Showing posts with label Bandara. Show all posts
Showing posts with label Bandara. Show all posts

3 April 2013

That Journey 1

*meminjam salah satu judul album Rina Eonni

CGK-KUL-KIX
Hiroshima!

A journey that took a lot of time that I forgot how is it to get a proper sleep. Yes, I haven't sleep well during the last week of March.

It's even worse before the real journey.

I slept just before 1 am and woke up before the alarm at 3, it was 2.58 *ahahaha*. Hurriedly taking a breakfast, I went straight to airport. At 4.30, and Papa sent me like I was going to the end of the world *halah*. I checked-in, went to the immigration *hei, it's not a long queue at immigration!, and stay still at gate 6 until a missus greeted me, asking if I go to Kuala Lumpur or not. I answered yes, and she asked more if I just transit there or not. I said yes again and I went to Osaka. She said she was going to Haneda to visit his daughter.

Sudah jam 6.25, masuk pesawat dan kemudian duduk dengan manis di kursi dekat jendela. Aku menghabiskan waktu di pesawat dengan, tidur. Ya tidur. Namun kemudian sebelum turun di bandara LCCT Kuala Lumpur, aku melihat ke bawah. Yah, banyak sekali kelapa sawit tumbuh di sekitaran Sepang. Dimana-mana kelapa sawit :| Sampai bosan ngeliatnya.

Turun dari pesawat? Gila banget panasnya. Perasaan di Indonesia jarang panas kering seperti itu. Aku pergi ke dalam terminal, cek imigrasi, kemudian Sasa bilang dia kenalan dengan orang KBRI Malaysia dan mau banget nganterin kita ke Menara Petronas. Gratis dan pake mobil diplomatik. :D Sampai Suria KLCC, yang jelas isi perut dengan makanan dulu :D Nasi Lemak + Ayam Goreng + Soda = 11,5 RM
Nasi Lemak with Fried Ckicken and Soda

With Sasa
Habis foto-foto, kalau mau balik ke LCCT harus ke KL Sentral dulu. Kemudian tanya dengan petugas taksi. Kekeuh banget nggak mau pake bahasa Inggris. Padahal bahasa Melayu eyke kan biasa-biasa aja :] Nggak lama sih, aku sama Sasa akhirnya memutuskan untuk naik LRT. Dari pintu masuk Suria KLCC, sebelum bas stop ada tangga menuju underground. Bayar RM 1,6 untuk ke KL Sentral. Melewati sekitar 5 Stasiun. Kemudian naik bis ke LCCT. Sekitaran satu setengah jam dengan bayar RM 8.

Harus lari-lari karena counter check-in sebentar lagi tutup (dan ternyata memang sudah tutup). Alhamdulillah petugasnya bersedia untuk mengurus. Kemudian lari-dan-berlari lagi untuk sampai di gate keberangkatan. Air Asia X, tujuan KIX :D

to be continued

22 January 2013

Glance on The Sky #2 (Sepinggan Airport)


26 Desember 2012

Ketika malang melintang tak karuan selama 3 bulan antara Sepinggan-Adisutjipto.

Lama tak bercerita soal bandara, kemudian saya teringat postingan lama berjudul hampir sama.
***

Kalau sudah di bandara, saya merasa orang paling filosofis di dunia, mengalahkan filsuf sekelas Socrates, Plato, Aristotel dan sejenisnya lah. Seperti kebanyakan orang mendapatkan inspirasi di kamar mandi, saya mendapatkan inspirasi di bandara. Sepertinya Sepinggan adalah, hem, saksi saya tumbuh dewasa? Alamak. Seberapa sering sih saya di bandara?

