puasa aja gitu pas kita jalan."
"Eh? Bukan gitu. Karena... Karena cewek ada yang datang setiap bulan..." (iya, aku pake kata kiasan)
"Hah? Siapa?"
"Hemmmm.... Itu, pokoknya karena kami cewek dah!"
"Aaaah... Ngerti, ngerti."
"Nah, pada saat itu kalau cewek nggak apa nggak puasa..."
"Trus kalau anak-anak boleh puasa nggak?"
"Boleh banget kalau kuat."
"Dari umur berapa? SD?"
"Iya. Sekitar 7 tahun. Tapi kasus adek-adek Nad, mereka dari umur 5 tahun udah puasa"
"Ah, begitukah."
"Berarti keluargamu juga?"
"Iya dong. Semuanya."
"Trus kalau ibumu rasain makanan yang dibuat untuk adik-adikmu gimana?"
"Ah benar! Kalau cuma di lidah sih boleh. Tapi nggak boleh nelan."
"Untung lah. Nanti kalau misalnya rasa makanannya nggak enak gimana? ehehehhe"
"Yah, untungnya"
"Berarti kalau mulutmu kering boleh kumur-kumur dong?"
"Boleh sih. Gosok gigi kan harus kumur-kumur..."
"Kamu berarti ibadah gitu dong Nad?" *sambil meragain gaya sujud*
"Iya. Lima kali sehari."
"Koq banyak?"
"Emang segitu."
"Kapan aja?"
"Jam 3 pagi, jam 12 siang, jam 4 sore, jam 7.30 malam, jam 9 malam. Sekitaran itu."
"Lah kalau misalnya ada kelas, kamu izin?"
"Eh? Lebih banyak di kamar sih beribadahnya."
"Kenapa nggak minta izin ke Sensei, bilang ke kamar mandi gitu?"

Sampai di sini aku ngerasa "jleb" banget. Jujur aku lebih banyak untuk menggabung shalatku. Jadi futur alias lemah. Aku jadi teringat cerita tentang Miko, mahasiswa asing di FEB yang memutuskan untuk masuk Islam. Mas Bhima bilang dia bela-belain keluar kelas pas adzan berkumandang. Padahal biasanya nggak boleh keluar kelas. Shalat pun harus tunggu kelas selesai, yang notabene setengah jam sesudah adzan. Mas Bhima pernah di skak-mat: "Kamu kan tahu kalau misalnya shalat itu harus tepat waktu. Kamu kenapa pas adzan nggak keluar? Shalat kan lebih penting daripada belajar? Kamu lebih takut sama dosen yang notabene manusia?"

"Ah, iya. Bisa juga ya?"
"Baka.... Bilang ke Sensei kan bisa.."
"Iya, dicoba deh.."

Biasanya sih aku nggak terima dibilang baka. Tapi kali ini aku terima. T^T

"Emang di Indonesia, kalau pas kelas gimana? Izin?"
"Nggak sih, tunggu kelas selesai..."
"Yah ini kan di Jepang. Coba aja ntar izin ke Sensei kalau mau ibadah."
"Hem...." *speechless*
"Di Indonesia ada teman Nadiyah yang agama lain juga kan?"
"Iya."
"Trus kalau mereka makan, nggak godain Nadiyah?"
"Ya, godain juga sih."
"Kayak gini, 'Nadiyah, es krimnya enak looohh' *sambil meragain orang minum es krim*"
"Ada, pastinya..."
"Semangat ya Ramadhannya. Ntar aku kalau makan godain boleh ya?"
"Hem.. Ada setan kayaknya..."
"Ahahahahhaha... Canda, canda..."

***
Kalau speechless, aku bisa berdoa, semoga aku bisa lebih lancar bahasa Jepang.
Cuma bisa merutuk dalam hati kalau nggak bisa menjelaskan.

