Liburan Id Adha kemarin sempet banget ke Sulawesi Utara, tepatnya ke Kotamobagu. Sudah lama sekali rasanya tidak menginjakkan kaki ke ke tanah Celebes. Rasanya syukur ini sudah tidak bisa diungkapkan lagi. Tahun ini tahun jalan-jalan bagi saya. Ah, senang!
Melihat Oma sudah semakin tua. Aku takut sebenarnya ketika beliau tidur, bagaimana kalau itu adalah tidurnya untuk terakhir kali? Rumah Oma rasanya kecil untukku yang berbadan super subur ini. Terakhir kali sepertinya sekitar 8 tahun lalu aku tidur di rumah Oma. Tentu banyak yang berubah: pohon manggis, satu-satunya pohon yang pernah aku panjat, "kantin" depan rumah yayi, anak kecil yang semakin banyak -cucu, cicit Oma.
Banyak yang pergi selama aku tidak pulang. Pergi untuk selamanya.
Kakek, Oom, Tante, sepupu.
Saya tahu, bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti dan semua orang pastinya akan mendapat giliran itu. Tapi rasanya baru kemarin aku bertemu dengan mereka itu. Sekarang mereka sudah tiada.
***
Tapi ada perpisahan, biasanya ada pertemuan, 'kan?
Akhirnya saya bertemu dengan teman lamaaaaaaa~~ sekali. Winny namanya. Dia sempat menjadi teman satu kelas saya selama 6 bulan ketika sekolah di Balikpapan, kemudian dia pindah ke Bitung, Sulut. Hanya 6 bulan sih, kemudian dapat kontak BBMnya pun dari Pipit. Cuma bertanya kabar, itupun sekali. Kemudian karena saya bukan BBMers, alias orang yang lengket dengan BBM, kontak-kontak di BBM terkadang hanya menjadi penghias telepon semata.
Sampai kuganti status BBM kemarin, tepat 8 jam sebelum pulang: "Sulawesi Utara: pulang". Aku sudah niat untuk mengirim pesan ke Winny, tapi ku urungkan niat karena batrei sudah hampir habis. Baru aku duduk manis di depan televisi, kemudian telepon genggam bergetar, lampu kedap-kedip berwarna biru: ah BBM. Winny! Panjang umur!
"Kamu dimana, Nad?"
Kemudian aku minta diculik. Dari kawasan Boulevard dia jauh-jauh menculik aku ke Paniki, hampir daerah Mapanget, kemudian kembali membawa aku ke kawasan Mega Mall. Hampir jam 9.30 malam kami baru berada di taksi, entah mau kemana. Tapi akhirnya sih ke kawasan Mega Mall, berhenti di satu cafe.
Ngobrol, dari jam 10 sampai jam 2 malam. Padahal aku harus ke bandara jam 4 demi penerbangan jam 6. Aku akhirnya sih curhat, dia pun begitu. Membicarakan orang itu, aku seperti hidup dalam kenangan. Aku nggak pernah tahu sebenarnya siapa orang itu. AKu bahkan jadi ragu bahwa aku mengenalnya.
Rasanya baru itu aku curhat semuanya. Sedih, senang. Tapi lebih banyak senang karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Winny :)
Bertemu dengan dia di lain kesempatan ini, rasanya baru sadar kalau semuanya sudah berubah. Penampilan Winny berubah, begitupun penampilanku. Yang paling kerasa sih, umur. Sudah tambah tua aja.
Setelah puas mengobrol, kami berjalan-jalan sebentar sambil melihat laut yang diterangi bulan. Winny berubah penampilan luarnya saja, jadi lebih cewek Manado, tapi kelakuan masih Winny banget :p
Akhirnya sih jam 5 pagi ke bandara, pelukan terakhir sebelum pulang. Sambil tersenyum kemudian dia berkata, "Semoga nanti yang ketemu lagi bukan cuma kita berdua, ya, tapi sama yang lain juga,". Aku kemudian mengaminkan dalam hati.
Jam 6, diiringi matahari yang muncul dari horison. Aku melanjutkan perjalanan :)
Cause my daily life is not exactly the same as theirs. It's my story!
Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts
22 October 2013
7 April 2013
Touch Down(town)
Sedianya aku tinggal di Hiroshima, Jogja-nya Jepang katanya. Tapi, daerah aku tinggal itu adalah daerah Gion, Merapi-nya Jogja. Jauh dari peradaban walau ada satu mall gede. Jadi, waktu denger Mina dan Sangjin mau ke downtown, aku mepet-mepet deh pengen ikut mereka. Wkwkwkwk.
SOO~ berjalan kaki ke basu tei (バステイ) alias pemberhentian bus yang jauhnya sekitar 20 menit dari apato. Hujan turun dengan indahnya. Belum sampai pemberhentian bus saja rokku sudah basah, kaos kaki basah. Tapi tetap saja keingintahuan semakin besar. Y 250 * 2 untuk perjalanan downtown vv. :3
Di tiba di Hiroshima Sentral (広島センター) masih berjalan kaki lagi, untuk ketemu Mizu dan Syun~ Karena sudah masuk waktu makan siang, akhirnya memutuskan untuk makan pasta :9 Tentu saja aku pilih yang aman-aman sajo~ Bolognaise. Kalau nggak teliti, bisa sesat di Shopping Arcade! Kiri-kanan, sepanjang jalan, toko semua!
Memang sih porsinya itu masih porsi kecil, dan ternyata ada porsi gede! Belum lagi mereka masih makan pizza sebagai tambahan. Bangkrut dah! Pizza dibagi tiga, untuk yang cewek dan cowok, kemudian pastaku sendiri, habis Y 533 (pasta) + Y 240 (Pizza bagi 3) = Y 773. Mahal? Iya.
Karena ada yang mau tarik uang di ATM, mereka ke combin (convinience store). Aku yang niatnya cuma mau lihat-lihat komik, langsung membeli komik ini pas melihatnya:
Mahal banget! Y 1219. Tapi aku akan berhemat selanjutnya!
Habis dari combin, kita ke Purikuraaa! Salah satu tempat populer untuk dikunjungi! Tempat fotobox yang bakal membuat ukuran mata tampak lebih besar!
Better than expected. Ehehehe. Kalau nggak salah sekitar Y 400. Tapi kemaren sudah ditanggung wkwkwkwk.
Di acara jalan-jalan itu aku jadi fashion police! *padahal baju yang dipakai sendirinya fashion disaster!* Di waktu yang dingin menusuk kulit mereka masih pake yang mini-mini. Aku takjub banget dengan ke-kawaii-an pakaian mereka. Kawaii Style atau gaya imut ini pastinya sudah terkenal. Tapi kalau melihat sendiri itu emang rasanya beda. Rok mini, baju lengan panjang atau coat, dan heels. Berbagai macam heels! Mau pump heels, wedges, stiletto, mary-jane but still heels! Ankle boots with heels and soooo many heellss! Kalau di Indonesia sih menurutku itu biasa, di mall, yang paling juga nanti dari parkiran sampai parkiran saja menderitanya. Karena kemana-mana biasa pake kendaraan.
Lah ini. Di negara yang pake jalan kaki kemana-mana sebelum sampai tujuan, 5-15 cm heels to get everywhere? *clapping hands* Tapi ya itu. Varises bisa dilihat di kaki mereka.
Sepertinya Sangjin kemaren mencari-cari stationery. But it turned out we explored all the stationery shop. Sampe 5 tempat dan satu sama lain agak berjauhan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat stationery yang lain, kita makan es krim! Polar Bear Gelato (ジェラート工房 ポーラーベア) :9
Banyak macamnya: Coffee, Strawberry, Milk-Strawberry, Vanilla, Greentea
Masuk mall lagi habis makan, muter-muter, dan melihat beberapa hal yang menarik.
Iya, kapsul tsunami yang muat -katanya- sampai empat orang. Jadi kalau ada bahaya Tsunami, langsung masuk ke kapsul itu, pakai belt-nya, dan sepertinya (insya Allah) dapat mengapung mengikuti arus air laut. Asal akhirnya nggak ke tengah laut aja.
***
Waktu juga sudah menunjukkan jam setengah 6, dan kami pun pulang~ Dalam perjalanan, aku sempatkan mengambil foto diantara kerumunan orang :)
Sayang sekali karena terburu-buru, jadinya nggak bisa dapat pemandangan downtown yang bagus :'(
Capek jalan, pulang deh :)
Mina yang foto, jadinya dia nggak masuk frame. Ehehehe.
Dingin, tapi menyenangkan!
