Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

9 January 2014

Break, Think.

"Separate thinking and execution to think better and execute faster." -Sol Tanguay

***
Hanya ingin refreshing sebentar koq.

Ngantuk sebenarnya. Tapi lagi pengen nulis blog.

***
Sudah hampir maghrib, tapi saya masih menggerakkan jari-jari untuk menyelesaikan bab dua dan tiga dari skripsyong saya. Inginnya sih selesai secepatnya. Supaya bisa sidang secepatnya dan libur secepatnya. Hari ini saya kursus bahasa Jepang lagi setelah absen hampir 2 bulan. Saya sudah berhenti kerja untuk fokus skripsi. Tapi tetap saja keinginan untuk belajar bahasa Jepang itu nggak bisa ditahan.

Sampai tadi saya ditohok oleh sebuah pertanyaan dari Sensei.

"Emang kamu belajar bahasa Jepang untuk apa?"

Pertanyaannya nggak sampai situ. Ketika saya jawab, pertanyaan tersebut beranak pinak. Saya menjawabnya dengan jawaban standar, "Ingin bekerja di perusahaan Jepang". Kemudian ditanya lagi, perusahaan apa? Dimana? Incar posisi apa? Yakin diterima kalau punya bahasa Jepang bagus? Emang bahasa Jepangnya dipake kalau misalnya kerja di perusahaan Jepang?

Oh, well.

Saya tidak memikirkan itu. Yang saya pikirkan adalah: "Sebuah nilai tambah bagi saya kalau bisa bahasa Jepang dengan baik ketika bekerja nanti. Bukankah ditunjang dengan bahasa Inggris yang bagus dan kemampuan bahasa ketiga sebagai bekal bekerja itu adalah nilai tambah? 

Ah, ternyata saya kurang memikirkan hal tersebut.

Yang terpikirkan hanyalah: ingin fasih berbahasa Jepang.

Kemarin, teman dari Jepang juga bertanya kepada saya, "Cita-citamu apa?". Dia datang dengan buku sketsa dan kamera. Dia ingin mengambil foto saya bersama cita-cita yang saya tuliskan. Saya malah ragu.

Saya kira setelah bertambahnya usia saya makin yakin dengan apa yang saya mau dan mempunyai mimpi-mimpi yang jelas, kemudian dari sekarang meniti jalan ke mimpi itu. Ternyata saya jalan berkelok-kelok. Kemudian saya memutuskan untuk menuliskan : "Translator, ほんやく” di buku sketsa teman saya itu.
***

Yakin?

Saya menulis skripsi aja dulu deh.

22 April 2013

Cowok Jepang vs. Korea

Ini adalah ide yang tercetus ketika ngobrol iseng dengan Shin (Qin, sebenarnya) tentang panggilan sayang di Jepang.

Ya, ketika di sini pun saya masih tergila-gila sama yang namanya Korea, ehm, Selatan. Apalagi di lantai apartemen saya ada tiga orang Korea, dua cewek, satu cowok.

Tapi yang bakalan dibahas adalah cowok saja. Sesuai judul. Dia dianggap mewakili Korea secara keseluruhan. *apadeh*

Dan tentu saja postingan ini hanyalah opini saya.

***
Cowok Korea itu sepertinya memang dibuat untuk bisa berlaku romantis. Untuk kasus saya, dia setiap minggu, setiap hari Senin, selalu menuliskan surat untuk ceweknya. Berlembar-lembar. Terus diselipin hadiah-hadiah kecil. Pas aku pegang surat yang dia tulis, tiba-tiba dia bilang -dalam bahasa Jepang, tentunya- "Nad, cewek suka yang gini kan ya? Dikirimin surat, trus dikasih hadiah kecil-kecil. Ya kan ya? *wink*" Oke. Kedipan matanya nggak nahan. Terima kasih.