Tapi sebisa mungkin aku akan menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti. :3

T^T

11 June 2013

Butuh Waktu

: sebuah catatan yang ingin dituangkan secara terburu oleh penulisnya

***

Mungkin sekitar empat atau lima bulan lalu, sebelum berangkat ke Hiroshima, karena tidak tahu menahu apapun tentang Hiroshima, diriku mencoba meng-add ketua PPI Hiroshima. Tapi sayangnya, mungkin karena banyak sekali orang yang menambah beliau sebagai teman, saya tergusur. Namun, tetap menjadi follower beliau, melihat beberapa cerita inspirasi yang beliau tuliskan. Cerita yang menggelembungkan hasrat di dada untuk terus bermimpi. Sambil menanti-nanti kata "Friend request sent" menjadi "Friend".

Tapi sebulan berlalu, belum ada konfirmasi.

Kemudian saya, yang ketika itu sedang menunggu teman-teman Indonesia Contribution Project dari HUE, tiba-tiba melihat seseorang yang saya yakin sekali sebagai ketua PPI Hiroshima. Saya tapi kurang yakin dengan wajah beliau, hanya bisa berteriak kecil kepada teman saya yang juga akan pergi ke Hiroshima, "Sa, itu loh ketua PPI Hiroshima!". Sasa menyuruh saya untuk mengejar beliau dan bertanya apa memang beliau ketua PPI Hiro. Toh kalau salah juga tak apa.

Tapi beliau terlanjur menghilang dari pandangan.

Waktu berangkat semakin dekat, dan akhirnya hanya bermodal sedikit pengetahuan tentang apa yang sedang terjadi dan yang mungkin akan terjadi di Hiroshima, saya berangkat. Bismillah.

Panjang cerita, sudah dua bulan setengah saya disini, kemudian ada pemberitahuan dari international office bahwa ada pertemuan antara Indonesia-Jepang di sebuah hotel di Hiroshima. Kejutan! Saya menemukan wajah yang sama, tapi lagi-lagi saya belum sempat menyapa beliau. Sampai akhirnya saya digeret oleh mbak Retno, mahasiswa Ph.D untuk berkenalan dengan bapak Tuswadi.

Keajaiban kecil terjadi. Setidaknya menurut saya.

Setelah empat-lima bulan, akhirnya saya berbicara dengan Pak Tuswadi secara langsung. :) Ketika saya bercerita tentang saya yang melihat beliau sebelum ke Hiroshima, bagaimana saya yakin betul bahwa yang saya lihat adalah beliau, ketakutan saya untuk menyapa, dan bercerita bahwa setiap postingan yang beliau tulis menginspirasi saya :)

***

Apa sih yang ingin saya katakan dalam tulisan ini?

Saya jadi menyadari, kesempatan itu selalu datang pada saat yang tepat. Rezeki datang selalu di saat yang tepat. Rencana kita mungkin beratus, beribu, berjuta adanya. Namun tentu Allah-lah yang membuat semua rencana kita itu menjadi nyata, dan dipermanis dengan memberikan rezeki itu pada waktu yang tepat.

Mungkin saja, seandainya saya waktu itu saya menyapa Pak Tuswadi di bandara, saya tidak akan dapat memperkenalkan diri dengan baik dan berbicara banyak dengan beliau, karena pada saat itu pesawat mengalami keterlambatan dua jam, dan mungkin saja beliau mempunyai urusan lain yang lebih penting.

Lima bulan kemudian, saya bertemu dengan beliau pada saat yang tepat, dan kemudian dapat berbicara banyak, dan, hei, akhirnya saya friend di FB dengan beliau!

***

Mungkin saja, seandainya orang tua langsung membolehkan anaknya yang cerewet ini ikut pertukaran pelajar pada semester awal, saya tidak akan se-santai ini karena ketika pulang masih memikirkan nilai-nilai yang saya kejar. Belum lagi teman-teman yang terlanjur berada di tingkat atas saya, dan saya pun harus mengambil kelas berbarengan dengan angkatan bawah.

Saat ini adalah saat yang tepat, pada saat saya kembali, saya hanya akan memikirkan skripsi. Saat ini adalah masa saya mengisi energi karena mimpi ke depan sudah saya tuliskan dengan lebih jelas.
Saat ini adalah saat dimana saya lebih bisa membuka diri untuk kemudian berusaha menghadapi dunia :)

***

Terkadang butuh waktu dan kesabaran, karena manusia diberi keterbatasan.

Tidak dapat melihat kapan mimpinya terkabul.