***
Tips: Selalu bawa air minum dan payung selama spring dan summer. Apapun yang terjadi, siapkan dua hal itu di dalam tas, terutama air minum. Walau dingin, kamu bisa kekurangan cairan. Dan bibir kering adalah hal yang sangat menjengkelkan!
Cek prakiraan cuaca sebelum menentukan mau beraktifitas pada hari tersebut. Memang sih tetap saja Allah yang berkehendak :D Tapi kegiatan yang aku lakukan di atas dan kegiatan nulis blog hari ini adalah kegiatan tour yang tertunda karena prakiraan cuaca yang mengatakan akan hujan di dua hari tersebut (06-07 April). Dan benar. Hujan sepanjang hari~~
SOO~ berjalan kaki ke basu tei (バステイ) alias pemberhentian bus yang jauhnya sekitar 20 menit dari apato. Hujan turun dengan indahnya. Belum sampai pemberhentian bus saja rokku sudah basah, kaos kaki basah. Tapi tetap saja keingintahuan semakin besar. Y 250 * 2 untuk perjalanan downtown vv. :3
Di tiba di Hiroshima Sentral (広島センター) masih berjalan kaki lagi, untuk ketemu Mizu dan Syun~ Karena sudah masuk waktu makan siang, akhirnya memutuskan untuk makan pasta :9 Tentu saja aku pilih yang aman-aman sajo~ Bolognaise. Kalau nggak teliti, bisa sesat di Shopping Arcade! Kiri-kanan, sepanjang jalan, toko semua!
| Itu di kiri Syun, dan Sangjin |
Karena ada yang mau tarik uang di ATM, mereka ke combin (convinience store). Aku yang niatnya cuma mau lihat-lihat komik, langsung membeli komik ini pas melihatnya:
![]() |
| Opening Works of Doraemon |
Habis dari combin, kita ke Purikuraaa! Salah satu tempat populer untuk dikunjungi! Tempat fotobox yang bakal membuat ukuran mata tampak lebih besar!
| Mizu maaf (^^;) |
Di acara jalan-jalan itu aku jadi fashion police! *padahal baju yang dipakai sendirinya fashion disaster!* Di waktu yang dingin menusuk kulit mereka masih pake yang mini-mini. Aku takjub banget dengan ke-kawaii-an pakaian mereka. Kawaii Style atau gaya imut ini pastinya sudah terkenal. Tapi kalau melihat sendiri itu emang rasanya beda. Rok mini, baju lengan panjang atau coat, dan heels. Berbagai macam heels! Mau pump heels, wedges, stiletto, mary-jane but still heels! Ankle boots with heels and soooo many heellss! Kalau di Indonesia sih menurutku itu biasa, di mall, yang paling juga nanti dari parkiran sampai parkiran saja menderitanya. Karena kemana-mana biasa pake kendaraan.
Lah ini. Di negara yang pake jalan kaki kemana-mana sebelum sampai tujuan, 5-15 cm heels to get everywhere? *clapping hands* Tapi ya itu. Varises bisa dilihat di kaki mereka.
Sepertinya Sangjin kemaren mencari-cari stationery. But it turned out we explored all the stationery shop. Sampe 5 tempat dan satu sama lain agak berjauhan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat stationery yang lain, kita makan es krim! Polar Bear Gelato (ジェラート工房 ポーラーベア) :9
![]() |
| Strawberry Gelato |
Masuk mall lagi habis makan, muter-muter, dan melihat beberapa hal yang menarik.
![]() |
| Ular Tangga Doraemon |
![]() |
| Tsunami Capsule |
***
Waktu juga sudah menunjukkan jam setengah 6, dan kami pun pulang~ Dalam perjalanan, aku sempatkan mengambil foto diantara kerumunan orang :)
![]() |
| A part of Downtown |
Capek jalan, pulang deh :)
| Sangjin, Nad, Sasa |
Dingin, tapi menyenangkan!
***
Tips: Selalu bawa air minum dan payung selama spring dan summer. Apapun yang terjadi, siapkan dua hal itu di dalam tas, terutama air minum. Walau dingin, kamu bisa kekurangan cairan. Dan bibir kering adalah hal yang sangat menjengkelkan!
Cek prakiraan cuaca sebelum menentukan mau beraktifitas pada hari tersebut. Memang sih tetap saja Allah yang berkehendak :D Tapi kegiatan yang aku lakukan di atas dan kegiatan nulis blog hari ini adalah kegiatan tour yang tertunda karena prakiraan cuaca yang mengatakan akan hujan di dua hari tersebut (06-07 April). Dan benar. Hujan sepanjang hari~~
3 April 2013
That Journey 1
*meminjam salah satu judul album Rina Eonni
CGK-KUL-KIX
Hiroshima!
A journey that took a lot of time that I forgot how is it to get a proper sleep. Yes, I haven't sleep well during the last week of March.
It's even worse before the real journey.
I slept just before 1 am and woke up before the alarm at 3, it was 2.58 *ahahaha*. Hurriedly taking a breakfast, I went straight to airport. At 4.30, and Papa sent me like I was going to the end of the world *halah*. I checked-in, went to the immigration *hei, it's not a long queue at immigration!, and stay still at gate 6 until a missus greeted me, asking if I go to Kuala Lumpur or not. I answered yes, and she asked more if I just transit there or not. I said yes again and I went to Osaka. She said she was going to Haneda to visit his daughter.
Sudah jam 6.25, masuk pesawat dan kemudian duduk dengan manis di kursi dekat jendela. Aku menghabiskan waktu di pesawat dengan, tidur. Ya tidur. Namun kemudian sebelum turun di bandara LCCT Kuala Lumpur, aku melihat ke bawah. Yah, banyak sekali kelapa sawit tumbuh di sekitaran Sepang. Dimana-mana kelapa sawit :| Sampai bosan ngeliatnya.
Turun dari pesawat? Gila banget panasnya. Perasaan di Indonesia jarang panas kering seperti itu. Aku pergi ke dalam terminal, cek imigrasi, kemudian Sasa bilang dia kenalan dengan orang KBRI Malaysia dan mau banget nganterin kita ke Menara Petronas. Gratis dan pake mobil diplomatik. :D Sampai Suria KLCC, yang jelas isi perut dengan makanan dulu :D Nasi Lemak + Ayam Goreng + Soda = 11,5 RM
Habis foto-foto, kalau mau balik ke LCCT harus ke KL Sentral dulu. Kemudian tanya dengan petugas taksi. Kekeuh banget nggak mau pake bahasa Inggris. Padahal bahasa Melayu eyke kan biasa-biasa aja :] Nggak lama sih, aku sama Sasa akhirnya memutuskan untuk naik LRT. Dari pintu masuk Suria KLCC, sebelum bas stop ada tangga menuju underground. Bayar RM 1,6 untuk ke KL Sentral. Melewati sekitar 5 Stasiun. Kemudian naik bis ke LCCT. Sekitaran satu setengah jam dengan bayar RM 8.
Harus lari-lari karena counter check-in sebentar lagi tutup (dan ternyata memang sudah tutup). Alhamdulillah petugasnya bersedia untuk mengurus. Kemudian lari-dan-berlari lagi untuk sampai di gate keberangkatan. Air Asia X, tujuan KIX :D
to be continued
CGK-KUL-KIX
Hiroshima!
A journey that took a lot of time that I forgot how is it to get a proper sleep. Yes, I haven't sleep well during the last week of March.
It's even worse before the real journey.
I slept just before 1 am and woke up before the alarm at 3, it was 2.58 *ahahaha*. Hurriedly taking a breakfast, I went straight to airport. At 4.30, and Papa sent me like I was going to the end of the world *halah*. I checked-in, went to the immigration *hei, it's not a long queue at immigration!, and stay still at gate 6 until a missus greeted me, asking if I go to Kuala Lumpur or not. I answered yes, and she asked more if I just transit there or not. I said yes again and I went to Osaka. She said she was going to Haneda to visit his daughter.
Sudah jam 6.25, masuk pesawat dan kemudian duduk dengan manis di kursi dekat jendela. Aku menghabiskan waktu di pesawat dengan, tidur. Ya tidur. Namun kemudian sebelum turun di bandara LCCT Kuala Lumpur, aku melihat ke bawah. Yah, banyak sekali kelapa sawit tumbuh di sekitaran Sepang. Dimana-mana kelapa sawit :| Sampai bosan ngeliatnya.