Kemudian sambil menyeruput kopi bikinan barista warung kopi ternama di dunia, saya memandang ke luar dan menarikan lagi jari-jari saya.
***
Perjalanan pertama saya memakai pesawat terbang adalah ketika berumur 18 bulan. Terbang bersama papa-mama ke Palembang untuk melanjutkan perjalanan ke kampung tercinta bapak saya, Pagaralam. Jaket jingga, pesawat Buroq. Ah, bahkan karena sudah terlalu lama saya lupa ejaannya. Bouraq. Ya, itu dia. Saking dinginnya, saya “dililit” berbagai macam jenis kain supaya hangat. Tak lupa foto dalam pesawat. Self-camera shoot ternyata sudah populer.

Kemudian, Sam-Ratulangi mengantarkan saya ke tahap selanjutnya: berpergian sendirian. Kelas 6 SD, sehabis merantau dari pulau Sulawesi, saya pulang. Dandan cantik, memakai baju warna kesukaan saya, biru, rambut habis dipotong gaya bob, sepatu baru, saya siapkan diri. Terbayang diri harus mengambil bagasi, kemudian berjalan angkuh dari pesawat ke terminal kedatangan. Ah, apa yang ingin saya bicarakan? Di dalam pesawat hati tak menentu karena yang terbayang hanyalah memeluk mama setelah sekian lama tak bertemu. Sepinggan pun menanti saya, melihat saya yang telah berubah menjadi gadis yang siap masuk SMP.

SMP? Soekarno-Hatta menjadi tujuan saya kali ini. Pergi ke Bandung untuk jalan-jalan sebelum bertemu id Fitri. Terbayang bandara megah seperti itu, di Sepinggan saya selalu mengingat-ingat wajah kakak sepupu yang lama tidak terlihat. “Ce’ Vivi akan menjemput di bandara.” Kalimat itu menjadi mantra yang selalu diucapkan Papa. Ah, berpergian sendiri lagi. Kebiasaan mengetukkan kaki tiga kali sampai di tempat tujuan juga menjadi kebiasaan, sugesti agar selalu bisa ke tempat yang sama. Aku ingin kembali ke Jakarta lagi :D

Cukup lama tidak bertemu Sepinggan, kecuali mengantarkan keluarga, sampai akhirnya kelas 3 SMA, Adi-Sutjipto menjadi tempat tujuan: bandara dengan runway terpendek yang pernah menjadi tempat tujuanku. Jogja, dengan segala hiruk pikuknya. Bandara yang sebenarnya cukup membuatku pusing setelah Sepinggan edisi lama. Nomor gerbang yang tidak tercantum dalam tiket, kemudian mata yang harus selalu waspada akan jadwal penerbangan.

Sepinggan mengantarku untuk memulai perjalananku. Sepinggan juga selalu menungguku. Sepinggan juga selalu bertumbuh, seiring dengan banyaknya jumlah perjalananku.

***
Kulayangkan pandang ke luar jendela, ku hirup udara dingin itu. Bau bandara.

Aku yakin kau menganggapku aneh atas semua cerita tentang bandara ini, entah kau akan mengertinya.

Bau garam laut bercampur di udaranya, Sepinggan. Namun jujur aku lupa bau Sam-Ratulangi seperti apa.

Pemandangan gunung berselimut awan, bau-bau pohon dan rumput: Adi Sutjipto.

Asap, polusi. Bau menyengat dan aura sekeliling yang menyesakkan namun bercampur dengan ke-elegan-an bandara sibuk: Soekarno Hatta.

Angin kering yang menerpa, bau gurun yang khas dan palem-palem melambai: King Abdul Aziz.

Namun tetap saja aku akan kembali ke Sepinggan. Seperti sebuah checkpoint bagi pemain game: mengisi energi, menuliskan perjalanan, menetapkan starting point, sebelum pergi lagi untuk mengembara dan memperbaharui equipment untuk menuju level selanjutnya. Dengan bantuan Wizard dan Coach.

