Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

30 October 2012

Bahasa Indonesia dan Masalah Saya

Lama tidak menulis. Tunggu sebentar, saya mau membuat alasan:
1. Sibuk kuliah dan mengerjakan tugas
2. Sibuk kerja
3. Sibuk bermalas-malas ria
4. Sibuk menonton drama Korea
5. Sibuk memikirkan apa yang ingin ditulis
6. Tidak ada ide untuk menulis

Namanya juga alasan, sesuatu yang dibuat untuk alas, membenarkan semua perilaku.

Bingung? Saya juga.

***
Sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak menulis dan seharusnya saya HARUS lebih giat menulis melihat rekor jumlah tulisan yang turun setiap tahunnya; menandakan tingkat kemalasan yang terus meningkat setiap tahun.

Namun karena sebuah artikel di majalah tentang bahasa Indonesia, saya menjadi tergerak untuk menuliskan sesuatu. Judul artikel itu:

"Nasib Bahasa Indonesia: Sudahkah Bahasa Ini Menjadi Tuan di Negeri Sendiri?"

Artikel tersebut membahas tentang pemakaian bahasa Indonesia yang semakin kacau dan hanya sebagian orang mau bersusah payah membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia untuk menaati kaidah berbahasa yang benar. Belum lagi masalah bahasa Indonesia yang semakin tersingkir karena penuturnya lebih memilih untuk menggunakan bahasa asing agar terlihat lebih bergengsi. Masalah selanjutnya adalah kesulitan padanan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, ke bahasa Indonesia karena perbedaan jumlah perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia, dan jangan lupa: tingkat kesulitan dalam mempelajari bahasa Indonesia.

Beberapa tugas kuliah mengharuskan saya untuk menerjemahkan jurnal ilmiah ke dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar agar dapat dirangkum dengan menggunakan kalimat yang saya buat sendiri. Karena bukan termasuk orang yang mempunyai kosakata bahasa Indonesia yang banyak, maka saya sempat beberapa kali harus memutar otak untuk menerjemahkan beberapa kalimat, seperti: "... the nature of business itself..." Saya sempat menerjemahkan kalimat itu menjadi: "... sudah menjadi sifat alami bisnis itu sendiri..," tetapi kemudian saya merasa janggal, sehingga saya kutip saja keseluruhan kalimat tersebut. Begitu juga ketika harus menerjemahkan istilah-istilah ekonomi ke dalam bahasa Indonesia dan ketika harus menyerap beberapa kata dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Ragu, apakah kata yang saya serap ini sudah ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Teringat juga tugas seorang dosen agar mencari padanan kata "efektif" dan "efisien". Saya menjawab "tepat waktu" dan "tepat guna". Ternyata ada yang lebih sepadan, "mangkus" dan "sangkil"! Belum lagi berbicara tentang bahasa gaul. Kata-kata yang sedang populer akhir-akhir ini, "Ciyus?", "Miapah?", "Enelan?" seakan-akan menjadi gaya bertutur bahasa yang harus dipakai. Gaya bicara seorang balita ini diadopsi menjadi bahasa gaul dan, menurut saya, akan merusak pemakaian bahasa Indonesia itu sendiri walaupun hanya sekedar tren sesaat.

***
Saya merasa kurang membaca buku-buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga merasa asing dengan bahasa Indonesia. Dulu, ketika masih menjadi "Anak Bahasa", saya rajin menyambangi perpustakaan daerah untuk membaca buku kumpulan artikel bahasa dari Kompas. Artikel-artikel tersebut membahas hal-hal seperti kesalahan berbahasa, kata yang seharusnya dipakai, perbandingan antara bahasa Indonesia dengan bahasa lain, sejarah suatu kata, dan sebagainya. Membosankan? Tidak, sama sekali tidak. Buku tersebut seakan memuaskan dahaga saya akan bahasa yang saya pakai sehari-hari: Bahasa Indonesia. Saya jadi rajin untuk mengoreksi bahasa yang dipakai teman-teman: China, bukan Cina; Orang Indonesia bukan Indon; tidak ada kata 'Pemimpin' tetapi 'Pimpinan'. 

Mencoba bertutur dan menulis memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda Indonesia. Contoh terdekat di lingkungan saya: kedua adik saya. Semua nilai ujian tiap semester mereka di mata pelajaran pengetahuan alam, sosial, bahasa Inggris selalu di atas sembilan, tetapi ketika pelajaran bahasa Indonesia, yang tercetak di lembar nilai adalah angka tujuh. Miris. Jangan lupakan saya sendiri: tulisan di blog ini rata-rata memakai bahasa campur-aduk. Karena tertohok oleh artikel yang saya baca tadi, saya kemudian memutuskan untuk menulis sesuatu dalam bahasa Indonesia, yang mungkin, sedikit baik dan benar.

***
Kemudian, apa yang harus dilakukan agar bahasa Indonesia menjadi tuan di rumah sendiri? Alih-alih menjadi tuan di rumah sendiri, sang empunya rumah pelan-pelan diusir. Arus globalisasi yang semakin besar membuat tata bahasa Indonesia semakin centang perenang, berantakan. Dalam satu kalimat terkadang pembicara menyisipkan beberapa kata dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, sehingga terdengar, aneh. Tetapi bagi orang yang sudah biasa mendengar (atau malah sering melakukan hal itu) kalimat-kalimat campur, hal tersebut adalah biasa.