Turun dari pesawat? Gila banget panasnya. Perasaan di Indonesia jarang panas kering seperti itu. Aku pergi ke dalam terminal, cek imigrasi, kemudian Sasa bilang dia kenalan dengan orang KBRI Malaysia dan mau banget nganterin kita ke Menara Petronas. Gratis dan pake mobil diplomatik. :D Sampai Suria KLCC, yang jelas isi perut dengan makanan dulu :D Nasi Lemak + Ayam Goreng + Soda = 11,5 RM
| Nasi Lemak with Fried Ckicken and Soda |
| With Sasa |
Harus lari-lari karena counter check-in sebentar lagi tutup (dan ternyata memang sudah tutup). Alhamdulillah petugasnya bersedia untuk mengurus. Kemudian lari-dan-berlari lagi untuk sampai di gate keberangkatan. Air Asia X, tujuan KIX :D
to be continued
6 March 2013
Surabaya
So, this 24 hours was entertaining.
For the first time, I was all by myself yak :’)
Ke Surabaya lagi, kali ini tinggal semalam untuk menyelesaikan urusan di Jalan Sumatra :D Sekitar jam 7 an kurang diantar Eonni-eonni tercinta melewati hujan ke bandara. Hari itu, tanggal 5 Maret, entah mengapa hujan turun dari pagi, berhenti sebentar, kemudian hujan lagi sampai malam. Seingatku hujan beru berhenti sekitar jam setengah 8. Jogja benar-benar basah saat itu.
Check in, makan, kemudian masuk ruang tunggu.
Ah, banyak wajah oriental di ruang tunggu. China, Korea, dan Jepang. Nyempil satu orang Arab yang duduk di sebelah saya. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah empat orang cewek Korea yang duduk di seberang saya. Sumpah ributnya minta ampun. Serasa dunia milik mereka saja.
Tapi kemudian saya teringat kelakuan di kafe dan tempat makan ketika ingin melakukan panggilan video nun jauh ke Korea Selatan sana. Tempat Rina Eonni bersemayam selama kurang lebih empat bulan ke depan. Koneksi yang eror menyebabkan kami ber-empat (Indah Eonni, Ushi, Mbak Fin) teriak-teriak dan heboh sendiri di kafe yang notabene orang mencari ketenangan sejenak di sana.
Aku tersenyum. Mencuri pandang ke empat orang yang tertawa lepas itu. Oh,btw, sepertinya mereka sedang menertawakan teman Indonesia mereka. Tahu darimana? Walaupun sedikit, sangat sedikit, terjemahan per kata bahasa Korea hasil nonton drama-drama itu berguna :p
Ku buka galeri dan membuka satu foto yang aku ambil ketika pesta perpisahan Rina Eonni. Karena aku yang mengambil foto, maka jelas aku tidak ada di foto itu. Kemudian aku melihat tulisan di ujung kanan bawah: “Saranghaneun Eonni”. Kakak-kakak tercinta. Minus yang di Korea sanah, mereka mengantar aku. Ushi bawa payung, basah-basahan, menjemput, masuk di kos. Indah Eonni yang notabene sibuk harus mengejar proposal, sempat mengurus semua urusan transportasi, termasuk dua kali ke bandara dan menelepon hotel.
Sesaat dunia sepi.
Ushi, Mei udah wisuda aja. Mbak Fina juga udah ngurus-ngurus skripsi sepertinya. Indah Eonni ngurus proposal. Rina Eonni pergi duluan meninggalkan kami. T_T
Pasti masing-masing nanti berada di belahan bumi yang berbeda. Pastinya.
Separation is inevitable. It leaves memories.
Sementara aku hidup dalam mimpiku. Berharap untuk tidak terbangun.
: pesawat menungguku
5 February 2013
30 August 2012
A Place I Left My Heart
Hutan, gunung, sawah, lautan
Simpanan kekayaan..
(Ibu Kita Kartini)
| Hutan Lindung Namang |
Sepenggal memori dari KKN. Biarkanlah aku mengenangnya sebentar.
Hutan dengan pohon Pelawan yang menyimpan sejuta rahasia, tentang kekayaannya, tentang simbiosis di dalamnya dan tentang keindahan yang tak terlukiskan dengan kata. Berniat untuk memamerkan kekayaan ini, Pemerintah daerah merencanakan untuk membuat tempat wisata alam (eco-tourism). Itulah yang kami kerjakan selama disana, membuat masterplan eco-tourism Hutan Lindung Namang.
Tapi yang membuat rindu adalah udara dalam hutan itu, bunyi jejak kaki dan gemericik air, daun tajam yang menggores kulit, cahaya matahari di sela pepohonan, dan bau hujan yang masih membekas.
Ketuyut (kantong semar) belum banyak muncul, karena belum musimnya. Namun bila sedikit teliti, ada banyak tunas ketuyut yang bersembunyi di balik daun yang berguguran. Datanglah sekitar bulan Februari, dimana ketuyut dapat sebesar paha orang dewasa, bergerombol.
Mengelilingi hutan memakai jembatan titian, memaksa seorang untuk tetap seimbang. Beristirahat sejenak dalam pondokan yang tersedia di beberapa titik, kemudian membuat perahu kertas dan menaruhnya di atas alliran sungai. Menatap kepergian perahu tersebut, ke hilir.
| Sawah sebagai Gerbang ke Hutan :) |
Sawah? Ya, sebelum memasuki area hutan, harus melewati terlebih dahulu persawahan dan perkebunan. Sawah yang membentang sepanjang penglihatan, ditambah matahari terbenam dan bianglala; syukur terucap. Masih diberi kesempatan dan kemampuan untuk melihat pemandangan seperti itu. Semua memposisikan dirinya tepat, kemudian mempesona mata yang memandang.
| Matahari Terbenam di Pulau Ketawai |
Jangan lupa melihat matahari yang terbenam di pantai. Siluet kegiatan manusia yang terbentuk akan membuatmu takjub. Saksikan itu di Pulau Ketawai, Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pulau yang berbentuk bulat, berpasir halus di kawasan depan pulau, dan pecahan makhluk laut di bagian belakang.
Jika lelah, ambillah satu buah kelapa, nikmati setiap tetes airnya dan santap dagingnya. Bau asin laut yang dapat kau hirup ketika menghabiskan sore dengan kawan dan biru laut yang cantik selalu akan menyihirmu untuk selalu rindu ketika kau pulang. Kau ingin menjejakkan lagi kakimu disana!
Provinsi kepulauan memang selalu menyimpan berjuta pemandangan laut yang indah.
Seperti yang ku katakan, sepotong hatiku ku simpan disana. Agar bisa kuambil kelak.
22 August 2012
Kuliah Kerja Nyata
Ngakunya suka nulis
Tapi udah dua bulan nggak produktif.
Gimana cerita coba kan ya?
Satu bulan lebih sepuluh hari saya habiskan di
salah satu propinsi kepulauan di Indonesia: Kepulauan Bangka Belitung.
Mengerjakan apa? Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat
Universitas Gadjah Mada, singkatnya KKN PPM UGM. :D
Banyak banget cerita.
Tapi rasanya saya akan mempublish foto saja.
Sambil bercerita sedikit tentang apa yang ada dalam foto itu.
==
KKN itu adalah ketika kamu berlajar bersosialisasi,
tepa selira, tenggang rasa, apalah itu istilahnya untuk menggambarkan pemahaman
kamu tentang dunia selain kampus yang ada. Pengalaman 40 hari yang mendekatkan
sekaligus menjauhkan. Awal dari kesediaan kamu untuk tetap menjalin silaturahmi
atau hanya sekedar ingin berhubungan selama KKN. Masa untuk kamu introspeksi
diri apakah kamu sebenarnya udah layak untuk terjun ke masyarakat atau tidak.
Apakah kamu dapat menempatkan diri untuk berbaur dan melepaskan titel
mahasiswa.
Ataukah kamu dapat membawa nama almamater kamu
dengan segala beban di pundak.
Universitas Gadjah Mada, dengan jaket almamater
warna karung goni.
Walaupun mereka tidak tahu menahu tentang apa
itu UGM, dimana letaknya, mereka hanya tahu kami mahasiswa, yang telah melewati
jenjang Sekolah Menengah Atas yang terkadang pun mereka tidak melewati jenjang
itu. Yang mereka tahu kami berilmu, tahu semua masalah dan membawa
pemecahannya. Dielu-elukan. Karena Bupati Bangka Tengah langsung yang menunjuk
orang-orang terpercayanya untuk mengurusi kami.
Namang, Kurau, KKN UGM.
Sebut nama KKN UGM, dan segala urusan menjadi
lancar.
Rizqi Allah melimpah dalam keterbatasan.
Bantuan datang bertubi-tubi, masalah yang dihadapi selesai satu per satu. Air,
makanan, uang, sarana dan prasarana. Ah. Tak terhitung.