Tidak dapat melihat mimpi apa yang terkabul.

Tidak dapat mengatur mimpi apa yang harus terkabul dan kapan.

Bagi yang belum terkabul mimpinya, mungkin penundaan itu diberikan untuk mempersiapkan hatimu, menempa agar ia lebih siap untuk menghadapi dunia yang -katanya- kejam. Mungkin penundaan diberikan karena waktu mendatang itu lebih baik daripada jika mimpimu dikabulkan sekarang.

: Dia Mahatahu

.:: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) ::. [AlAn’am: 59]

1 August 2011

Part Four : Truth or...


Day 2, June 30th 2011
Shubuh, 2.30 am KSA
Kriiiinggg…!
Telepon kamar berbunyi.
“Hmm?”
“Ayo siap-siap. Papa udah mandi nih.” Sahut suara di seberang sana.
“Ya…” Aku pun menutup telepon. Dengan mata setengah tertutup aku menyuruh dua adikku untuk bangun dan mandi. Ampun deh, kalau mereka berdua mandi lama banget. Jadinya aku suruh duluan.
Belum rela melepaskan kepala dari bantal.
Capek sih, tapi tetep aja rasa capek itu dikalahkan oleh rasa ingin ke masjid, berbaur dengan orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Well, selain keluargaku maksudnya. Tubuhku mendapat 30 menit tambahan untuk tidur ayam, setelah itu giliranku untuk mandi. Niatku, menggosok gigi dengan air hangat. Setengah terpejam diriku menarik keran ke atas. Yeah, kemalasanku itu ditegur secara langsung oleh Allah: keran yang kutarik ternyata mengarah ke air panas. Karena sempat memejamkan mata, aku tak tahu air meluber. Sip, tangan terbakar. Mataku langsung melek.
Mandi.
Berganti kerudung, jilbab.
Ke kamar papa dan berbarengan keluar hotel dengan abang yang masih terkantuk-kantuk. Gemas rasanya melihat adik lelaki satu-satunya itu. Wajahnya persis denganku, dan badannya, montok berisi. Kalau melihat sifatnya, aku sendiri kadang malu. Dia punya hati besar untuk memaafkan, namun tidak mau kalah :D Trus, kalau dirasanya orang itu ganggu hanya sekedar untuk buat jahil aja, atau nggak ada kepentingan, Masya Allah cueknya :D Kagum dia bisa milih mana yang penting atau nggak. Peka banget lagi ama keadaan, dewasa deh dari aku.
Seneng rasanya kalau minta peluk ama dia, dikasih pelukan hangat.
Tanpa pamrih.
Well, sembari memikirkan hal itu aku turun dengan lift. Sebelum keluar hotel, sekilas aku melihat sesuatu di jalan sebelah kanan. Teroreeett: The Body Shop! Aha! Alhamdulillah akhirnya bisa membeli lipbalm. Bibirku kering kerontang, sariawan tambah parah. Yah, mungkin ntar Dzuhur baru minta deh ama bapak nan ganteng rupawan :)
Shubuh jam 4.04 dan sekarang masih jam 3.00.
Berjalan kaki bersama keluarga, ke masjid. Jarang-jarang sih selain tarawih, sholat Id Al-Adha ama Id Al-Fitri. *miris* Abang dan Papa berjalan ke pintu masuk laki-laki, dan aku hanya menatap punggung mereka berdua. Papa memegang tangan abang dan muncul pernyataan di benakku, aku dulu juga begitu :)
Aku, si Kembar, Mama dan oma masuk di pintu 16, kalau nggak salah pintu Umar bin Khatthab, CMIIW :D Diperiksa-periksa tuh ama polisi wanitanya. Eniwei, nggak boleh bawa handphone berkamera dan kamera disini. See, sebenernya yang nggak boleh difoto disana adalah makhluk hidup, tapi kalau arsitektur masjid sih nggak apa. Kalau ketahuan bawa kamera ya akan diambil sama polisinya. Yang bawa uang juga cuma papa, dan yaa kalau bawa uang nggak usah banyak-banyak, kan niatnya mau ibadah, bukan belanja-belanja.
Begitu masuk ke dalam masjid, aku hanya bisa terpukau, dan menggigil. Dingin banget disana. Penyejuk ruangan itu menyatu dengan pilar-pilar penyangga. Al-Qur’an bertebaran dan bertong-tong air zam-zam tersedia untuk semua jama’ah yang kehausan. Aku menengadah, arsitektur khas timur tengah. Asma Allah tertulis dimana-mana, kubah masjid yang bueesaarr dan itu loh, desain belang-belang. Ntah bagaimana aku menjelaskannya. Bingung.