Kemudian pula, di FB paling nggak dipasang tuh status "in relationship"

Cowok Jepang? Ay ay ay. Buru-buru romantis. Kalau misalnya nggak kepo maksimal atau nanya langsung, kayaknya aku bakalan ngira mereka single alias jomblo semuanya. Nggak pernah terlihat bareng pacar! Dan kayaknya pacar itu adalah nomor sekian dan sekedar untuk  hiburan di penghujung minggu. *serius*

Cowok Korea, kayaknya sebenarnya nggak ada masalah tuh dengan skinship. Berbeda banget dengan yang aku lihat di reality show sejenis WGM. Malah lebih rileks. Beda dengan cowok Jepang yang (tertangkap oleh mata saya) agak kaku kalau tiba-tiba digandeng tangannya. *bukan oleh saya*

Kebalikan dengan dandanan cowok Jepang yang hebyooh tenan-sampai cukur alis, rata-rata gaya berpakaian mereka kasual. Dan mungkin karena sebelum masuk ke perguruan tinggi mereka udah wamil, jadinya dewasa gitu.


***
Yang terakhir, panggilan sayang ke cewek. Berbeda dengan Korea yang punya panggilan sayang seperti "babo", "chagiya", "yeobo", Jepang hanya punya "anata" untuk mendeskripsikan kata sayang. Itupun kalau sudah menikah. Jika sesama teman kemudian menyebut 'anata', itu hanya berarti 'kamu'. Jadi kalau suami manggil istrinya 'anata' itu adalah panggilan sayang yang bisa berarti "cintaku~~"

Jadi memang agak susah mencari padanan "sweety", atau "honey" di bahasa Jepang :)

30 October 2012

Bahasa Indonesia dan Masalah Saya

Lama tidak menulis. Tunggu sebentar, saya mau membuat alasan:
1. Sibuk kuliah dan mengerjakan tugas
2. Sibuk kerja
3. Sibuk bermalas-malas ria
4. Sibuk menonton drama Korea
5. Sibuk memikirkan apa yang ingin ditulis
6. Tidak ada ide untuk menulis

Namanya juga alasan, sesuatu yang dibuat untuk alas, membenarkan semua perilaku.

Bingung? Saya juga.

***
Sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak menulis dan seharusnya saya HARUS lebih giat menulis melihat rekor jumlah tulisan yang turun setiap tahunnya; menandakan tingkat kemalasan yang terus meningkat setiap tahun.

Namun karena sebuah artikel di majalah tentang bahasa Indonesia, saya menjadi tergerak untuk menuliskan sesuatu. Judul artikel itu:

"Nasib Bahasa Indonesia: Sudahkah Bahasa Ini Menjadi Tuan di Negeri Sendiri?"

Artikel tersebut membahas tentang pemakaian bahasa Indonesia yang semakin kacau dan hanya sebagian orang mau bersusah payah membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia untuk menaati kaidah berbahasa yang benar. Belum lagi masalah bahasa Indonesia yang semakin tersingkir karena penuturnya lebih memilih untuk menggunakan bahasa asing agar terlihat lebih bergengsi. Masalah selanjutnya adalah kesulitan padanan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, ke bahasa Indonesia karena perbedaan jumlah perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia, dan jangan lupa: tingkat kesulitan dalam mempelajari bahasa Indonesia.

Beberapa tugas kuliah mengharuskan saya untuk menerjemahkan jurnal ilmiah ke dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar agar dapat dirangkum dengan menggunakan kalimat yang saya buat sendiri. Karena bukan termasuk orang yang mempunyai kosakata bahasa Indonesia yang banyak, maka saya sempat beberapa kali harus memutar otak untuk menerjemahkan beberapa kalimat, seperti: "... the nature of business itself..." Saya sempat menerjemahkan kalimat itu menjadi: "... sudah menjadi sifat alami bisnis itu sendiri..," tetapi kemudian saya merasa janggal, sehingga saya kutip saja keseluruhan kalimat tersebut. Begitu juga ketika harus menerjemahkan istilah-istilah ekonomi ke dalam bahasa Indonesia dan ketika harus menyerap beberapa kata dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Ragu, apakah kata yang saya serap ini sudah ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Teringat juga tugas seorang dosen agar mencari padanan kata "efektif" dan "efisien". Saya menjawab "tepat waktu" dan "tepat guna". Ternyata ada yang lebih sepadan, "mangkus" dan "sangkil"! Belum lagi berbicara tentang bahasa gaul. Kata-kata yang sedang populer akhir-akhir ini, "Ciyus?", "Miapah?", "Enelan?" seakan-akan menjadi gaya bertutur bahasa yang harus dipakai. Gaya bicara seorang balita ini diadopsi menjadi bahasa gaul dan, menurut saya, akan merusak pemakaian bahasa Indonesia itu sendiri walaupun hanya sekedar tren sesaat.