Hal yang dapat dilakukan untuk dapat menjadikan bahasa Indonesia menjadi tuan di rumah sendiri adalah dengan berusaha untuk selalu memakainya dengan baik dan benar, walau terkadang terdengar repot. Saat menyajikan tugas di depan dosen, berusahalah untuk bertutur menggunakan kalimat tanpa kata bahasa asing. Rajin membuka kamus untuk menghafal kata baru dan memakainya dalam kalimat. Belajar bahasa apapun hal yang pertama kali harus dilakukan adalah menghafal perbendaharaan kata. Tidak mungkin untuk mempelajari bahasa Anda langsung mempelajari tata bahasa tanpa kosakata. Terakhir, miliki rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Menilik negara-negara tetangga, Korea, China dan Jepang yang bersikeras untuk memakai bahasa nasional mereka sendiri dalam bahasa pengantar di perguruan tinggi negara sehingga mau tidak mau kita lah yang harus mempunyai kompetensi dalam berbahasa negara tujuan agar dapat mengikuti kuliah. Mereka bangga atas bahasa mereka, menggunakannya dengan baik dan benar dan tidak merasa bahasa Inggris sebagai bahasa terhormat yang harus dipuja-puja sehingga meninggalkan akar bahasa mereka sendiri.

Susah? Siapa yang bilang bahasa Indonesia mudah? Kita hanya merasa mudah karena sudah bertutur bahasa Indonesia sejak bisa berbicara. Kemudian, bagaimana dengan penutur bahasa daerah yang bahkan tidak tahu bahasa Indonesia?

"KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA"

Bukanlah hal yang mudah untuk berjanji menggunakan bahasa Melayu (akar bahasa Indonesia) untuk menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pasti banyak yang susah menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian mereka. Untuk itulah ada pelajaran bahasa Indonesia di sekolah, walaupun tidak bisa bergantung sepenuhnya kepada sekolah. Menurut saya, biarlah hal tersebut menjadi keberagaman budaya. Negeri ini punya pemuda-pemudi hebat yang akan berusaha untuk bertutur dengan bahasa persatuan tanpa meninggalkan bahasa daerahnya.

Jangan pesimis! Ayo dudukkan sang Tuan di rumah sendiri! :)

5 April 2011

Hari Ekonomi :D

Hari Senin kemarin menjadi hari yang cukup menegangkan. Selain UTS Business Law alias Hukum Bisnis, kartu ATM Bank Mandiri-ku rusak. Mana uang tinggal sedikit di dompet. Hufwaaaa~. Ada sih yang lain, tapi itu hanya dipakai untuk urusan sangat gawat darurat.

Akhirnya aku memutuskan untuk membuat rekening baru, di Bank Syariah, tentunya. Lalu kemudian, sekitar jam 2.45 pm diriku ke Bank Syariah Mandiri (BSM) untuk membuka tabungan. Sampai di BSM aku disambut oleh satpam yang menyapaku dengan 'Assalamu
alaykum! Silahkan, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?". Ah. Ini yang membuatku lapang. Ketika ada salam dan senyum :) Aku bilang mau membuka rekening. Ditanya lagi apakah aku sudah tahu akan membuka rekening apa. Aku jawab tidak. Lalu aku diberi leaflet oleh satpam itu. "Silahkan, Mbak. Dibaca dulu. Nanti kalau sudah bisa langsung mengisi formulir." Aku menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih.

Aku membuka leaflet. Aku terseyum lagi. Ketika membaca hatiku bersorak, "Aku tahu akad ini!" atau "Ini skemanya, hmmm... gimana ya?" Aku kemudian berusaha mengingat semua pelajaran yang aku terima ke SEF dan mencoba membandingkan. Seru!

Suasana cukup ramai di BSM. Hem, dan selama setengah jam aku memperhatikan sekeliling, ternyata banyak juga yang berniat untuk membuka tabungan. Aku senang! :D Moga-mog!a kedepannya bank syariah mendapatkan market share yang lebih banyak. Amin.

Sampai akhirnya aku dipanggil. Hem, kalau tidak salah aku dilayani oleh Mas (atau Pak? Tapi masih muda, sebut saja Mas) Udin. Hahay, aku merasa geli sebenarnya, karena ada lagu Udin Sedunia itu loh. Lupakan itu. Nggak penting. Ya~ awalnya ditanya-tanya lah mau produk apa, bagaimana dan bagaimana. Dijelaskan akadnya. Ternyata sama, aku ingin tahu aja, apakah dia sebenarnya menguasai produk perbankan tempat dia kerja (Insya Allah :D Sebenarnya ingin 'ngerjain' dikit, tapi aku takut tutup bank-nya dan aku belum ngapa-ngapain)

Ya~ singkat cerita aku memilih Deposito Berjangka (akad: Mudharabah Mutlaqah) dan Tabungan BSM (akad: Mudharabah Mutlaqah)