*untuk energi perjalanan selanjutnya*

22 February 2012

Dua Belas Menit

Jari ini menari-nari
Sebelum ku memutuskan untuk berlari
Ke arah kiri
Untuk menghampiri
Dirimu, sendiri
Pagi hari
Sebelum aku pergi

Dua belas menit

Anganku melayang
Sebelum ku putuskan untuk terbang
Untuk berpetualang
Diriku, seorang
Kemudian jam berdentang
Dia datang
Jarak, terbentang

Lagi, dua belas menit

: aku membelakangimu sekarang

31 October 2011

I Was Wondering


When I Was Waiting...




There I am
Trying to make my heart calm
Jet plane reminds me of you
And your hug, oh so warm
Time's running and
outside, it's raining
I am leaving
: i hate the moment i fly at the sky

Sepinggan Airport, October 30th 2011

19 July 2011

Part Two : Leaving on A Jet Plane

Esoknya ke Bandara sekitar jam 10 dan take-off sekitar jam 11.30. Tempat duduk kami sekeluarga terpencar dan akhirnya aku harus berganti tempat duduk dengan mama, di 59B. Boeing 737-800 siap membawa kami melintasi 4 jam perbedaan waktu. Cukup menegangkan bagiku yang pertama kali melintasi lebih dari 1 jam perbedaan waktu, apalagi ini menuju tanah suci. Kubayangkan setelah pulang ini aku dapat mencoret satu lagi resolusi tahun 2010 yang berlaku dua tahun: pergi ke luar negeri. Kuperhatikan sekeliling, penumpang pesawat sibuk mengatur travel bag mereka.

Ohya, di sebelah kiri-ku duduk seorang bapak dari travel lain yang juga akan berangkat umrah, sedang di di sebelah kananku duduk seorang gadis cantik yang baru saja lulus SMA, Sausan Rasmiyyah. Aku kaget karena duduk di dekat orang yang namanya sama dengan salah satu adik kembarku. Jam-jam pertama kami habiskan dengan saling bertanya pertanyaan klise, sampai tidak ada obrolan lagi kemudian aku pun jatuh tertidur.

Sekitar hampir satu jam aku tertidur sampai aku mendengar para pramugara dan pramugari mendorong gerobak (?) makannya :D Di pesawat makanan yang disediakan cukup lengkap, dari pembuka sampai penutup :9 Dua kali makan. :D

Selesai makan anganku melayang pada panas terik di Arab Saudi. Pada saat manasik kemarin seorang ustadz berkata bahwa suhu di sana pada saat musim panas seperti ini mencapai 50 derajat celcius. Tidak dapat aku bayangkan bagaimana Rasulullah dan para shahabat tinggal di Negara itu, melintasi kota-kota dengan unta sedangkan matahari bersinar kejam. Juga bagaimana perasaan nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar. Nabi Ibrahim AS meninggalkan istri dan anaknya tercinta di tengah gurun pasir tak berpenghuni; Siti Hajar yang mengelilingi Shafa dan Marwah mencari air untuk anaknya yang tengah kehausan.

Aku pun tertidur lagi (ngantuk euy)

Jam tanganku menunjukkan pukul 7.30 WIB ketika pilot mengumumkan bahwa sebentar lagi akan mendarat di terminal haji King Abdul Aziz. Hatiku deg-degan. Ku lihat layar besar yang terpampang bahwa waktu di posisi geografis sekarang adalah 3.30 (KSA time). Dengan izin penumpang yang berada di sebelah kiriku, aku melihat pemandangan dari jendela pesawat. Kuning. Sangat sedikit warna hijau yang terlihat. Sayang, jendelanya nggak bisa dibuka. Kalau bisa kan seru. *ngarut*

Waktu landing, di layar televisi pesawat menayangkan keadaan landasan pacu. Wah, ternyata banyak tambalannya. Karena banyak tambalannya, burung besi yang kunaiki itu pun akhirnya bergetar-getar saat landing. Capek deh, kenapa sih nggak di-mulus-in aja landasannya? Padahal minyak berliter-liter tapi memperbaiki landasan pacu aja susah. Itu pikirku pertama kali. Kemudian, muncul pikiran: pesawat yang turun aja segambreng, kapan bisa selesai kalau diperbaiki. Belum lagi ukuran pesawatnya. Belum lagi TKI yang datang (?)