Bertemu orang baru, menyisipkan nama kami dalam
memori mereka, kemudian kami tinggalkan mereka dengan kenangan. Baegitu juga
mereka memberikan kenangan pada kami, budi yang tak terbalas. Memahat nama grup
kami di semua rumah di desa Namang dan tugu hutan lindung.
Insya Allah kami telah memberikan semampu kami.
Jika Allah mengizinkan, aku, ah kami ingin
kembali lagi ke Negeri Serumpun Sebalai. Berlibur. Dan mungkin melihat
realisasi masterplan kami di Hutan Lindung Pelawan. Bertandang ke sister
province, Belitong, dan sekali lagi melihat keindahan pantai Parai Tenggiri.
Bertemu lagi dengan kawan lama, menumpahkan segala rindu yang menyesakkan dada.
==
Namang, Kurau.
Tempat ku jatuh cinta dengan segala
ke-eksotisan pemandangan siang dan malamnya. Pagi dengan udara dan kicauan
burung, siang sedikit terpaan angin kering dengan debu ketika melewati jalan
untuk masuk ke hutan. Membasuh muka dengan air sumur hutan. Sore dengan rona
jingga dan cekikikan kecil sahabat memenuhi rongga udara. Malam bertabur
bintang yang dapat kau gambari rasinya serta lolongan anjing.
Seperti biasa, ku jejakkan kaki tiga kali.
Aku ingin kembali.
Dan saat menuliskan ini, anganku terbang
melayang. Mencium asinnya udara Pulau Ketawai, menelusuri ilalang sepanjang
jalan ke kantor kecamatan, membelai angin setiap perjalanan ketika aku
dibonceng, merekam potret pemandangan hutan, laut, kuburan, kebun; meraba
setiap butir lada yang kupanen, memutar verbatim suaramu. Menangkap semua
kenangan.
p.s: fotonya menyusul
16 April 2012
Lost in Solo (Part 2)
Lanjutan Part I
Jalan-jalan dilanjutkan ke Museum Batik Danar Hadi atau House of Batik Danar Hadi. Cukup berjalan kaki sekitar 10 menit dari Museum Radya Pustaka. Kalau pengen masuk, harus lewat dari showroom batik mereka. Untuk mahasiswa, dengan menggunakan Kartu Tanda Mahasiswa bisa dapat potongan, dari Rp25.000 jadi hanya Rp15.000. Lumayan buat kantong nan kering kerontang ini. Harga sepotong baju di Danar Hadi? Hem, jangan ditanya deh. Nggak cocok sama kantong mahasiswa aja pokoknya. Dari showroom, diantar mbak FO-nya untuk ke museumnya.
Awalnya aku sempat menggerutu, ya, museum apa nih 25ribuan masuknya? (walaupun udah dipotong tetep aja kan harga awalnya mahal. Tapi ketika masuk ruang museumnya, aku berhenti menggerutu. Ternyata disediakan museum-guide untuk berkeliling. Masih, di museum yang hanya aku dan Fika pengunjungnya ini, kami ditanyai lagi oleh para museum-guide: mau ngapain, dalam rangka apa, darimana. Jarang ye ngeliat orang lokal masuk ke museum?
Di museum Danar Hadi ada sekitar 11 kamar/ruang untuk memajang batik dan semua batik di dalam museum ini adalah koleksi Bapak Santosa, pemilik batik Danar Hadi. Kain-kain batik dalam museum semuanya bercerita, tentang cinta, asimilasi budaya, strata sosial, kekayaan. Wah banyak deh. Mau cerita sedikit, ah. Batik itu, awalya hanya berwarna cokelat (muda maupun tua) yang berarti tanah. Tanah dipercaya salah satu elemen pembentuk manusia. Seiring dengan perjalanan, kemudian batik berasimilasi: batik Jepang, batik China, batik Belanda, batik India. Warna batik kemudian juga mengalami banyak variasi, orang di bagian pesisir pantai banyak menggunakan warna cerah, karena rata-rata bergaul dengan pedagang yang membawa kain dari negeri asalnya.
Tujuan, jenis kelamin, dan status juga menentukan (motif) batik apa yang akan dipakai. Misalnya motif Satria Manahan, yang dipakai pria untuk melamar gadis! Ahahahaha. Yah, apalagi kalau bukan agar cintanya di terima (panah). Sedangkan untuk gadis, motifnya adalah Semen Rante, supaya ikatannya nggak lepas alias langgeng :D Ah, untuk menggambarkan bahwa gadis itu telah siap dilamar :)
Hanya sedikit yang aku ingat. Mengingat apa yang terjadi di semua ruangan hanya dalam satu jam? Mungkin hanya orang yang mempunyai ingatan fotografis.
Yang aku ingat kemudian aku dan Fika melihat proses membatik di ruang workshop, dan juga ikut membatik :D menggambar pola, memegang canthing, melihat proses batik cap, berfoto-foto. Kemudian aku teringat harga sepotong baju di showroom tadi. Well, handmade, nggak salah kalau biayanya mahal. Lagipula pekerjaann tangan memang harus dihargai, belum lagi usaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan untuk, wah, mungkin ada ratusan pekerja yang bekerja siang itu. Satu meter kain saja butuh waktu proses yang lama agar menjadi batik yang indah. Salut deh.
Memang Solo tak lepas dari pusat batik.
Lalu aku bertanya pada guide mengapa batik dipilih UNESCO sebagai salah satu cultural heritage. Alasannya sih ada enam, tapi yang aku ingat: bahwa pemerintah telah berusaha untuk melestarikan batik dan batik telah menjadi tradisi di Indonesia (batik tulis, ya).
Aku semakin ingin keliling Indonesia dulu. Bangga-nya minta ampun deh.
Kalau gini jadi ingat Papa bercerita tentang enaknya hidup di Indonesia:
"... dimana lagi hidup bebas menjalankan agama masing-masing. Kesana-kemari luas, memang sih berat di ongkos. Banyak sekolah (PT) bagus, cari uang mudah ... Asal kau sukses..."
:D
Sebelum pulang, diriku membeli satu gantungan kunci lumba-lumba dari kain batik :D
Perjalanan masih panjang :D
2 April 2012
Lost in Solo (Part. I)
Long weekend kemarin Nad melanjutkan resolusi tahun ini: 5 kota (+10 kota, insya Allah). Kali ini rencana mendadak ke Solo bersama Fikabu. Sebelumnya sih Nad cuman rencana sama Adel untuk ke Solo. Tapi nggak jadi karena Adel punya kelas pengganti hari Sabtu pas rencana jalan sambil nginep itu. Pas malem tanggal 23 Fika BBM Nad tanya apa Nad jadi jalan hari Jum'at, nad bilang nggak jadi. Trus Fika ajak Nad untuk pergi ke Solo hari Sabtu-nya. Yah, dengan segala keriangan hati, Nad iya-kan saja ajakan Fika itu. :D
Padahal hari Sabtu ada kuliah pengganti Sosiologi-Politik.
Tapi tawaran ke Solo dengan guide seorang yang mahfum sejarah, pastinya menyenangkan. Jadilah saya skip saja kelas berdurasi hanya 100 menit itu.
Dengan jalan-jalan sampai 12 jam.
Bangun jam setengah lima, shalat, leyeh-leyeh sebentar, trus bersih-bersih dan mandi. Ah, biasa deh, kalau mau jalan-jalan pasti deg-degan. Nggak sabar pengen ke stasiun kereta api aja. Jam 6 pas Nad dari kost, ngebut ke Stasiun Lempuyangan, rencana naik Prameks ke Solo.
Bareng Fika.
Sampai di stasiun Lempuyangan, Nad malah sudah susun aja rencana semester depan pengen jalan-jalan ke mana aja. Keliling Jawa. Pasti menyenangkan. Masa udah berada di tanah Jawi tapi nggak pernah mengeksplor kekayaan pariwisatanya. Sejak pariwisata jadi passion Nad, keliling Indonesia rasanya jadi sedikit bagian dari mimpi Nadiyah. Sambil nunggu Fika yang belum datang, Nad melirik ke sekeliling. Pasti seru perjalanan kali ini. :)
Setelah Fika datang, kami ke loket untuk membeli tiket, harganya Rp.10.000 sekali perjalanan. Perjalanan Jogja-Solo ditempuh sekitar 45-60 menit, tergantung seberapa dalam injakan gas sang masinis untuk melajukan kereta *kereta atau mobil nih*. Ah, dasar jarang naik kereta, Nad selalu takjub, sekaligus ngejek-ngejek, kepada salah satu mode transportasi Indonesia paling tua ini. Well, rel kereta masih peninggalan Londo, kemudian kereta yang udah karatan, belum lagi jadwal yang jam karet.