Deposito berjangka minimal Rp. 2.000.000,- dan dapat diperpanjang secara otomatis (ARO:automatic Roll Over) ketika sudah jatuh tempo dan kita tidak menginginkan pencairan. Nisbah bagi hasil 42:58 atau 58% untuk nasabah. Eits, beda dengan bunga bank ya. Kalau bunga bank udah pasti dari nominal yang ditanamkan itu kita dapat berapa. Misalnya, bunga per tahun Mandiri saat ini 5,25% dan jangka waktu menanamkan modal 3 bulan. Kalau kita nabung Rp. 4.000.000, bunga yang diterima = 3/12 x 5,25% x 4.000.000= Rp. 52.500. Sedangkan kalau dengan nisbah bagi hasil masih memasukkan variabel pendanaan keseluruhan di masyarakat, pendapatan dari penyaluran pembiayaan, pendapatan bagi hasil setiap dana pihak ketiga. Hahahayy~ Perhitungannya memang sulit, namun kalau disederhanakan kira-kira seperti ini: jika pendapatan dari pihak ketiga naik, maka hasil dari bagi hasil itu *halah* akan naik pula, begitu juga sebaliknya. (Saya akan menghitungnya setelah UTS!) Terlihat seperti tidak menguntungkan? Tidak juga. Tidak pasti? Benar! Tapi karena ketidakpastian itulah yang membuat Bank Muamalat Indonesia bertahan di tengah krisis ekonomi '98. Kepastian pengembalian bunga dari pihak yang dibiayai kepada bank itulah yang mempersulit. Rugi ataukah untung ada bunga yang wajib dibayarkan oleh pihak ketiga tersebut. Namun dalam sistem bagi hasil, yang dibagi adalah profit atau loss (idealnya sih memang profit-loss sharing, tapi di Indonesia masih memakai revenue sharing). Masih berkelit sama saja antara bank syariah dan bank konvensional? At least, para pembaca sekalian, bahwa menabung di bank syariah itu menghindari diri dari memakan riba. Menjauhi larangan Allah SWT, bukan? Masih ngeyel juga nggak mau nabung di bank syariah? Hareee geneee? Mari diskusi dalam Shariah Economics Forum, datang kajiannya atau hubungi saya *promosi*

Hah hoh hah hoh

Itu baru pembiayaan. Belum lagi produk kedua, yaitu tabungan BSM. Hiyah~ intinya sih sama saja. Karena akadnya sama. Mudharabah :) CMIIW, kalau nisbah bagi hasil di tabungan sih lebih kecil sepertinya :D

Eniwei, ini dia hasil ke bank kemarin :D



ATM, Bilyet Deposito dan Buku Tabungan

Weelll, kawanz, ayo menabung di bank syariah. Aku sudah, kamu?

28 September 2010

Seminar Internasional Ekonomi Islam

Seminar Internasional Ekonomi Islam dengan tema Fulfill The National Development by Encouraging Islamic Businesses telah diselenggarakan di Auditorium Pasca Sarjana Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Seminar ini menghadirkan berbagai pembicara, seperti Adiwarman Karim -pemilik Karim Business Consulting, Anggito Abimanyu –dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, dan pemilik Al-Falah Consulting Malaysia, Ahmad Sanusi Husain. Moderator seminar sendiri ialah Priyonggo Suseno, dosen Fakultas Ekonomi UII.

Dibagi dalam dua sesi, acara ini menggunakan tiga bahasa sekaligus, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Melayu. Sesi pertama, yang diisi oleh Adiwarman Karim dan Ahmad Sanusi, membahas tentang perkembangan ekonomi syariah di Indonesia dan Malaysia. Di Malaysia perkembagan ekonomi syariah terbilang pesat, karena dukungan pemerintah dan regulasinya. Bisnis yang berdasarkan syariah juga bervariasi, seperti bisnis makanan halal, perbankan syariah, asuransi syariah atau takaful, dan investasi syariah.
Bisnis makanan halal menjadi penting di Malaysia karena hanya 25% pabrik makanan halal yang dimiliki oleh muslim. Makanan halal yang dimaksud disini bukan hanya bebas dari babi atau semacamnya, namun juga bebas dari hal-hal yang dilarang dari transaksi (riba, gharar, maisyir, suap, dll). Jadi dari pembiayaan pun sudah dijaga kehalalannya. Di dunia perbankan syariah, target market share 20% di tahun 2010 telah tercapai. Ada sekitar 19 bank syariah yang beroperasi di Malaysia, seperti HSBC Amanah, CIMB Niaga Syariah, dan Hong Leong Islamic Bank. Kemudian pemerintah Malaysia juga menggandeng bank syariah terbesar di dunia, Al-Rajhi Bank, untuk menggaet nasabah dan membiayai proyek-proyek besar.

Untuk asuransi syariah, di Malaysia telah berdiri 8 perusahaan asuransi syariah dengan market share sebesar 8%. “Perkembangan asuransi syariah agak tertinggal dengan perbankan syariah, karena selain umurnya lebih muda, jarak pendirian perusahaan asuransi syariah pertama dan kedua cukup panjang,” kata Ahmad Sanusi.

Pemerintah Malaysia juga berkomitmen untuk membangun dan --- pendanaan syariah serta industri halal untuk membuat Malaysia sebagai pusat Keuangan Syariah dan Industri Halal Internasional. Malaysia juga mempunyai master plan untuk pembangunan bank syariah dan kemudian menjadi kewajiban kepala bank untuk mewujudkannya.