Ah, masjid masih sepi.
Kami mengambil tempat yang beralaskan karpet tebaaal. Huwah, halus, bersih. Hidungku menghendus, hatiku bersorak. Tidak ada debu cuy! Bebaslah aku dari penderitaan bersin-bersin sepanjang Shubuh. Alhamdulillah duduk di dekat pilar. Langsung aku mengambil mushaf dan mulai membaca. Sebentar-sebentar aku bersyukur, mengagumi, takjub. Aku disini, dimana sekitar kurang lebih seribu empat ratusan tahun lalu para shahabat, kaum muhajirin dan anshar, berkumpul untuk mendengarkan ajaran dari Rasulullah. Tempat iman diuji dan ditempa, tempat untuk menyusun strategi dan tempat dimana Rasulullah tinggal bersama ‘Aisyah.
Kemudian, ada ibu muda bersama anaknya yang masih kecil datang dan duduk di sebelah mama. Waw, wanita ras Arya emang top markotop dah. Idung mancung, bulu mata lentik, tinggi dan mempunyai tenaga kuda. Tentang yang satu ini ku buktikan ketika berada di Makkah. Nantilah akan kuceritakan itu.
Setelah rangkaian surah Ad-Dhuha sampai An-Nas kuselesaikan, kututup  dan kucium mushafku. Aku menatap anak kecil yang ditidurkan di karpet. Waw, tentu hebat wanita muda ini menyiapkan segalanya dan pergi ke masjid untuk beribadah. Tebakanku, dia bukan orang yang berumrah. Karena dia membawa tas (bermerk euy) yang diisi susu anaknya, makanan anaknya, dompet, handphone dan sesuatu yang bergemerincing, mungkin kunci. Ngintip? Iya. Soalnya penasaran. Apalagi untuk menenangkan anaknya dia perlu membuka tasnya berkali-kali dan mengobrak-abrik isinya.
Selang adzan pertama dan kedua cukup lama sehingga aku memejamkan mataku sebentar dan berusaha keras untuk tidak jatuh tertidur. Gaswat kalau tidur karena aku tidak tahu dimana tempat untuk mengambil wudhu. Dan tidak ada jaminan aku akan kembali ke tempat dimana keluargaku berkumpul. Belum lagi bersinggungan dengan orang-orang yang bertubuh besar.
Setelah berkali-kali tidur ayam, akhirnya adzan yang ditunggu datang juga. Ah sebelum itu Papa sudah memberitahu kalau sebelum bacaan surah pendek akan ada jeda, dan pada waktu tersebut para ma’mum membaca surah Al-Fatihah. Memang berbeda dari biasanya, tetapi itulah yang benar :) Shubuh selesai sekitar jam 5 KSA dan kami sekeluarga langsung menuju hotel kembali.
Tidur.
Karena jam 7 bersiap ke Makam Rasulullah dan para Shahabat serta maqam Baqi.
***
Masih dengan perasaan melayang karena adaptasi tubuh terhadap perbedaan waktu, aku mencuci muka, gosok gigi. Waks, sariawan tambah parah. Karena tidak ada vitamin C maka aku akhirnya meminum air banyak-banyak. Yeh, ternyata pelit sekali manajemen hotel disindanggg… (baca: di sini). Air minum hanya diberi satu botol tanggung. T__T
Jadwal hari ini hanya ziarah. Setelah makan pagi, kami berkumpul di lobby hotel. Dipimpin oleh seorang tour guide, kami mulai berjalan. Ternyata makam cukup jauh, dan kalau pagi masjid Nabawi dibersihkan. Bener-bener kinclong bo. Pake kaus kaki aja nggak masalah berjalan-jalan di masjid. Matahari bersinar seperti jam dua belas di Indonesia. Terik kali. Padahal baru saja jam menunjukkan 8 KSA time. Dahsyat. That’s why they use burqa’ alias cadar. Untuk mengalihkan pikiranku dari panas, diriku akhirnya berdzikir saja.
Setelah sampai di makam Baqi’, guide-nya berkata, “Mari panjatkan shalawat, salam dan do’a kepada para ahli kubur disini. Sebenarnya sih nggak boleh dipimpin kalau berdo’a. Tapi nggak apa, saya akan mengucapkan doa ini pelan kemudian ibu-ibu sekalian mengikutinya.”
Halo? Kalau dilarang kenapa dilaksanakan?
Warning: ini tanah suci, dan telah datang hukum yang jelas. Mengapa lagi harus diikuti?