Memang anak fakultas Ekonomika dan Bisnis, yang dibicarain selama nunggu kereta di peron ya sekitar transportasi Indonesia dan imbasnya pada kehidupan berekonomi Indonesia. Mulai dari mimpi untuk membangun seperti shinkansen di Jepang, sampai hanya ide untuk membuat sistem kereta api di Indonesia lebih bagus.
"Kerjaannya anak manajemen operasi, kan?" kata Fika.
Aku pun mengangguk. Iya, itu kerjaan bidang manajemen. Interdisipliner tentunya. Kami pun terdiam membayangkan kapankah saat Indonesia mempunyai shinkansen. Semoga tidak akan lama lagi dan kami masih hidup untuk melihat mimpi saat ini jadi kenyataan. Amin.
Kereta ngaret 20 menit dari jadwal yang tertera di tiket. Nggak ngaret nggak rame.
Kereta Prameks Jogja-Solo di peron dua. Emang sih naik Prameks ini untung-untungan, kalau dapat tempat duduk alhamdulillah, nggak dapat juga alhamdulillah. Semoga jadi kuat tangannya untuk pegangan erat di kereta ntar.
Masuk. Rebutan. Senggol-senggolan.
Fika udah berpengalaman, dan dia dapat tempat duduk. Aku mendapat tempat duduk karena belas kasihan dari bapak yang tak tega membiarkan aku berdiri dengan tangan yang tak dapat menjangkau pegangan di langit-langit gerbong.
Aku duduk, tapi jauh dari Fika :'(
Dan selama perjalanan diriku BBM-an dengan Onii, yang berkata bahwa Colette Valois mirip dengan Ayu Ting-Ting. Gerr.. Kereta api memang menyimpan sejuta cerita. Dari rindu, lelah, senang, cinta, dan... misteri.
Sampai di Solo, Fika langsung membuka trip-plan-nya. Pertama akan ke tiga museum yang letaknya berdekatan: Museum Radya Pustaka, Museum Danar Hadi (House of Danar Hadi), dan Museum Pers. Turun dari kereta, langsung ke terminal bis dalam kota-nya Solo. Mungkin trans-solo kali ya namanya. Tujuan Museum Radya Pustaka. Rp.3.000 seorang.
Sampai di terminal seberang museum, jadi kami harus menyebrangi jalan 4 lajur. Solo kota kecil namun jalan raya-nya 4 lajur! Balikpapan saja beluuuumm... :'( Solo termasuk kota bersih dan indah. Pedestrian atau tempat pejalan kaki-nya pun lebar dan ditanami pohon-pohon rindang. Tapi anehnya motor dan mobil pun leluasa untuk berlalu-lalang di trotoar X(
Setelah sedikit bertanya, kami mengelilingi pagar tinggi sekitar museum dan melihat beberapa patung di pagar itu. Nakula, Sadewa. Ah aku kira sepanjang pagar akan dihiasi oleh pandawa lima, dan asyik mencari sisanya, Yudhistira, Bhima, Arjuna. Ternyata tak ada =_=". Sebelum memasuki wilayah museum, ada dua meriam yang dipajang. Aku
mendekatinya, dan Fika berkata, “Mau difoto, Nads?”
Nads? Iya, sejak aku selalu
menambahkan ‘s’ ketika menyebut namanya, Fika juga terikut. Aku pun mengiyakan.
Aku pun bergaya “Serang Belanda!” :p
“Fika, ini meriam beneran, ya?”
Aku bertanya.
“Iya Nad, itu kan logam.”
Aku lalu melihat moncong
meriam, berfikir berapa banyak peluru (? Atau apa sih ya? Canonball bahasa
Indonesianya apa?) yang telah ditembakkan dari meriam ini. Aku tak suka perang,
ah lebih tepatnya aku tak suka keadaan yang mengakibatkan menang-kalah: debat,
negosiasi, perang. Hanya membuat salah satu pihak terkadang menjadi sakit hati
(ada yang legawa sih) ketika kalah. Setelah bergantian berfoto-foto di meriam,
kami kemudian masuk ke dalam kawasan museum.
Banyak artefak peninggalan
sejarah yang aku lihat dari depan gerbang yang ditaruh di depan pagar museum:
alu, lesung, gupolo (dua penjaga gerbang). Tak sabar untuk memasuki museum,
kita berdua akhirnya mempercepat langkah ke gerbang masuk. Sesampainya disana,
eh masih tutup. Alhamdulillah, ketika melihat jadwal, hari Sabtu bukan dalam
daftar hari museum ditutup. Kami adalah pengunjung pertama! Sambil menunggu
museum buka, aku memutuskan untuk melihat-lihat alu dan lesung. Aku raba
permukaan alu, terlihat dari bentuknya saja aku membayangkan alat yang mereka
gunakan pada zaman dahulu kala untuk mengangkatnya, dan membuatnya.
Tak lama kemudian pintu museum
dibuka, walau pak penjaga loket belum disana, aku dan Fika sudah nongkrong saja
disana. Tiket masuk seorang Rp2.500, dan izin untuk membawa kamera Rp5.000.
Kapan ya, terakhir aku ke museum? Seperti biasa, dalam rumah Limasan ini,
Gupolo selalu ada. Kemudian ada beberapa arca di luar. Ah, ada seorang dewi
yang mempunyai banyak tangan, sayang aku lupa namanya, kemudian dia membawa
beberapa benda di tangannya tersebut, salah satunya adalah kepala gajah, yang
artinya kecerdasan. Di arca tersebut sang dewi terlihat telah mengalahkan
sesuatu. Ah, mungkin aku akan kesana lagi untuk melihat nama dewi itu.
Masuk ke dalam rumah, ada
seperangkat wayang. Ah, ini dia, aku tak pernah menonton Wayangan. Parah. Padahal
aku sudah berada di Jawa. Kata Fika wayangan pasti disajikan dengan bahasa Jawa
Kuna, yang dia sendiri kadang tak mengerti artinya. Apalagi aku. Bahasa Jawa
Ngaka aja aku belum fasih. Parah, sekali lagi parah. Tak ada tercetak nama-nama
di wayang tersebut, aku jadi hanya bisa mengira-ngira. Berlanjut ke tempat
senjata khas Jawa: Keris dan Warangka-nya. Keris dan sarungnya. Betapa
sakral-nya keris-keris dalam kehidupan orang Jawa, sehingga ada beberapa keris
ketika malam 1 Sura dicuci dengan kembang tujuh rupa. Pembuat keris pun
dianggap sakti mandraguna. Kita pun tahu beberapa pembuat keris, Mpu Gandring
salah satunya.
Dari bagian keris ke bagian
perabotan: piring dan segala macam. Piring-piring tersebut ada yang bercetakan
foto, dan sebagian ada yang bertuliskan bahwa orang yang dicetak dalam foto itu
adalah yang meninggal. Beberapa foto berukuran besar juga dipajang,
menggambarkan kegiatan orang Solo zaman dahulu yaitu membatik, membathik lebih
tepatnya. Kemudian ada guci berwarna merah yang memikat pandangku. Aku melihat
guci itu dengan seksama dan membaca keterangannya: “Hadiah dari Napoleon
Bonaparte”. Aku penasaran, apa Napoleon pernah ke Indonesia?
Beruntung diriku bersama orang
pecinta sejarah, kemudian Fika menjelaskan: “Nggak, Nad, dia nggak pernah ke
Indonesia. Well, zaman dulu, penguasa daerah-daerah kolonial kan diberi semacam
hadiah begitu dari ‘atas’, yang memberikan hadiah ini, adiknya”. Dan mulutku
membentuk huruf ‘o’ besar. Aku kira Napoleon pernah bertandang kemari. Walau
pada zaman dulu.
Pindah ke ruang tengah yang
berisikan alat musik Gamelan dan beberapa perlengkapan kerajaan, seperti baju
beskap, topi tentara, alat untuk mengangkut putri, dan sebagainya. Aku hanya
bisa terkagum-kagum tetapi di satu sisi juga miris. Museum ini sebenarnya
ditampilkan ala kadarnya. Seperti kurang diurus. Fika bilang koleksi museum ini
berkurang, karena beberapa kali dicuri. Ah, lemari untuk etalase barang-barang
pun sama tuanya dengan lemari Oma. Mengapa tak diganti yang baru saja?
Beberapa orang yang melihat
kami kemudian menyapa dan bertanya: darimana asalnya, mengapa kemari, dari
jurusan apa. Ya kami jawab saja kami dari Jogja, dari UGM; kemari karena ingin
lebih mencintai budaya sendiri (duile...) dan dari jurusan IE dan Manajemen.