Dibandingkan dengan Malaysia, market share perbankan syariah hanya 2,7% dibandingkan bank konvensional. Pengguna jasa asuransi syariah pun sekitar 3,5 juta orang atau sekitar 1 persen dari total penduduk Indonesia sekarang. Masih kalah persentase dengan Malaysia yang market share-nya 20%. Tetapi ini dikarenankan pergerakan bisnis syariah di Indonesia adalah pergerakan bottom-up, yaitu gerakan masif dari masyarakat itu sendiri. “Jangan hanya melihat dari market share-nya yang kecil, tetapi lihat juga dari jumlah orang yang berkecimpung di dunia bisnis syariah ini. Kita ini ‘besar’, tetapi karena persentase kecil itu yang menyebabkan kita tidak merasa ‘besar’,” kata Adiwarman Karim. Tren 2011 ini, kata Adiwarman Karim, yang dibahas adalah tentang pembenahan regulasi, dan promosi bukan mengusung tema “bebas riba” lagi, tetapi asas memberi manfaat. “Bank Muamalat berdiri pada tahun 1991 itu tidak ada regulasi yang mengatur. Kita hanya bersandar pada UU nomor 14 tahun 1967. Lalu kemudian pada tahun 1992, keluar UU nomor 7 tahun 1992, yang menambah pasal tentang prinsip syariah. Itu sudah Alhamdulillah, syukur-syukur bank syariah tidak dilarang,” canda Adiwarman Karim.

Pada sesi ke-dua, masih tentang perbandingan tren ekonomi syariah antara Indonesia-Malaysia, dikemukakan oleh Ahmad Sanusi bahwa aktivitas ekonomi syariah di Malaysia juga meliputi pasar uang syariah, pasar modal syariah, baitul maal, zakat, wakaf, penghitungan faraid (warisan) dan pengurusan surat wasiat. “Di Malaysia, zakat sudah sebagai pengurang pajak. Kemudian kami juga mempunyai software untuk mengitung warisan, siapa saja yang mendapatkan warisan dan berapa besar warisan tersebut,” kata Ahmad Sanusi.

Kemudian, paruh sesi kedua diisi oleh Anggito Abimanyu yang mengemukakan apakah sistem ekonomi syariah itu alternatif atau keharusan. Diawali dengan menceritakan tentang Great Depression tahun 1933 yang mengguncangkan dunia. Kemudian pemaparan didukung oleh data-data bagaimana sistem kapitalis merusak sistem ekonomi dunia. “Kapitalis, sosialis atau apa saja yang menjadi panutan ekonomi dunia, dasar pemikirannya selalu berubah dan tidak mengikuti zaman. Tetapi, ketika ekonomi syariah diterapkan, kita mempunyai dasar yang tetap, yang dijaga oleh Allah sampai akhir zaman, yaitu Al-Qur’an. Inilah yang membuat bisnis syariah tidak kolaps ketika krisis ekonomi dunia mengguncang,” kata Anggito Abimanyu. Potensi zakat yang besar, kemudian penduduk muslimnya yang banyak, menjadikan Indonesia sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan ketika ekonomi syariah dikembangkan. Indonesia memerlukan lebih banyak lagi SDM untuk memajukan bisnis berdasarkan syariah ini. Intinya, ekonomi syariah ini adalah satu keharusan, bukan lagi sebagai alternatif.

Banyak tanggapan positif dari peserta maupun pembicara seminar yang diadakan dalam rangkaian Lustrum XI Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM ini. “Acaranya cukup inspiratif terutama ketika sesi Pak Adiwarman, well-organized, dan menumbuhkan semangat. Namun kemudian harus ditetapkan apa bahasa yang harus dipakai dalam seminar internasional semacam ini, karena cukup membingungkan seminar dalam tiga bahasa,” kritik Putri Swastika, mahasiswa Manajemen FEB UGM. “Jarang acara seminar internasional yang digagas oleh mahasiswa kalau di luar negeri. Pada umumnya yang menggagas adalah universitas, tetapi yang datang hanya sedikit. Ini membuktikan bahwa kecintaan mahasiswa terhadap ekonomi islam sangat besar di Indonesia,” tanggap Adiwarman Karim

N 4 tugas yang dikasih K Bhima

1 September 2010

Jalan-Jalan

Hari yang penuh dengan jalan. Jalan kaki dalam arti sebenarnya.
Yahahaw~

Bersama Tekukur, eh Makkur.

Atas nama memaksa menjadi follower blog, aku akhirnya menemui dia. Selain untuk mengambil tulisan dia untuk aku tambah-tambahkan, ya bertemu juga untuk berbincang. Perkenalkan Andi Makkuraga Hidayat, yang masuk berita Tribun Kaltim sebagai sang penjual : TOKEK!
Izinkan aku ketawa, Kur.

Hahaha~~
Actually he is a handsome-what man (aku udah "muji" kamu loh, Kur) and taking Economics as his major. And now he is right in front of me.

Kronologis kejadian.
Tempat: Payung DPR Utara-Barat FEB UGM.
Waktu: 1.30 pm
Jalan Cerita : Makkur sms sehabis Dzuhur : Mana-mana mana kamu dimana? Dan aku pun membalas, lagii di mushalla. tgu aku. Habis bertemu mbak Shinta, aku menemui Makkur hanya untuk diejek alay karena alamat e-mail yang kata Makkur+Chandra alay. Setelah itu saling bertukar alamat blog, untuk dibaca keras-keras mengalahkan alat yang tukang perbaiki kamar mandi gunakan untuk memotong tegel.