***
Saya merasa kurang membaca buku-buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga merasa asing dengan bahasa Indonesia. Dulu, ketika masih menjadi "Anak Bahasa", saya rajin menyambangi perpustakaan daerah untuk membaca buku kumpulan artikel bahasa dari Kompas. Artikel-artikel tersebut membahas hal-hal seperti kesalahan berbahasa, kata yang seharusnya dipakai, perbandingan antara bahasa Indonesia dengan bahasa lain, sejarah suatu kata, dan sebagainya. Membosankan? Tidak, sama sekali tidak. Buku tersebut seakan memuaskan dahaga saya akan bahasa yang saya pakai sehari-hari: Bahasa Indonesia. Saya jadi rajin untuk mengoreksi bahasa yang dipakai teman-teman: China, bukan Cina; Orang Indonesia bukan Indon; tidak ada kata 'Pemimpin' tetapi 'Pimpinan'. 

Mencoba bertutur dan menulis memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda Indonesia. Contoh terdekat di lingkungan saya: kedua adik saya. Semua nilai ujian tiap semester mereka di mata pelajaran pengetahuan alam, sosial, bahasa Inggris selalu di atas sembilan, tetapi ketika pelajaran bahasa Indonesia, yang tercetak di lembar nilai adalah angka tujuh. Miris. Jangan lupakan saya sendiri: tulisan di blog ini rata-rata memakai bahasa campur-aduk. Karena tertohok oleh artikel yang saya baca tadi, saya kemudian memutuskan untuk menulis sesuatu dalam bahasa Indonesia, yang mungkin, sedikit baik dan benar.

***
Kemudian, apa yang harus dilakukan agar bahasa Indonesia menjadi tuan di rumah sendiri? Alih-alih menjadi tuan di rumah sendiri, sang empunya rumah pelan-pelan diusir. Arus globalisasi yang semakin besar membuat tata bahasa Indonesia semakin centang perenang, berantakan. Dalam satu kalimat terkadang pembicara menyisipkan beberapa kata dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, sehingga terdengar, aneh. Tetapi bagi orang yang sudah biasa mendengar (atau malah sering melakukan hal itu) kalimat-kalimat campur, hal tersebut adalah biasa.

Hal yang dapat dilakukan untuk dapat menjadikan bahasa Indonesia menjadi tuan di rumah sendiri adalah dengan berusaha untuk selalu memakainya dengan baik dan benar, walau terkadang terdengar repot. Saat menyajikan tugas di depan dosen, berusahalah untuk bertutur menggunakan kalimat tanpa kata bahasa asing. Rajin membuka kamus untuk menghafal kata baru dan memakainya dalam kalimat. Belajar bahasa apapun hal yang pertama kali harus dilakukan adalah menghafal perbendaharaan kata. Tidak mungkin untuk mempelajari bahasa Anda langsung mempelajari tata bahasa tanpa kosakata. Terakhir, miliki rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Menilik negara-negara tetangga, Korea, China dan Jepang yang bersikeras untuk memakai bahasa nasional mereka sendiri dalam bahasa pengantar di perguruan tinggi negara sehingga mau tidak mau kita lah yang harus mempunyai kompetensi dalam berbahasa negara tujuan agar dapat mengikuti kuliah. Mereka bangga atas bahasa mereka, menggunakannya dengan baik dan benar dan tidak merasa bahasa Inggris sebagai bahasa terhormat yang harus dipuja-puja sehingga meninggalkan akar bahasa mereka sendiri.

Susah? Siapa yang bilang bahasa Indonesia mudah? Kita hanya merasa mudah karena sudah bertutur bahasa Indonesia sejak bisa berbicara. Kemudian, bagaimana dengan penutur bahasa daerah yang bahkan tidak tahu bahasa Indonesia?

"KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA"

Bukanlah hal yang mudah untuk berjanji menggunakan bahasa Melayu (akar bahasa Indonesia) untuk menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pasti banyak yang susah menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian mereka. Untuk itulah ada pelajaran bahasa Indonesia di sekolah, walaupun tidak bisa bergantung sepenuhnya kepada sekolah. Menurut saya, biarlah hal tersebut menjadi keberagaman budaya. Negeri ini punya pemuda-pemudi hebat yang akan berusaha untuk bertutur dengan bahasa persatuan tanpa meninggalkan bahasa daerahnya.

Jangan pesimis! Ayo dudukkan sang Tuan di rumah sendiri! :)

20 November 2011

Aku. Kamu. Dia

Aku. Aku. Aku. Aku. Kamu. Kamu. Dia. Aku. Kita.

Kamu dan Dia. Masalah. Tidur. Makan. Bertengkar. Sibuk sendiri. Ah, ah, tidak. Kamu dan Dia. Masalah. Bertengkar. Sibuk sendiri. Makan. Tidur. Bangun. Sarapan hari ini apa ya? Keluar. Memikirkan kamu. Ambil telepon genggam. Menulis. Ah, hapus! &%%$#! Menulis lagi. Aku cinta kamu, kangen. Ah, jangan. Hapus. Rewind. Aku lapar. Makan saja.

Pulang ke rumah. Kerjaan. Banting pintu. Kamu. Kamu. Kamu. Konsentrasi. Mengetik. Selesai. Istirahat. Apa mungkin makan lagi? Telepon kamu? Nggak. Penasaran. Lihat telepon genggam berkali-kali. Banting. Kesal. Ambil kunci. Jalan. Sial. Capek. Mengantuk. Tidur. Sial. Pagi. Kerja. Istirahat. Sendiri. Kamu. Kamu. Kamu. Dia. Gengsi. Sayang. Penasaran. Aku. Aku. Makan. Minum. Cengkerama. Lupa. Senang.

Pulang. Istirahat. Komputer. Ah! Wallpaper. Kamu. Aku. Cinta. Dia.

Pembohong. Penipu. Benci. Hapus. Hapus. Hapus. Lupa. Lupa. Lupa.

Mati saja.

Iya. Mati saja. Seandainya semudah itu.

:untuk seorang stalker.

Hate you!

inspirasi: Staccato. Djenar Maesa Ayu. Ternyata aku ingat karya ini!

11 November 2011

Für dich - Yvonne Catterfield


Ich spür dich, in meinen Träumen,
Ich schließ dich darin ein, und ich werd immer bei dir sein.
Ich halt dich, wie den Regenbogen, ganz fest am Horizont,
weil mit dir der morgen wieder kommt.


Für dich schiebe ich die Wolken weiter,
sonst siehst du den Sternenhimmel nicht.
Für dich dreh‘ ich so lang an der Erde,
bis du wieder bei mir bist.
Für dich mach ich jeden Tag unendlich,
für dich bin ich noch heller als das Licht.
Für dich wein‘ und schrei und lach und leb ich,
und das alles nur für dich.


Und wenn ich dich so vermisse, bewahr ich die Tränen auf,
für dich, du machst ein Lachen draus, für mich.
Ich hör dich ganz ohne Worte, ich fühle wo du bist,
auch wenn es noch so dunkel ist.


Für dich schiebe ich die Wolken weiter,
sonst siehst du den Sternenhimmel nicht.
Für dich dreh‘ ich so lang an der Erde,
bis du wieder bei mir bist.
Für dich mach ich jeden Tag unendlich,
für dich bin ich noch heller als das Licht.
Für dich wein‘ und schrei und lach und leb ich,
und das alles nur für dich.


Ich hör dich ganz ohne worte, ich fühle wo du bist,
auch wenn, es noch so dunkel ist.


Für dich schiebe ich die Wolken weiter,
sonst siehst du den Sternenhimmel nicht.
Für dich dreh‘ ich so lang an der Erde,
bis du wieder bei mir bist.
Für dich mach ich jeden Tag unendlich,
für dich bin ich noch heller als das Licht.
Für dich wein‘ und schrei und lach und leb ich,
und das alles nur für dich.