Pada saat neksi (alias taxi alias jalan lambat habis pesawat ngerem itu loh) jantungku seakan ingin loncat dari tempatnya. Nggak tahu deh kenapa. Aku lihat ke luar, sebelah kiriku, pohon-pohon melambai, seakan mengucapkan selamat datang. Tak lama pesawat pun berhenti dengan sempurna. Ini dia, tapak pertamaku.

Pintu keluar pesawatpun terlihat, dan saat keluar, wuzzz… Angin kering menerpa wajahku. Puanase. Aku pun tersadar: tidak ada belalai untuk masuk langsung ke dalam airport. Huweh. Ku angkat travel bag yang sangat “ringan” itu, karena tidak bisa digeret. Angin kering tidak berhenti membelai wajah. Benar-benar kering sampai-sampai keringat pun tidak berani keluar. Aku datang!

Anak tangga terakhir pun kupijak. Kaki kanan kudahulukan.

Bismillah.

Labbaikkallah humma labbaik :)

...

Semua jama’ah masuk ke kantor imigrasi. Nah, patut diketahui para pekerja di semua instansi di Arab ini adalah laki-laki. Tidak ada perempuan. Kecuali memang diperlukan, seperti pemeriksa keamanan. Dan ruangannya pun tertutup. Aman deh kalau untuk perempuan disini (insya Allah). Di sela-sela pemeriksaan paspor, bapakku bercerita bahwa itulah (semua pekerja adalah laki-laki) yang ideal. Karena sesungguhnya adalah kewajiban para lelaki untuk bekerja, di luar. Sedangkan para perempuan berkewajiban dan seharusnya berdiam di rumah. Diam bukan tidak mengerjakan apa-apa, tetapi maksudnya di sini tidak keluar rumah. Aku pun tergelitik bertanya, di Indonesia malah perempuannya yang bekerja dan menjadi pahlawan devisa.

“Itulah nak mengapa agama itu dipelajari dengan benar. Seharusnya, kalau mau mengirim TKI, ya yang laki-laki, supaya nggak terjadi kisah-kisah sedih itu. Sudah ada bagiannya masing-masing, laki-laki ya bekerja, perempuan ya di rumah. Jika perempuan bekerja dan membantu rumah tangga, maka itu adalah sedekah baginya dan suami tidak berhak sedikitpun pada uang itu. Belajarlah agama baik-baik, Nak. Supaya kau tahu mana benar mana salah..”

Kalau laki-laki yang dikirim menjadi TKI, bakal nggak ada tuh ceritanya pemerkosaan atau pekerjaan lelet. Selain itu lelaki juga tidak mengalami menstruasi dan setidaknya bisa membela diri lebih baik daripada perempuan ketika hak-hak-nya dilanggar.

BTW, dilarang senyum sama lelaki di Arab. Di negeri asalku yang terbiasa beramah-tamah ini, senyum adalah suatu keharusan (seharusnya). Namun, berbeda di Arab, senyum wanita adalah godaan. Salah senyum ujung-ujungnya ntar diminta nikah tuh. Ada suatu kejadian, seorang jama’ah dari Indonesia, ya berbaju agak ketat, sedang diperiksa di bagian imigrasi. Karena budaya tersenyum inilah, akhirnya dia melemparkan segaris senyum kepada petugas imigrasi. Eh, tiba-tiba paspornya ditahan. Akhirnya petugas travel pun datang mengurusi. Masalah terbongkar: Dia ingin menikahi wanita yang tersenyum kepada dia. Setelah dijelaskan, baru deh ngertos.

Jadilah selama di Arab aku menyimpan nasihat itu baik-baik.