Waktu: 2.00
Tempat: Perpustakaan FEB UGM
Jalan Cerita: Demi menghindarkan diri dari bisingnya alat itu, kami memutuskan untuk mendinginkan diri di Perpus. Selanjutnya, Makkur akhirnya memberitahukan aku tentang masalah beasiswa ke Chubu University. Kami berdua memutuskan untuk langsung ke OIA UGM (Office of International Affair) di Rektorat Sayap Selatan, lantai 2.

Waktu: 2.20
Tempat: Jalan Sosio Humaniora-OIA UGM
Jalan Cerita: Akhirnya dengan semangat menggebu, kita sampai di OIA. Aku sendiri sih ngerasa kalau aku sedang berada di dunia lain. Mini-Europe gitu. Habisnya isinya pada orang kaukasoid dan sedikit orang negro. Hahayy.
Tapi akhirnya walaupun Makkur memelas ke Mas-mas OIA, itu nggak mempan, kami telat untuk memasukkan admission.

Pulang dengan melewati FISIPOL.

Untung bisa lewat.

Bagaimana, Kur jalan-jalan kita hari ini?

16 August 2010

SIMFONI 2010!

Hari kulalui dalam empat hari
Kujalani SIMFONI di Ekonomi
Tempat ku mengabdi


Mars SIMFONI 2010


Ayey. diriku sekarang menjadi pemandu Maba FEB UGM 2010.
Aku memandu maba kelompok 27-Blue Bird. Uniknya, aku meneruskan tradisi kelompok 27 tahun ini. Ya, waktu pemanduku jadi maba, dia kelompok 27, pas aku jadi maba, aku dapet kelompok 27 dan pas aku jadi pemandu, aku kelompok 27 juga :D


Kelompok kami ada 13 orang (harusnya 14 tapi yang satu keterima manajemen UI) wah aku senang dapet maba luar biasa seperti mereka. :) Aktif dan cerdas :-) Really proud of you all!


Tugas pemandu kemarin adalah mendampingi saat riset ke pasar Demangan, Jogjakarta, aku mau sedikit berbagi tentang mereka :D
Riset kemarin, kelompok kami mendapat bagian tentang analisis dampak lingkungan. Satu kelompok dibagi lagi menjadi 4 kelompok kecil mencari data tentang kebersihan, keteraturan parkir, limbah, polusi dan dampak limbah terhadap lingkungan sekitar.
Pertama aku mengikuti kelompok : Widhi, Adit dan Putra
Serius beli sekaligus wawancara :D
Gokil! tapi tetap serius. Adit yang menjadi ketua kelompok 27 sangat mirip dengan Adit, ketua kelompok waktu aku jadi maba. Hahaha,, Sayang di foto dia lagi tampak belakang :P
Mereka mencari tahu tentang kebersihan. Putra niat banget nyari informasi ampe nyembah-nyembah yang jualan. Haha. Si Adit cari muka penjual dengan membeli Mari**s Blueberry, supaya dikasih info. Widhi ngedeketin ibu-ibu yang jadi pengecer :D


Mereka sempat ngeburu petugas kebersihan. Tapi nggak dapet, dapetpun itu dia nggak mau ngaku petugas kebersihan coba. Hahaha


Putra semangat bener milih sabun cuci piring.
Dia milih yang paling murah. Nda mau rugi. Padahal nanyanya banyak kalee..


Kelompok kedua: Andry, Aie, Ridho.
Aku salut! Mereka nyari lahan parkir kosong! Sebagai solusi untuk parkiran yang nggak teratur. Mereka cukup dalam mengorek informasi. Sampai wawancara penduduk sekitar. Cukup banyak yang mereka dapat soal ketertiban parkiran. Hingga akhirnya mereka dapet Jackpot!


Aie korbannya. Ceritanya khan nyari penduduk sekitar untuk diwawancarai. Ketemu deh penduduk yang tinggal TEPAT di belakang pasar dan lagi duduk. Aie, Andry masuk ke rumah tersebut. Aku hanya mendampingi.
(kira-kira begini dialog mereka)
Aie: Permisi pak. Mau numpang nanya.
Bapak 1: darimana?
Aie: dari UGM pak. Mau wawancara untuk riset
Bapak 1: oh itu sama yang punya rumah aja.
(Aie berpindah mewawancarai Bapak 2)
Aie: permisi pak mau nanya-nanya untuk riset. Boleh ya pak?
Bapak 2: untuk apa? *kejam
Aie: untuk riset pak. Tugas OSPEK.
Bapak 2: Tanya apa?
Aie: ini pak, tentang masalah parkiran. Kira kira ada masalah nggak pak
Bapak 2: oh, Nggak ada. Nggak ada (Sambil ngebanting salad air yang dia cuci). Saya yang punya jadi nggak ada masalah. Mbak kalau wawancara jangan nyinggung gitu dong!
Aie : *doeenk


Kagum. Mereka langsung dapet yang punya.
Dan ini mereka lagi wawancara tukang parkir


Ka-ki: Ridho, Andry, Aie, tukang parkir
Sersan cuy. Serius tapi santee~

Maaf kelompok lain: Yoggy, Sri, Aya, Nitya, Bayu, Aldi, Nana.
Nggak mendampingi kalian pas wawancara, jadi tidak terdokumentasi :D

Aku bangga bisa melihat kalian yang luar biasa!

10 March 2010

Why Must Go to School?