FYI, doa boleh dipanjatkan dalam bahasa apa saja dan terserah mau doa apa saja asal untuk kebaikan si penghuni kubur dan tujuannya adalah shalawat. Namun ini saja sudah bersifat transaksional. Dan lagi, hanya jama’ah Indonesia yang berkumpul dan memanjatkan doa bersama seperti ini.
Jama’ah Indonesia, dengan segala kekurangannya. Dan ternyata di kemudian hari aku tahu, bahwa pemerintah Arab Saudi telah menerbitkan buku panduan untuk haji dan umroh yang baik dan yang benar, hanya saja jama’ah Indonesia memilih bungkam.
Sekali lagi sodara-sodara, tidak ada do’a bergerombol dipimpin dan dilafadzkan dengan suara keras. Apalagi perempuan :) Agar tidak terpusat perhatian laki-laki kepada kita :)
Karena tidak bisa ke makam Rasul, ya seperti tadi, hanya menghadap makam kemudian membaca shalawat. Kemudian kami ke Raudhoh. Honestly, I haven’t read about Roudhoh before so I can’t explain anything about Roudhoh. Emang sih di internet bisa aja dicari, tapi aku lebih suka untuk membaca buku kemudian bertanya. Kalau penjelasan kemaren sih katanya itu adalah sepotong taman surge, trus tempat paling mustajab di bumi. Maka, berbondonglah umat manusia untuk masuk ke roudhoh yang tidak seberapa besar itu –katanya. Eniwei, aku nggak ke roudhoh, soalnya ngantri gila dan Papa telah mewanti-wanti agar aku, mama, oma dan adik-adikku tidak sholat disana. Kata Papa tidak ada yang menyuruh untuk shalat di Roudhoh. Dan lagi, karena ketidaktahuanku dan baktiku, aku menuruti perkataan Papa.
Insya Allah aku akan kembali dengan pengetahuan yang lebih banyak tentang umroh dan Insya Allah pula, haji. Amin.
Akhirnya karena tidak menunggu masuk Roudhoh, kami memutuskan untuk pulang setelah bergelut dengan pemimpin rombongan. Yeah, pemimpin rombongan berkata bahwa sayang sudah sejauh ini berjalan dan kapan lagi bisa ke Roudhoh dan shalat disana. Aku pun diam dan berdo’a dalam hati.
Allahumma arinal haqqa haqqan, warzuqnat tiba’ah. Wa arinal batila batilan, warzuqnat tinabah. Amin.
(Ya Allah tampakkanlah yang baik itu baik, dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tampakkan kepada kami yang salah itu adalah salah dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya. Amin)
Sampai di hotel, tidur lagi.
Membantu tubuh untuk menyesuaikan diri :D
***
Sebenarnya hari ini sih nggak ada kegiatan lagi. Ohya, aku ingat pas Shubuh aku melihat ada The Body Shop. Sip, aku akan membeli lip balm. Akh, baru ingat kalau dompet dan seluruh isinya aku tinggalkan di tanah air. Gaswat. Harus merengek nih. Hahahay. Alhamdulillah sih Papa mengerti kebiasaan anaknya dan memaklumi diriku yang aneh ini. Tapi sayang seribu sayang toko itu tidak buka.
Another challenge buat bibir kering dan sariawanku.
Ketika keluar untuk shalat Dzuhur, whooooshhzz, angin panas kering kerontang lagi-lagi menerpa wajahku. Subhanallah. Kulipat kerudungku untuk kubuat untuk menutup muka. Whew.
Sampai di masjid, kulepaskan dahagaku dengan meminum dua gelas air zam-zam dingin. Maknyos. Alhamdulillah. Diriku pun mencari tempat shalat. Untuk shalat dengan khusyuk.:)
Ohya, habis Dzuhur tuh baru TBS-nyo buka. Aku membeli spray n lotion muka, lipbalm dan parfum. Khusus untuk parfum aku baru liat kalau ada wangi khusus yang hanya dijual di kawasan Timur Tengah, mungkin. Arab Oud, nama wangian itu. Cukup bernuansa timur tengah. Dan karena membeli parfum itu pula bahasa Inggrisku diuji.
“Engris? You can?” kata penjaga tokonya.
“Eh? Me?”
“Yes, speak Engris?”
Alamak, bener-bener dilafalkan Engris kata English itu. Bla-bla-bla itulah yang aku dengar dari aksen timur tengah itu dan meminta penjaganya untuk mengulang beberapa kalimat.
***
Ketika lima waktu selesai, oma dan adikku telah tidur pulas, aku merenung. Jantungku berdetak dengan tempo yang aku tahu apa artinya itu.
Rindu.
Bahkan sebelum pulang pun aku sudah merasakan rindu.