Tapi Alhamdulillah Allah swt. memberikanku sariawan di ujung-ujung bibir yang berakibat: susah senyum selama 10 hari.
Keluar dari Bandar udara, kuperhatikan sekelilingku. Kurekam semua pemandangan. Ku hentakkan tiga kali kakiku ke tanah. Aku ingin kembali lagi. Ku lihat jam tanganku. 8.10 WIB, 4.10 KSA time.

Dan ini saatnya melanjutkan perjalanan ke Madinah :)

2 May 2011

Glance on The Sky #1 (Adisutjipto-Sepinggan)

I've spent my weekend in Balikpapan.

So what?

Dalam masa yang sangat sempit aku disuruh pulang oleh orang tua. Kamis malam dari Jogja, secepat kilat diantar Ushi-chi, kemudian tancap ke Sepinggan. Weeell done.

Sempat kecewa ternyata penerbangan ditunda sekitar 45menit dari rencana keberangkatan 5.05 pm, jadi sekitar jam 5.50 pm WIB. Menggerutu? Ya, karena aku meninggalkan banyak tugas. Financial Management, Business Law. Maaf ya kawans.

Kepulanganku di masa-masa yang, sangat, sempit ini menimbulkan beberapa kekacauan dan simpang siur berita *hadeh*. Udah 5 orang yang bilang kalau aku bakalan dinikahin. Gerr~ Ternyata aku pulang, baru dikasih tahu, tujuannya cuman satu: vaksin meningitis. Oke, ternyata ada rencana untuk menginjakkan kaki di luar. Alhamdulillah. Insya Allah resolusi tahun 2011 ini tercapai :D Sip.

Oke, itu hanya basa basi basi. Yang ingin kuceritakan sebenarnya adalah: berbicara tanpa mengenal lawan bicaramu di bandar udara, dan, pesawat.

Aku bukanlah orang yang dapat berbicara secara lancar, bukan pula orang yang bisa berbicara secara runtut. Kejadian dimulai pada saat aku memutuskan untuk makan di KFC Adisutjipto sambil menunggu datangnya pesawat. Karena tempat untuk makan sempit, akhirnya aku duduk bersama seorang, hem, ibu atau mbak ya? Dia memulai percakapan:

"Mau pulang, Mbak?"

"Iya, Bu."

Mulai dari percakapan sederhana itu meneliti sifat. Dia bercerita bahwa dia adalah seorang peneliti (sesuai dengan gaya bicaranya, misterius. Menurutku peneliti terkadang introvert dan menyusun jelas perkataannya, ilmiah). Sorot matanya menyiratkan bahwa dia lelah, namun ketika kutawarkan bantuan untuk mengurangi beban yang ia bawa, ia memandangku. Aneh. Dia berjalan cepat seolah aku tidak pernah berbicara dengan dia. Di bandara, percakapan basa-basi itu beberapa kali kualami. Apakah memang itu adalah cara untuk sekedar menghilangkan kebosanan? Atau hanya untuk mengisi waktu?

Aku berpisah dengan ibu itu ketika petugas keamanan bandara mencegatku. Hahahay. Yeah, I mean for security inspection. Aku baru saja mengambil buku dari meja ketika si Satpam langsung menyambar buku tebalku. Aku baru saja ingin bertanya mengapa bukuku direbut begitu saja, sampai beberapa saat kemudian aku tersadar, penampilanku seperti orang membawa bom untuk bunuh diri: tas punggung padat, buku tebal. Aku rasa petugas itu berharap aku akan menyimpan bom buku, mungkin?

Setelah lewat dua lapis pemeriksaan, aku langsung menuju WC untuk menuntaskan panggilan alam. Lanjut ke Periplus. My God, aku menghabiskan uang tabunganku :(

Aku suka suasana bandara. Berbagai macam wajah tampak.

***
Dalam pesawat Batavia, Jogja-Balikpapan, aku tenggelam di dalam novel N.H Dini. Sudah lama setelah Argentuil, baru kemudian ada novel lagi. Aku berasyik-masyuk dengan novel, sampai ketika makanan datang (hey, I always wait for this session, eat while at the sky!) Aku memutuskan untuk mengistirahatkan mata dan memakan roti yang disuguhkan. 