Why must we go to school, university or something else that we call institutions? If the final mission is to get money, why are we still go to university to learn? Why do not we straightly make a job or have a job? We have learned for almost 13 years (formal education I mean, from elementary until senior high school). Is it not too long to sit in a chair and hearing teachers say, explain something and finally have a work to do at home? It is quite boring I think.
But then, we HAVE to go to school, in this case, university.
We must go to university because we are prepared to be a thinker, not a worker. We are prepared to analyze, how to solve problems in this country. But in fact, we go to university to get graduated and then have a job, make money. If you have made money, you decide, whether you want to go to university, or not. And also one of the reason is, we have to educate ourselves to make us better than before.
Education is not only how to educate people and then only create labours, workers. Education is about how to make someone best, how to prepare a critical, responsible, honest  human being  in the future. In fact, education-system in Indonesia still has a role as a worker producer, not a better-human being producer. Education should be a way,  how to make a best human being, with high-intellegence brain and has a value in his activity, not just a system to reach better prestige and regenerate workers generation.
Future, this will one of my contribution in education in Indonesia. I want to build schools, not just an ordinary school but we called it Madrasah or Pesantren. Maybe it is different from major that I am taking now but if I have enough knowledge, I want built a place, that can be a place to learn how to be a critical people and analyze, how to solve problems in this country. I think in madrasah, we can meet education collaborate with religion, Islam. If education be in accordance with the value of Islam, it will produce near-perfect human, who acts based on Al-Qur’an and Sunnah. But I know, If now I cannot educate myself to be a better person, I cannot make my dreams come true. Meanwhile, as a university student, I will do my best to make my dreams come true, so I really can take a part to make Indonesia better than today.

The GreyZone

: my first weekly journal

Introduction
There are so many responsibilities of the corporate among the stakeholders, two of them are responsibilities to consumer and responsibilities to local community. What is local and consumer responsibilities? Corporate social responsibility is companies acting voluntarily and beyond the law to achieve social and environmental objectives during the course of their daily business activities. The act can be a hand to local programme  or just minimalize their negative effect to a community. And responsibilities to customer can be memenuhi the rights of consumer. Such as : get safety product, to be heard, informed all about relevant aspect of the product, to choose what they buy etc.
But now, how with tobacco company? Are they responsible among stakeholders, in this case local community and consumer? If they don’t, what is the problem? How to solve that problems?

Discussion
Commonly, tobacco company, especially famous tobacco company, has memenuhi their responsibilities, those are responsibilities to employee, supplier, investor, local community and costumer. For example, giving appropriate wage, inform the financial position, have a good relationship to suppliers, and sponsor many activities, such as environment conservation, giving scholarship and fund the music concert. So, if we asked whether the company has  fulfilled their responsibilities among stakeholders, the answer is yes, they have. But on the other side, the tobacco company has broken one of consumer rights, that is get safety product. Then, tobacco, the product, can cause pollution. But one the one hand, they have a conservation programme, which can be a reforestation programme. Finally, we will find so many things that opposite in tobaccos company responsibilities to the consumer and environment case.
Consumer rights states that consumer have right to get safe products but as we all know that tobaccos full with poison and dangerous thing in it. From nicotine (insecticide), ammonia (toilet cleaner), aracnic (poison), ect. Tobaccos can make pollution and illness, for active smokers and also passive smokers. But tobacco company has excuse. First excuse, that consumer are free to buy all things they want and nobody can forbide them to buy tobaccos. Second, if consumer buy tobaccos, company gets profit. Then the profit is  aside for young generation in scholarships or financial support. This means that consumer who buy tobacco help Indonesia to be better. Third, about pullution and illness, that after sold, tobacco is owned by consumer. When consumer inhale and exhale the smoke then causing pollution, it is consumer’s responsibiliy, not the company’s. For the illness, that is consumer’s choice. If they know the dangerous subtances, why are they still buy and exhale-inhale it?
Based on the processed data from the World Health Organization (WHO) in 2008, that out of every 4 of the Indonesian population was 1 smoker. The total tobaccos smoked per year is 225 billion sticks. It's enough to make a very bad pollution for the environment. These numbers will increase in relevance with the increase of adolescence.
Tobacco company has put themselves toa a greyzone, an area where good and bad things become blur, in assistance with losses and goods for “whitening” or repeal the badness from product they have produced. But, although tobacco company has produce things that harmful to human life, the company can directly closed. Because it will arise effect that not good for tobacco farmers and employees. Tobacco farmers will lose their jobs and cannot supply tobaccos to company, unemployment will increase.
Conclusion
So from previous exposure, in fact, there are more bad things than the good one. By closing the company, hopefully can be the solution. But before closing, in order to avoid bad effect, it is more better to prepare the closing in advance, such as prepare the replacement job for the employees.For example, for the tobaccos farmer, the land can be replaced by planting palms. Slowly the company “rebuilt” the company to a oil processing factory. Then the employee can work in there. In this example we avoid the tobacco/cigarettes bad effect by closing the company. Also we can increasing tax for cigarettes, or avoid to advertising the cigarettes (as American does). But despite of all, one example is more better than thousands advice.

Nadiyah Salsabila
09/280333/EK/17304
Management ‘09

15 January 2010

Yang Muda, Yang Bergairah*

*jangan pada ngeres ato aku yang ngeres? :D


Setelah berjalan-jalan melihat pemandangan jam 12 malam di Jogja.. bohong... Setelah berjalan-jalan di dunia maya melihat dan membaca blog-blog orang... hahahha

aku jadi tersadar,

aku udah lewatin satu tingkat dalam proses pembelajaranku..

berapa lama yah aku disini?

humm

let's count : 2+31+30+31+30+31+14-10-5=

*oh sh#t mana kalkulator?