Sepertinya mereka heran dengan dua gadis muda yang berkeliaran di museum.
Indonesia pula. Mungkin yang biasa meramaikan museum ini adalah turis asing dan
kunjungan dari anak-anak SD yang ribut namun tidak mendengarkan, dan beberapa
heran mengapa kami dari ekonomi masuk ke museum, mereka menebak bahwa kami dari
jurusan Sejarah, dan ke museum untuk mengerjakan tugas.
“Kalau bukan kami, Pak, siapa
lagi yang mencintai budaya Indonesia?”
Lanjut ke bagian belakang
museum, yang dipenuhi arca dan miniatur-miniatur bangunan. Rumah Limasan
(semuanya simetris! Baik bentuk bangunannya, peletakan pilar dalamnya dan
sebagainya), Astana Imogiri (aku selalu merujuk pada Astana Giribangun-nya pak
Harto! Ya, ya, ya... Kuburan raja-raja
berundak dan mempunyai tangga menanjak yang sangaaaaaaat panjang, setiap
ketinggian menandakan seberapa tinggi jabatan mereka di zaman terdahulu. Aku
hanya bisa mengucap waw lagi) dan menara pertahanan (lima lantai, segi lima,
untuk pasukan memanah!). Sambil aku melihat-lihat, Fika menjadi tour guide yang
handal, menjelaskan setiap bangunan, fungsinya dan makna dari bentuk tersebut.
Beberapa peninggalan juga seperti mata uang yang dulu dipakai dalam perdagangan
di zaman kerajaan. Halaman belakang dipenuhi arca yang bagian-bagiannya tak
lengkap dan beberapa prasasti, seperti Ganesha yang tidak mempunyai belalai.
=_=”
Balik ke dalam baru Fika
menjelaskan tentang Gamelan dan cara memainkannya. Fika yang pernah ikut
Karawitan fasih menjelaskan satu-satu. Ah, coba saja pelajaran sejarah
semenarik ini. Pasti akan melekat di otak. Beberapa yang Fika jelaskan adalah
tentang perjanjian Linggajati, politik adu domba Belanda yang berusaha memecah
belah kekuatan Indonesia. Akh. Saat itu belum ada kata “Indonesia”, yang ada
adalah pribumi dan asing. Jika aku hidup pada zaman dahulu, apa yang aku
perbuat? Ketika berada di ruang tengah, fantasi-ku muncul lagi, bagaimana kalau
dulu, ruangan ini sebenarnya adalah ruang untuk berdansa, kemudian untuk
pertemuan Meneer-meneer, perdebatan, pertengkaran, romantisme (halah). Ya,
rumah ini adalah saksi bisu.
Puas melihat, kami ke
perpustakaan. Banyak naskah kuno, namun kami tidak diizinkan untuk membukanya. Masih ada inventarisasi katanya. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Penjaga perpustakaannya membantu kami untuk memilih buku yang akan kami gunakan. Kemudian sambil beliau mencarikan buku tentang batik dan buku tentang kebudayaan Jawa. Ada beberapa halaman tentang kepercayaan orang Jawa, misalnya tentang anak-anak yang perlu "treatment" khusus atau diruwat/dibersihkan agar tidak diambil oleh Batara Kala dan hidup menderita atau sukerta, salah satunya adalah anak laki-laki tunggal yang disebut Ontang-Anting. Belum lagi yang namanya kembar perempuan, empat bersaudara perempuan semua atau lelaki semua... Banyak pantangannya :|
Kebudayaan Jawa selalu menarik bagiku, baik dari aspek bahasa, mata pencaharian (psstt... para Priyayi menganggap berdagang adalah suatu hal yang rendah, sehingga mereka menjauhi pesisir, hidup di tengah kota/daratan dan hidup dari pajak tanah! *CCM story*), seni, agama (Kejawen), ah, tak habis-habis jika terus digali dan dibuat suatu buku. Bahkan buku berbahasa Belanda yang kami temui, yang membahas tentang tanah, rakyat dan kehidupan orang Jawa pun terdiri lebih dari dua puluh jilid. Ensiklopedi menurutku.
Sehabis dari perpustakaan, kami pun bersiap menuju tempat selanjutnya. Museum Batik Danar Hadi. Sampai kemudian aku melihat dua patung setengah badan dari pemilik rumah yang kemudian menjadi museum ini. Mereka ditempatkan di tengah dan memandang jauh ke luar museum.
Kami akan melanjutkan kebudayaan ini :)
*fotonya nanti ya :D tunggu Fika :D
19 February 2012
Dangerously Beautiful Trip! I
Bangka, where the beach is more than meet the eye :)
Well, lovely weekend in Bangka, when all my friends and I have to do was doing survey for our social compulsory program.
My route was Sepinggan-Soetta-Depati Amir PP. 3 hours of flight and 1 hour waiting in the airport. Saya pergi ke negeri antah berantah, yang katanya akan dijemput Atuk -baca seperti Upin dan Ipin memanggil Atuknya yaa. Antara u dan o :D- yang juga lupa penampakan saya bagaimana. Beliau hanya bilang harus telpon ketika sudah sampai, dan masih menanyakan saya pakai baju dan jibab apa. What an old day! :)
Penerbangan pagi, seat dekat jendela, pesawat NG, flight attendant yang saya ingat benar wajahnya -ntah dia mengingat saya atau tidak diantara ribuan orang :p, dan berdoa, harap-harap cemas supaya makanan di pesawat adalah khas Indonesia. Karena penerbangan pagi sebelum ini saya diberi omelet-nggak-matang-dan-hambar, kentang rebus, tomat panggang, saos tomat, yang hanya saya cuil. Wek. Cacing di perut saya demo. Kemudian saya melempar pandang ke luar.
I hate airports. I just love the flights. Care to ask me why, huh?
Kali ini saya akan memulai tour 5 kota :) Saya pun mengeratkan belt, dan bersandar ke jendela. Ngantuk. Perlahan pesawat mulai naksi (serius, apa ya istilah bahasa Indonesia-nya?) menambah kecepatan, dan kemudian terbang.
Seperti apa Bangka itu ya? Aku hanya mendapat gambaran tentang Belitong, dimana batu-batu besar bertebaran di pantai, pasir putih, dan, panas. Ku pandang punggung tanganku yang menghitam, kemudian ku tarik sedikit lengan bajuku. Yeah, belang. Akibat paparan sinar matahari Jogja serta berjalan-jalan dan memburu spot bagus untuk dijepret ketika siang bolong di Balikpapan. Walhasil bukannya merawat diri malah menghitam-legamkan diri. Anak pantai nggak hitam bukan anak pantai namanya.
Petunjuk keselamatan terbang mulai ditayangkan, dan hatiku berteriak "Onni, I have flown with this type of plane few times, ternyata :p. I just thought it's the old one." Plugged the headphone and start to watch "Just for Laughs, Asia". Hilarious! I also saw Korean movies titled "Unstoppable Family" if I'm not mistaken. Lebih gila daripada acara komedi itu. =,=" Aku tidak menontonnya sampai selesai dan I'd like to download it but don't know how.
Ah, makanan di pesawat? Lumayan. Ketupat + Opor Ayam. Pilihan lainnya Nasi + Rendang Sapi. Itu baru masakan khas Indonesia! Bukan Omelet + Kentang Rebus! Lidah aja udah nggak sesuai sama lidah orang Indonesia. Tolong dipikir dong nggak semua orang suka omelet yang nggak garing itu ama kentang rebus. *loh koq marah*
Tidak terasa penerbangan hampir dua jam hampir selesai, dan aku bakalan menanti sekitar dua jam di ruang tunggu, ehm, kulihat boarding pass, F7. Ah, uang saku ini mungkin akan aku belikan buku dan secangkir kopi es. Cukuplah untuk membunuh rasa kantuk. Kemudian pesawat landing, turun, naik bis, berdesakan dengan banyak orang, lapor pindah pesawat, naik eskalator dan melihat duo maut: Starbucks dan Periplus.
Mocca Frappuccino :9 dan Paulo Coelho's novel!
Selesai membeli semuanya, berjalan prok prok prok dan aku pun seorang kapitan *halah*
Aku berjalan ke ruang tunggu. Sambil memotret iseng bapak yang membersihkan jendela. Aku niatnya foto diam-diam untuk dijadikan seperti gambar berpuisi, tapi ternyata ada blitz-nya. Malu banget kalau bapaknya tahu aku ambil gambarnya dia. Eniwei, ini penampakannya:
Antara pantas nggak pantas ya memajang foto ini =="
Tapi sebenarnya mau nangkep muka beliau, supaya ada penghargaan lah.