Dan Ibu di sebelahku menyapa.

"Mau ke Balikpapan, Mbak?"

"Iya, Bu."

"Kuliah di mana?"

"U-Ge-Em, Bu."

"Oh, anak saya juga di UGM."

Aku sempat berpikir sejenak. Seingatku aku sudah menjawab pertanyaan itu berkali-kali selama empat semester ini. Dan beban itu tidak berkurang, malah bertambah berat. Memang ada kebanggaan ketika menyandang status sebagai mahasiswa kampus kerakyatan, apalagi fakultas kereta api (Ekonomi n Bisnis :P *peace*) Kadang aku takut ditanya, Mbak, korupsinya kapan selesai? Atau Mbak, berarti mbak tahu dong cara menyelesaikan permasalahan ekonomi di negeri ini? Mbak Neo-liberalisme itu apa sih? Hahah~ *miris*

Tapi percakapan bandara adalah percakapan tentang pencapaian diri. Dibalik kata terucap kemudian tersirat sebuah kebanggaan tentang identitas. Percakapan itu tidaklah membahas secara terang-terangan tentang pekerjaan ibu itu, berapa anaknya, apa yang anaknya kerjakan, pencapaiannya. Namun hanya mengucapkan kalimat tertentu, aku sudah mengerti arah percakapan ini. Satu jurus ketika ada orang yang berbicara dan agak meninggi: diam. Aku mendapat banyak pelajaran sih, khususnya dari teknik berbicara. Bagaimana menyelipkan sesuatu tersirat, bahwa kita juga tidak kalah. :D

to be continued

17 November 2010

My 24hour Journey (Part Di Atas Langit-Balikpapan)

Bagian terakhir dalam perjalanan melelahkan melewati empat kota itu. *lebay

Di atas langit menghabiskan waktu sekitar hem.. Surabaya-Balikpapan berapa jam yak?

*ingatingat


...


...


*nyontek  temen sebelah


...


...


BUGH! <-- dilempar kursi ama guru pengawas

=====

Sekian intermezzonya. Tapi suer eh, lupa aku nyampe jam berapa. 

*ngintipwebcitilink 

Oke, perjalanan sekitar satu setengah jam di udara. Aku duduk di seat 18 E, tapi akhirnya tukeran deh ama Mira. Penerbangan GA060 dan jam 6.20. Tanggal 6 November. Aku menghabiskan waktu untuk baca dan tidur di pesawat, tapi akhirnya aku terbangun gara-gara perut lapar dan kepala pening. Aku melihat kartu shopping di kursi. Hem, banyak makanan, tapi aku nggak ngerti mana yang akan dipilih. Susah juga untuk memilih tapi pilihanku jatuh pada nasi-ayam pedas. Mira sendiri pilih mie ayam jawa. Aku pergi ke kabin depan tempat awak pesawat dan meminta. Gerrr~ udah lama disitu pramugarinya bilang "Mbak tunggu sebentar saya panaskan dulu ya makanannya."

Ih, mereka nawarin makanan tapi belum siap gitu. Kesel jadinya. Udah perut keroncongan gini. Aku memutuskan untuk ke Lavatory alias toilet kering mereka. Aku ngeliat kalau di pintu itu ada tanda warna hijau yang artinya "nggak ada orang dan boleh dipake". Aku nanya pramugarinya untuk memastikan,

"Mbak ada orangnya nggak?"

"Nggak ada, orang itu warna hijau."

Ih muntab gila aku ama mbak itu. Aku buka deh pintunya. Eh, pas aku buka, ada orang, cowok lagi! Aku cuman bisa bilang alhamdulillah karena nggak sampai melihat hal-hal yang nggak boleh dilihat sekarang :P

Pengen aku tendang pramugari Citilink itu. Sayang aku udah kebelet deliver something ini. Aku misuh-misuh aja ama mbak-mbak itu. Setelah aku kembali ke tempat duduk, makanan udah ada disana. Terbit air liurku *heemmm... Duduklah aku dengan sopan, memindahkan Micha ke tempat duduk di samping Gigih.