...


...


...


...


ehm,,154 hari aku disini :D

154:30=5 bulan lebih 4 hari


ya.. kurang 26 hari mau 6 bulan lah

maksa


Semenjak keluar dari rumah, hidupku terasa lebih berwarna karena efek kelir :P


Yah, aku jadi melihat dunia luar dan mengerti plus menyembuhkan rasa sakit untuk menjadi lebih dewasa...


Aku mengerti aku telah menyakiti banyak orang, awal tahun ini pula. Huftt..


Maaf untuk semua kata maaf yang terlambat.


Ketika insomnia datang menyerang, lagi-lagi aku ingin merenung. Aku belum buat resolusi apa-apa nih. Ada banyak keinginan yang menanti untuk diwujudkan.


Pergi ke luar negeri misalnya :D


GOD,

Akhir-akhir ini banyak banget yang namanya buku yang bikin iri memotivasi untuk ke luar negeri, sebut saja Negeri 5 Menara yang kulahap habis dengan Negeri van Oranje.


Dua buku ini sangat-sangat memotivasi untuk berani bermimpi, buku motivasi untuk ke luar negri kedua dan ketiga tentunya setelah tetralogi laskar pelangi. Untuk Negeri 5 Menara (kita sebut buku pertama), masih menyimpan pesan pendidikan, sedangkan Negeri van Oranje (kita sebut buku kedua) hanya bercerita tentang kisah roman 4 laki-laki dan 1 perempuan di bekas negeri kumpeni, Belanda.

Kalau bercerita tentang latar, buku pertama dilengkapi peta di sampulnya, sehingga sambil menikmati jalannya cerita, kita bisa membayangkan kita berada di pondok pesantren, mengikuti semua suasana, berjalan di pondok pesantren. Seakan kita adalah pengamat dari luar aktivitas Alif, Said, Atang, Dulmajid, Baso dan Raja. Nah, sambil juga belajar bahasa Arab (hanya untuk laki-laki, karena perempuan beda pemakaian kata). Tapi ada satu yang terasa mengganjal, deskripsi si Tyson alias Rajab Suja'i diulang beberapa kali. :O Tapi kalau diberi penilaian, buku ini mendapat nilai 8 :D Kita tunggu sekuel selanjutnya dari Negeri 5 Menara. http://www.emocutez.com

Buku kedua, alurnya sih cepet banget dan aku selalu salut dengan roman yang tak bisa kutebak akhirnya (apa aku aja yang bodoh ya?) Dengan TOP banget menggambarkan sudut-sudut kota Belanda lengkap dengan keterangan a la mahasiswa Belanda. Walaupun nggak kesana, serasa sering melihat aja :D Kemudian, petualangan backpackers seperti di Edensor terulang disini :P Ohya, ceritanya dibuka dengan membuat rasa penasaran kita terusik hahahahay. Hum, ceritanya di 3 kota berbeda, 3 cowok mendapatkan 1 pesan singkat yang sama dari seorang cewek. Tidak ada kata-kata yang panjang lebar, tapi membuat 3 cowok itu lari dari kegiatannya dan ingin paling cepat menghampiri cewek tersebut. Ada apa dengan si cewek? :D Baca aja yah.http://www.emocutez.com

Kembali ke MY RESOLUTION
Yah, pokoknya aku pengen banget ke luar negri. Iri banget ama mereka yang bisa bersekolah disana. Huhuhuhu.. Rasa iri itu membakar segenap jiwa, merangsang rasa ingin berusaha lebih dari batas untuk mencapai mimpi, halah.

pokoknya,
AKU PENGEN KE LUAR INDONESIA!!!
NB: Kalau ada yang nawarin aku untuk keliling Indonesia gratis nggak apa kuq :D



NB-nya NB : tapi resolusi ini berlaku 2 tahun kuq. :DDD

4 January 2010

Masihkah Islam Berjaya dalam Ilmu Pengetahuan?