20 July 2011

Part Three: Days @ Madinah Al-Munawwaroh

29 June 2011, 5.45an KSA time.

Bis berhenti sebentar untuk makan. Yay, makanan pertamaku selama di darat. Yummy! Ayam bakar, sambel tempe dan-sepertinya-teri-teri-gimana-gitu, sambel dan pisang :9 Ku lahap makanan itu sampai hanya bersisa pisang dan sambel tempe dsttgg itu. Aku tak memakannya karena ada ternyata juga bercampur kacang yang tak bisa ku kunyah.

Oke, sepertinya cerita ini hanya berkisar ke makan-makan saja. Namun itulah, ditenangkan dengan makanan.

Selesai makan, aku meminta si kakak untuk membuat video pertama. Cukup norak. Muka kucel, kerudung tak berbentuk lagi, dan penerangan seadanya, membuatku tampak seperti hantu yang sedang syuting. Suhu di dalam cukup dingin, 14º C, berbeda drastis dengan suhu di luar yang mencapai ± 35º C. Sepanjang perjalanan di waktu menuju maghrib, aku buka gorden yang menutupi jendela dan mulai lagi merekam semua pemandangan. Setir di kiri membuat mobil-mobil yang berjalan di kananku cukup ramai (ya iyalah..) Cukup mengezutkan karena di gurun nan panas ini terdapat banyak taman bermain dengan lampu yang sangat terang.
Si Kakak bilang: “Iya Ce’ Inez. Kalau di Arab ini malamnya kayak siang…”
Aku : “Kalau siangnya?”
Si Kakak : “Ya sudah, siang aja. Gimana sih?”

Toeng.

Menghabiskan perjalanan menunggu Maghrib? Aku tidur lagi :D

Emang waktunya tidur koq kalau di Indonesia *ngeles*

Sekitar satu jam perjalanan lagi, kami singgah untuk shalat maghrib. Shalat maghrib sekitar jam 7 pm KSA. Kalau di Indonesia, pertengahan jalan antar-kota biasanya dipenuhi dengan rumah makan, tapi kalau di Arab sini lain. Pertengahan jalan biasanya hanya pom bensin atau masjid. Lumayan sih besarnya, namun tempat wudhu’nya itu loh. Ampun deh baunya. Mungkin jarang ada yang membersihkan. Tapi ketika masuk tempat wudhu’ aku merasakan déjà vu. Tempat wudhu’ yang ada tempat duduknya, tempat sampah dan kaca yang ada tepat di ujung pintu masuk.

Mungkin hanya perasaanku saja lah.