Kubuka makanannya, bungkus alat makannya..

Wah~~

Ada ayam di samping nasi putih. Cacing-cacing di perut nampak gembira dan berteriak semakin keras menyuruhku untuk menyendokkan sesuap nasi ke mulutku. Aku tetap tenang dan membaca doa.

Bismillah

...


...


Amin.

Aku langsung menyendokkan sepotong ayam ke mulutku. Hem~ nikmatnya dunia ya Allah.. Huhuhuhu.. Kusendok nasinya. Eh, koq keras? Aku tusuk-tusuk nasinya, waks, malah behamburan. Aku sendoklah nasi yang udah behamburan itu.

Brrr~

Ternyata itu adalah es Nasi!!

Nasinya dingin, beku, alias belum dipanasin ama pramugaranya! HHHHHHHH!!! Tega bener sih mbak-nya. Aku bilang ke Mira, "Mir, kamu pegang deh nasiku. Dingin nih nggak bisa dimakan.."

Mira memegang nasiku dan bilang, "Wah iya, makan aya ayamnya nad, atau sayurnya."

"Sayurnya juga gitu, Mir. Dingin." kataku

"Yasudahlah. Mau mie-ku?"

Huhuhu.. Mira kau baik sekali... Tapi aku bilang ke Mira ntaran aja.

Rp 35.000 melayang. Aku jadi inget KFC tadi malem :'( Aku makan dengan mengucap doa semoga Allah memberikan aku kenyang di setiap sendok makananku.

Setelah makan, aku berbincang dengan Mira. Ternyata Mira juga orang SumSel. Kalau nggak salah ibunya yang berasal dari Plaju, Palembang. Nggak lama setelah perbincangan, pilot mengumumkan kalau nggak berapa lama lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Internasional Sepinggan. Sip, jarak dari pengumuman ke pendaratan sekitar 15-20 menit, tergantung mode yang digunakan pilot, mau nancep gas atau pelan-pelan asal selamat. Juga tergantung dari lalu lintas udara, kalau lagi lampu merah 200 detik, semakin lama nyampe di Bandara *ngaco


Sekitar 15 menit berlalu ada suara "Landing Position blablable" dan aku dengar mesin pesawat sudah mulai bising. Landasan pacu alias runaway-nya juga udah keliatan. Entah kenapa kalau udah posisi begini aku rada-rada parno. Huhu. Alhamdulillah yep roda udah nggelinding di tanah Balikpapan. Huwaftt... Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dari belakang *canda dink

Kemudian sodara-sodari sekalian. Aku nyampe di Balikpapan. Ketika menginjak tanah, eh, aspal, aku melihat sekeliling dan merentangkan tangan sedikit. Yes! Nggak ada abu! Yang ada hanya bau laut dan semilir angin. Bau khas tanah yang aku senang juga ada, walaupun juga bercampur gas hasil pembakaran. Aku tiba di hometown. Ohya, paling males deh kalau orang nanya, "Nggak pulang kampung Nad?". Aku selalu bilang, "Koreksi. Pulang Kota!"

Masa iya Balikpapan disebut kampung? Nggak terima gila aku.

Berjalan menuju klaim bagasi. Ketika nyampe, conveyor-nya nggak nyala lagi. Dan belum ada barang. Cukup lama menunggu bagasi-bagasi kita. Sambil menunggu bagasi, Rivan menjadi penagih bayaran. Mulai dari makan, carter mobil, tiket bandara. heuheu.

Setelah ambil koper. Aku menemui om Eca.

Menuju rumahku, surgaku.

Aku sudah nggak sabar untuk mandi, makan sepuasnya dan mengganti waktu tidur.

Dan deliver something BIG!

--tobecontinued to part Balikpapan-Samarinda