Satu jam menunggu, akhirnya saya masuk pesawat juga. :) Yang membawa saya ke negeri antah berantah :D
Aku berjalan ke ruang tunggu. Sambil memotret iseng bapak yang membersihkan jendela. Aku niatnya foto diam-diam untuk dijadikan seperti gambar berpuisi, tapi ternyata ada blitz-nya. Malu banget kalau bapaknya tahu aku ambil gambarnya dia. Eniwei, ini penampakannya:
| Maaf ya yang kepotret bagian belakang |
Antara pantas nggak pantas ya memajang foto ini =="
Tapi sebenarnya mau nangkep muka beliau, supaya ada penghargaan lah.
Satu jam menunggu, akhirnya saya masuk pesawat juga. :) Yang membawa saya ke negeri antah berantah :D
9 November 2011
France!
"Le jeu commence!"
"Je m'apelle, Marshall."
(Barney and Marshall - HIMYM 7 e9, Disaster Averted)
If you don't know the meaning, just ask Google.
Since I could pronounce "Je t'aime" properly, I have fallen in love with this country, the culture, the language, the history, the museums, the lalala~ you named it!
Especially when it's written in a novel by Hanum Salsabiela and Rangga Almahendra (psstt.. I'd like to take the course he teaches at my faculty :) Maybe next term?) 99 Cahaya di Langit Eropa. How would I translate the title? 99 Lights at European Sky? Nah. I even didn't know about the novel until I stalked. Yes stalked. Nowadays, Facebook becomes a place where you get information besides library. I was curious enough to know Mr. Rangga Almahendra whose friends with a manager @KTM, Mr. Julian Legazpi, gave us, the student of FEB, lecture at MM UGM. Heard that Mr. Rangga has finished his postgrad at Vienna at such young age, I was so interested.
So after that, I planned to search him on internet.
Find him, and him.
Read the information, add as friend. Done.
A night passed and, voila! He confirmed. Now see the scretch on the wall... Oh wait, he wrote a book? With his wife?
Thumbs up.
I opened the link, went to the page. It didn't take time too long until I decided to buy. Online. Right after I read the comment. Sent order, waited for reply, sent the money, got the book. Just 3 days after the lecture. It's special because they gave me their signatures!
I read the book. I cried.
This book touched my heart, the France part. I envy.
If you read The Da Vinci Code by Dan Brown, and Autumn in Paris by Ilana Tan, you know that books are the same, fiction, ok, Brown's is sci-fi (is it?) But 99 Cahaya di Langit Eropa? It's a knowledge, maybe people didn't know until they read the novel.
Why French loves their culture. Now I know that French barely use English!
What part of France you have to see while in there.
What's so interesting about France and the riddle there, the history.
What's hidden in the heart of France, Eiffel, Arc de Triomphe.
I used to hate Napoleon, just love his poems, but now, because of the novel, I started to look for his biograph.
Mezquita, Hagia Sophia, Kara Mustafa Pasha, Rondo Alla Turca, Mozart, Turkey, Cordova.
All I could do was murmuring, "Oooh!", "Ah!", "Hhhmm?", "Is it?"
They trailed the evidence, that Islam left something, not something, but maaanyy things in Europe, and it exerted an influence of European culture, history. They describe the places and I felt like I was the third party, who saw their journey.
I also remembered what Mr. Taufikurrahman said in Shariah Economic Discussion:
"If you have a chance to see the world, try to compare Islamic civilization and others. You will see that other civilization are nothing compare to Islam's."
I know. We have ever ruled 2/3 of world and shining the world, when the 1/3 was the dark age, and they, the western, say, in the middle-age.
Back to France. I slowly learn French. Slowly, because I learn by myself. Also other language I used to hate, German. They say I'm crazy to learn so many languanges then learn about Indonesian folk songs, folklores, folkdance as well, crazy to dream to go around Indonesia. Yes, I am, crazy.
France is my first destination in Europe if I have a chance to go around the world.
I want to see by myself. Because I don't believe that France is good enough to see :p
Amin.
![]() |
| Flag of France, I painted it by myself ^o^ |
1 August 2011
Part Four : Truth or...
Day 2, June 30th 2011
Shubuh, 2.30 am KSA
Kriiiinggg…!
Telepon kamar berbunyi.
“Hmm?”
“Ayo siap-siap. Papa udah mandi nih.” Sahut suara di seberang sana.
“Ya…” Aku pun menutup telepon. Dengan mata setengah tertutup aku menyuruh dua adikku untuk bangun dan mandi. Ampun deh, kalau mereka berdua mandi lama banget. Jadinya aku suruh duluan.
Belum rela melepaskan kepala dari bantal.
Capek sih, tapi tetep aja rasa capek itu dikalahkan oleh rasa ingin ke masjid, berbaur dengan orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Well, selain keluargaku maksudnya. Tubuhku mendapat 30 menit tambahan untuk tidur ayam, setelah itu giliranku untuk mandi. Niatku, menggosok gigi dengan air hangat. Setengah terpejam diriku menarik keran ke atas. Yeah, kemalasanku itu ditegur secara langsung oleh Allah: keran yang kutarik ternyata mengarah ke air panas. Karena sempat memejamkan mata, aku tak tahu air meluber. Sip, tangan terbakar. Mataku langsung melek.
Mandi.
Berganti kerudung, jilbab.
Ke kamar papa dan berbarengan keluar hotel dengan abang yang masih terkantuk-kantuk. Gemas rasanya melihat adik lelaki satu-satunya itu. Wajahnya persis denganku, dan badannya, montok berisi. Kalau melihat sifatnya, aku sendiri kadang malu. Dia punya hati besar untuk memaafkan, namun tidak mau kalah :D Trus, kalau dirasanya orang itu ganggu hanya sekedar untuk buat jahil aja, atau nggak ada kepentingan, Masya Allah cueknya :D Kagum dia bisa milih mana yang penting atau nggak. Peka banget lagi ama keadaan, dewasa deh dari aku.
Seneng rasanya kalau minta peluk ama dia, dikasih pelukan hangat.
Tanpa pamrih.
Well, sembari memikirkan hal itu aku turun dengan lift. Sebelum keluar hotel, sekilas aku melihat sesuatu di jalan sebelah kanan. Teroreeett: The Body Shop! Aha! Alhamdulillah akhirnya bisa membeli lipbalm. Bibirku kering kerontang, sariawan tambah parah. Yah, mungkin ntar Dzuhur baru minta deh ama bapak nan ganteng rupawan :)
Shubuh jam 4.04 dan sekarang masih jam 3.00.
Berjalan kaki bersama keluarga, ke masjid. Jarang-jarang sih selain tarawih, sholat Id Al-Adha ama Id Al-Fitri. *miris* Abang dan Papa berjalan ke pintu masuk laki-laki, dan aku hanya menatap punggung mereka berdua. Papa memegang tangan abang dan muncul pernyataan di benakku, aku dulu juga begitu :)
Aku, si Kembar, Mama dan oma masuk di pintu 16, kalau nggak salah pintu Umar bin Khatthab, CMIIW :D Diperiksa-periksa tuh ama polisi wanitanya. Eniwei, nggak boleh bawa handphone berkamera dan kamera disini. See, sebenernya yang nggak boleh difoto disana adalah makhluk hidup, tapi kalau arsitektur masjid sih nggak apa. Kalau ketahuan bawa kamera ya akan diambil sama polisinya. Yang bawa uang juga cuma papa, dan yaa kalau bawa uang nggak usah banyak-banyak, kan niatnya mau ibadah, bukan belanja-belanja.
Begitu masuk ke dalam masjid, aku hanya bisa terpukau, dan menggigil. Dingin banget disana. Penyejuk ruangan itu menyatu dengan pilar-pilar penyangga. Al-Qur’an bertebaran dan bertong-tong air zam-zam tersedia untuk semua jama’ah yang kehausan. Aku menengadah, arsitektur khas timur tengah. Asma Allah tertulis dimana-mana, kubah masjid yang bueesaarr dan itu loh, desain belang-belang. Ntah bagaimana aku menjelaskannya. Bingung.
Ah, masjid masih sepi.
Kami mengambil tempat yang beralaskan karpet tebaaal. Huwah, halus, bersih. Hidungku menghendus, hatiku bersorak. Tidak ada debu cuy! Bebaslah aku dari penderitaan bersin-bersin sepanjang Shubuh. Alhamdulillah duduk di dekat pilar. Langsung aku mengambil mushaf dan mulai membaca. Sebentar-sebentar aku bersyukur, mengagumi, takjub. Aku disini, dimana sekitar kurang lebih seribu empat ratusan tahun lalu para shahabat, kaum muhajirin dan anshar, berkumpul untuk mendengarkan ajaran dari Rasulullah. Tempat iman diuji dan ditempa, tempat untuk menyusun strategi dan tempat dimana Rasulullah tinggal bersama ‘Aisyah.