Ku lepaskan sepatu dan kaus kakiku. Ku buka keran air dan kubasuh kakiku. Subhanallah. Segar. Sebelum ambil air wudhu’, aku mendengar percakapan dalam bahasa Turki. Mengapa aku tahu bahasa Turki bukan bahasa Arab? Karena tak satu pun kata dalam bahasa itu yang aku mengerti. Kalau bahasa Arab sedikit-sedikit tahu lah :P Tapi kenapa milih bahasa Turki, bukan China atau Rusia? Suka-suka dong.

Selesai wudhu’, aku dan kakak mencari masjidnya. Ada tulisan dan panah. Sebentar. Ro Zai Lam. Rizal. Laki-laki. Bah, mana dia? Ku kelilingi lagi masjid itu sambil mengingat-ingat. Perempuan bahasa Arabnya apa yak? Ku lihat banyak perempuan masuk di suatu tempat. Udah hampir nyampe, eh, kenapa pula ada laki-laki gendong anak masuk? Putar sekali, dua kali, masih aja Rizal yang ketemu.

Akhirnya kuputuskan untuk bertanya pada pemimpin rombongan.

“Lurus ke kiri, ke kiri lagi.”

Masya Allah. Udah dua kali aku keliling, masa iya sih nggak ke baca petunjuk selain “Rizal”? Ku ulangi sekali lagi pencarianku. Ketika ada banyak perempuan yang keluar, kuperhatikan, ternyata ada satu tanda yang terlewat. Ku baca: nun ya sin alif. Nisaa. Alamak. =,=’ . Kakak hanya menatapku dengan tatapan capek-deh.

Shalat jamak Maghrib dan Isya.

Banyak tulisan di dinding. Kible (Turki), Kaf ba lam ta (baca: Kiblat), dan beberapa coretan lain. Iseng ku perhatikan, apa ada tulisan Kiblat yak dalam huruf latin :D Tapi nggak ada Alhamdulillah.

Lalu aku pun menarik kesimpulan. Jama’ah Indonesia itu khusyuk dalam beribadah #halah Tapi ada kesimpulan lain lagi: jama’ahnya banyak yang tua dan nggak bawa pensil. Nggak sempet nulis. *digebukin*

Kembali ke bis dan… tidur lagi.
Nggak terasa sudah nyampe aja bis di Hotel Mövenpick-Madinah. Jam menunjukkan hampir tengah malam waktu Saudi Arabia. Hampir berganti hari. Mutawwib-nya sibuk mengurusi kunci hotel. Kami pun menunggu dengan sabar. Yap, kamar 9009. Lantai Sembilan. Waw, selama ini paling tinggi aku cuman di lantai 8. Kini di lantai 9. Papa, Mama, Abang di 9005.
Masuk di kamar, aku langsung menuju jendela. Subhanallah… Langsung pemandangan Masjid Nabawi. Setelah puas melihat, aku menuju kamar mandi. Yap, selain makanan hotel, aku pun menilai hotel tersebut dari kamar mandinya :D Kalau bagus, pastilah hotelnya juga bagus. Aku pun membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat sebentar sebelum adzan Shubuh pertama berkumandang. Adzan pertama? Yap, karena ada juga adzan ke dua. Adzan pertama tanpa lafadz “Asshalatu khoirum minan naum.” (Lebih baik mendirikan shalat daripada tidur), merupakan adzan pembangun (menurutku). Kemudian adzan ke-dua yang merupakan panggilan shalat. :)

Aku tidur di samping Oma.

Menunggu Shubuh pertamaku :)

18 July 2011

From Saudi Arabia with Love

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin :D
Senangnya bisa kembali menulis untuk blog yang using ditinggal sang pemilik *bersihkan sarang laba-laba*
Beberapa postingan ke depan nad akan menulis pengalaman ketika umrah ke tanah suci. Alhamdulillah, nad bisa menginjakkan kaki dan menapaktilas perjalanan Rasulullah tercinta :)
Sekitar total 9 hari berada di sana, tentu banyak sekali yang bisa diceritakan.
Tapi gara-gara dua catatan lengkap nad nggak tahu dimana juntrungannya (satu hilang, satu tertinggal di Madinah T-T)
Rute penerbangan kali ini:
Sepinggan - Soetta – King Abdul Aziz PP
Rute Darat:
Jeddah – Madinah – Makkah – Jeddah
Tunggu postingan selanjutnya yak :D