Ilmu sangat penting dalam Islam, dan Islam sendiri tidak bisa dipisahkan dengan ilmu. Dalam Al-Quran sendiri kata ilmu dan kata jadiannya diulang-ulang tidak kurang dari 800 kali. Bagitu pentingnya ilmu dalam Islam sehingga Allah berfirman : “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat...” (QS Al-Mujadilah : 11). Dalam masa kejayaannya, perkembangan ilmu pengetahuan dan agama Islam terintegrasi dengan baik; banyak cendekiawan muslim lahir dan menghasilkan karya yang masih dipakai hingga sekarang. 
Pada masa sekarang, saya melihat ada pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Padahal sebenarnya ilmu pengetahuan itu biasanya bereferensi pada agama. Dalam Al-Quran sendiri memang tidak ada istilah iptek secara langsung, tetapi berupa isyarat-isyarat. Ketika ilmu pengetahuan tidak  terintegrasi dengan agama, yang terjadi bisa saja kehancuran dan kekhawatiran.
Saya mencoba mengadakan penelitian di tempat tinggal saya (kost). Dari 15 orang penghuni kost dan dari berbagai macam fakultas yang berbeda, terlihat sangat jelas pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Ilmu atau pendidikan agama hanya diberikan kira-kira 2 SKS. Selanjutnya, tidak ada integrasi antara kurikulum atau bahan kuliah yang diajarkan dengan agama. Kita masih berkiblat pada barat untuk urusan ilmu pengetahuan dan memakai pikiran para ilmuwan barat. Contohnya saja pada mahasiswa yang belajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Pendidikan Agama Islam diajarkan terpisah. Walaupun masih dalam delapan matakuliah wajib semester ganjil. Tidak ada sistem ekonomi Islam yang diajarkan di dalam pertemuan kuliah. Kalaupun ada hanya sedikit sekali dan tidak dilanjutkan pengajarannya karena mahasiswa non-muslim juga belajar dalam satu kelas. Memang dalam PAI I diajarkan tentang ekonomi Islam, tetapi tidak mendalam. Dalam hal ini, agama dan ilmu menjadi dua domain yang berbeda dalam kehidupan manusia.
Padahal, banyak pemikiran cendekiawan muslim yang diambil oleh barat. Contoh dalam bidang ekonomi yaitu pemikiran Ibn Khaldun yang dalam teori ekonomi sekarang disebut backward sloping supply curve. Pemikiran Ibnu Khaldun ini diajarkan dalam matakuliah Pengantar Ekonomi sebagai Laffer Curve (menjelaskan bagaimana pendapatan pemerintah dari pajak suatu saat dapat menurun). Memang Laffer dalam pemikirannya berkata bahwa Beliau terinspirasi oleh Ibnu Khaldun, tetapi mengapa kita sampai bisa ‘kecolongan’? Belum lagi yang terkenal, Ibn Sina atau oleh barat disebut Avicenna. Bukunya Al-Qanun fi Al-thib disadur oleh barat dan akhirnya dijadikan buku teks wajib oleh dunia kedokteran.
Dahulu, ketika Islam menjadi satu dalam kehidupan manusia, menjadi pedoman di segala aspek kehidupan, Islam mencapai masa kejayaannya. Ketika agama dipisahkan, antara dunia dan akhirat menjadi suatu hal yang terpisah, sulit untuk mencapai kepuasan. Pasti ada hal yang kurang dan menimbulkan kecemasan. Apakah ilmu pengetahuan itu sebenarnya berguna atau malah ada untuk menghancurkan kehidupan manusia.
Seharusnya, ilmu pengetahuan atau matakuliah di fakultas-fakultas atau lebih khususnya dalam matakuliah yang diambil dalam Fakultas Ekonomika dan Bisnis, dimasukkan pengetahuan tentang ekonomi Islam, dan termasuk dalam Matakuliah Keilmuan dan Ketrampilan, bukan hanya sebagai materi dalam matakuliah PAI, agar kita mengetahui dan dapat mengkaji lebih dalam tentang ekonomi yang berlandaskan Islam. Jangan sampai kita sebagai umat muslim hanya mengetahui sedikit saja tentang ekonomi Islam. Malah orang-orang barat yang mengambil pemikiran orang-orang Islam dan mengaku sebagai hasil pemikiran mereka.
Insya Allah, jika kita bisa belajar Ilmu Agama yang notabene adalah Fardhu ‘ain dan juga wajib mempelajari ilmu pengetahuan yang lain –fardhu kifayah- niscaya ilmu pengetahuan bisa terintegrasi dengan baik dengan agama dan akhirnya bisa menerapkan ilmu-ilmu tersebut di jalan-Nya, untuk kemajuan umat Islam itu sendiri.
Sumber :
Al-Quranul Karim
Mankiw, Gregory N. 2006. Principles of Economics. Jakarta : Salemba Empat.
Tim Dosen PAI UGM. 2006. Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta : Badan Penerbitan Filsafat UGM.

22 August 2009

Pentingnya Pendidikan

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China...

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.” (wikipedia.org)

Nah, begitu jelas dipaparkan apa itu yang disebut pendidikan. Dan menurut saya pendidikan sangat penting. Karena, setiap apa kekurangan kita bisa menjadi kelebihan dengan mempelajari apa yang kurang dari dalam diri. Ada yang mengatakan bahwa mempelajari sesuatu itu tidak akan pernah selesai. Karena, setiap sesuatu selesai dipelajari, pasti ada hal baru muncul dari sesuatu yang dipelajari tersebut. Berbicara tentang pendidikan berarti berbicara mengenai peradaban manusia. Kunci peradaban suatu bangsa adalah pendidikan. Jika kita tidak memperoleh pendidikan, dengan sendirinya kita terlindas oleh perkembangan zaman. Di zaman yang senantiasa berubah dengan sangat cepat, diperlukan pengetahuan yang sangat luas. Dan dengan pendidikan itulah kita mempelajari suatu ilmu pengetahuan. Kita tidak bisa tidak mempelajari apa yang terjadi dan sedang berkembang di sekitar kita.

Tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantara berkata bahwa yang bisa merubah nasib suatu bangsa ialah pendidikan. Semakin bagus pendidikan di suatu negara, semakin bagus pula mutu rakyatnya dan itulah yang menambah nilai atau derajat bangsa. Banyak orang yang tahu akan pentingnya pendidikan dan berusaha keras untuk mendapat pendidikan itu. Tetapi ada orang yang mengetahui pentingnya pendidikan tetapi tidak bisa mendapat pendidikan tersebut karena berbagai macam halangan. Dan suatu hal yang patut kita syukuri, bahwa kita adalah orang yang beruntung bisa mengenyam pendidikan.