Kemudian, ada ibu muda bersama anaknya yang masih kecil datang dan duduk di sebelah mama. Waw, wanita ras Arya emang top markotop dah. Idung mancung, bulu mata lentik, tinggi dan mempunyai tenaga kuda. Tentang yang satu ini ku buktikan ketika berada di Makkah. Nantilah akan kuceritakan itu.
Setelah rangkaian surah Ad-Dhuha sampai An-Nas kuselesaikan, kututup dan kucium mushafku. Aku menatap anak kecil yang ditidurkan di karpet. Waw, tentu hebat wanita muda ini menyiapkan segalanya dan pergi ke masjid untuk beribadah. Tebakanku, dia bukan orang yang berumrah. Karena dia membawa tas (bermerk euy) yang diisi susu anaknya, makanan anaknya, dompet, handphone dan sesuatu yang bergemerincing, mungkin kunci. Ngintip? Iya. Soalnya penasaran. Apalagi untuk menenangkan anaknya dia perlu membuka tasnya berkali-kali dan mengobrak-abrik isinya.
Selang adzan pertama dan kedua cukup lama sehingga aku memejamkan mataku sebentar dan berusaha keras untuk tidak jatuh tertidur. Gaswat kalau tidur karena aku tidak tahu dimana tempat untuk mengambil wudhu. Dan tidak ada jaminan aku akan kembali ke tempat dimana keluargaku berkumpul. Belum lagi bersinggungan dengan orang-orang yang bertubuh besar.
Setelah berkali-kali tidur ayam, akhirnya adzan yang ditunggu datang juga. Ah sebelum itu Papa sudah memberitahu kalau sebelum bacaan surah pendek akan ada jeda, dan pada waktu tersebut para ma’mum membaca surah Al-Fatihah. Memang berbeda dari biasanya, tetapi itulah yang benar :) Shubuh selesai sekitar jam 5 KSA dan kami sekeluarga langsung menuju hotel kembali.
Tidur.
Karena jam 7 bersiap ke Makam Rasulullah dan para Shahabat serta maqam Baqi.
***
Masih dengan perasaan melayang karena adaptasi tubuh terhadap perbedaan waktu, aku mencuci muka, gosok gigi. Waks, sariawan tambah parah. Karena tidak ada vitamin C maka aku akhirnya meminum air banyak-banyak. Yeh, ternyata pelit sekali manajemen hotel disindanggg… (baca: di sini). Air minum hanya diberi satu botol tanggung. T__T
Jadwal hari ini hanya ziarah. Setelah makan pagi, kami berkumpul di lobby hotel. Dipimpin oleh seorang tour guide, kami mulai berjalan. Ternyata makam cukup jauh, dan kalau pagi masjid Nabawi dibersihkan. Bener-bener kinclong bo. Pake kaus kaki aja nggak masalah berjalan-jalan di masjid. Matahari bersinar seperti jam dua belas di Indonesia. Terik kali. Padahal baru saja jam menunjukkan 8 KSA time. Dahsyat. That’s why they use burqa’ alias cadar. Untuk mengalihkan pikiranku dari panas, diriku akhirnya berdzikir saja.
Setelah sampai di makam Baqi’, guide-nya berkata, “Mari panjatkan shalawat, salam dan do’a kepada para ahli kubur disini. Sebenarnya sih nggak boleh dipimpin kalau berdo’a. Tapi nggak apa, saya akan mengucapkan doa ini pelan kemudian ibu-ibu sekalian mengikutinya.”
Halo? Kalau dilarang kenapa dilaksanakan?
Warning: ini tanah suci, dan telah datang hukum yang jelas. Mengapa lagi harus diikuti?
FYI, doa boleh dipanjatkan dalam bahasa apa saja dan terserah mau doa apa saja asal untuk kebaikan si penghuni kubur dan tujuannya adalah shalawat. Namun ini saja sudah bersifat transaksional. Dan lagi, hanya jama’ah Indonesia yang berkumpul dan memanjatkan doa bersama seperti ini.
Jama’ah Indonesia, dengan segala kekurangannya. Dan ternyata di kemudian hari aku tahu, bahwa pemerintah Arab Saudi telah menerbitkan buku panduan untuk haji dan umroh yang baik dan yang benar, hanya saja jama’ah Indonesia memilih bungkam.
Sekali lagi sodara-sodara, tidak ada do’a bergerombol dipimpin dan dilafadzkan dengan suara keras. Apalagi perempuan :) Agar tidak terpusat perhatian laki-laki kepada kita :)
Karena tidak bisa ke makam Rasul, ya seperti tadi, hanya menghadap makam kemudian membaca shalawat. Kemudian kami ke Raudhoh. Honestly, I haven’t read about Roudhoh before so I can’t explain anything about Roudhoh. Emang sih di internet bisa aja dicari, tapi aku lebih suka untuk membaca buku kemudian bertanya. Kalau penjelasan kemaren sih katanya itu adalah sepotong taman surge, trus tempat paling mustajab di bumi. Maka, berbondonglah umat manusia untuk masuk ke roudhoh yang tidak seberapa besar itu –katanya. Eniwei, aku nggak ke roudhoh, soalnya ngantri gila dan Papa telah mewanti-wanti agar aku, mama, oma dan adik-adikku tidak sholat disana. Kata Papa tidak ada yang menyuruh untuk shalat di Roudhoh. Dan lagi, karena ketidaktahuanku dan baktiku, aku menuruti perkataan Papa.
Insya Allah aku akan kembali dengan pengetahuan yang lebih banyak tentang umroh dan Insya Allah pula, haji. Amin.
Akhirnya karena tidak menunggu masuk Roudhoh, kami memutuskan untuk pulang setelah bergelut dengan pemimpin rombongan. Yeah, pemimpin rombongan berkata bahwa sayang sudah sejauh ini berjalan dan kapan lagi bisa ke Roudhoh dan shalat disana. Aku pun diam dan berdo’a dalam hati.
Allahumma arinal haqqa haqqan, warzuqnat tiba’ah. Wa arinal batila batilan, warzuqnat tinabah. Amin.
(Ya Allah tampakkanlah yang baik itu baik, dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tampakkan kepada kami yang salah itu adalah salah dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya. Amin)
Sampai di hotel, tidur lagi.
Membantu tubuh untuk menyesuaikan diri :D
***
Sebenarnya hari ini sih nggak ada kegiatan lagi. Ohya, aku ingat pas Shubuh aku melihat ada The Body Shop. Sip, aku akan membeli lip balm. Akh, baru ingat kalau dompet dan seluruh isinya aku tinggalkan di tanah air. Gaswat. Harus merengek nih. Hahahay. Alhamdulillah sih Papa mengerti kebiasaan anaknya dan memaklumi diriku yang aneh ini. Tapi sayang seribu sayang toko itu tidak buka.
Another challenge buat bibir kering dan sariawanku.
Ketika keluar untuk shalat Dzuhur, whooooshhzz, angin panas kering kerontang lagi-lagi menerpa wajahku. Subhanallah. Kulipat kerudungku untuk kubuat untuk menutup muka. Whew.
Sampai di masjid, kulepaskan dahagaku dengan meminum dua gelas air zam-zam dingin. Maknyos. Alhamdulillah. Diriku pun mencari tempat shalat. Untuk shalat dengan khusyuk.:)
Ohya, habis Dzuhur tuh baru TBS-nyo buka. Aku membeli spray n lotion muka, lipbalm dan parfum. Khusus untuk parfum aku baru liat kalau ada wangi khusus yang hanya dijual di kawasan Timur Tengah, mungkin. Arab Oud, nama wangian itu. Cukup bernuansa timur tengah. Dan karena membeli parfum itu pula bahasa Inggrisku diuji.
“Engris? You can?” kata penjaga tokonya.
“Eh? Me?”
“Yes, speak Engris?”
Alamak, bener-bener dilafalkan Engris kata English itu. Bla-bla-bla itulah yang aku dengar dari aksen timur tengah itu dan meminta penjaganya untuk mengulang beberapa kalimat.
***
Ketika lima waktu selesai, oma dan adikku telah tidur pulas, aku merenung. Jantungku berdetak dengan tempo yang aku tahu apa artinya itu.
Rindu.
Bahkan sebelum pulang pun aku sudah merasakan rindu.
Subscribe to:
Posts (Atom)