Für dich schiebe ich die Wolken weiter,
sonst siehst du den Sternenhimmel nicht.
Für dich wein und schrei und lach und leb ich, nur für dich
===

9 November 2011

France!

"Le jeu commence!"
"Je m'apelle, Marshall."
(Barney and Marshall - HIMYM 7 e9, Disaster Averted)

If you don't know the meaning, just ask Google.

Since I could pronounce "Je t'aime" properly, I have fallen in love with this country, the culture, the language, the history, the museums, the lalala~ you named it!

Especially when it's written in a novel by Hanum Salsabiela and Rangga Almahendra (psstt.. I'd like to take the course he teaches at my faculty :) Maybe next term?) 99 Cahaya di Langit Eropa. How would I translate the title? 99 Lights at European Sky? Nah. I even didn't know about the novel until I stalked. Yes stalked. Nowadays, Facebook becomes a place where you get information besides library. I was curious enough to know Mr. Rangga Almahendra whose friends with a manager @KTM, Mr. Julian Legazpi, gave us, the student of FEB, lecture at MM UGM. Heard that Mr. Rangga has finished his postgrad at Vienna at such young age, I was so interested.

So after that, I planned to search him on internet.

Find him, and him.

Read the information, add as friend. Done.

A night passed and, voila! He confirmed. Now see the scretch on the wall... Oh wait, he wrote a book? With his wife?

Thumbs up.

I opened the link, went to the page. It didn't take time too long until I decided to buy. Online. Right after I read the comment. Sent order, waited for reply, sent the money, got the book. Just 3 days after the lecture. It's special because they gave me their signatures!

I read the book. I cried.

This book touched my heart, the France part. I envy.

If you read The Da Vinci Code by Dan Brown, and Autumn in Paris by Ilana Tan, you know that books are the same, fiction, ok, Brown's is sci-fi (is it?) But 99 Cahaya di Langit Eropa? It's a knowledge, maybe people didn't know until they read the novel.

Why French loves their culture. Now I know that French barely use English!
What part of France you have to see while in there.
What's so interesting about France and the riddle there, the history.
What's hidden in the heart of France, Eiffel, Arc de Triomphe.
I used to hate Napoleon, just love his poems, but now, because of the novel, I started to look for his biograph.

Mezquita, Hagia Sophia, Kara Mustafa Pasha, Rondo Alla Turca, Mozart, Turkey, Cordova.

All I could do was murmuring, "Oooh!", "Ah!", "Hhhmm?", "Is it?"

They trailed the evidence, that Islam left something, not something, but maaanyy things in Europe, and it exerted an influence of European culture, history. They describe the places and I felt like I was the third party, who saw their journey.

I also remembered what Mr. Taufikurrahman said in Shariah Economic Discussion:

"If you have a chance to see the world, try to compare Islamic civilization and others. You will see that other civilization are nothing compare to Islam's."

I know. We have ever ruled 2/3 of world and shining the world, when the 1/3 was the dark age, and they, the western, say, in the middle-age.

Back to France. I slowly learn French. Slowly, because I learn by myself. Also other language  I used to hate, German. They say I'm crazy to learn so many languanges then learn about Indonesian folk songs, folklores, folkdance as well, crazy to dream to go around Indonesia. Yes, I am, crazy.

France is my first destination in Europe if I have a chance to go around the world.

I want to see by myself. Because I don't believe that France is good enough to see :p

Amin.
Flag of France, I painted it by myself ^o^

2 May 2011

Glance on The Sky #1 (Adisutjipto-Sepinggan)

I've spent my weekend in Balikpapan.

So what?

Dalam masa yang sangat sempit aku disuruh pulang oleh orang tua. Kamis malam dari Jogja, secepat kilat diantar Ushi-chi, kemudian tancap ke Sepinggan. Weeell done.

Sempat kecewa ternyata penerbangan ditunda sekitar 45menit dari rencana keberangkatan 5.05 pm, jadi sekitar jam 5.50 pm WIB. Menggerutu? Ya, karena aku meninggalkan banyak tugas. Financial Management, Business Law. Maaf ya kawans.

Kepulanganku di masa-masa yang, sangat, sempit ini menimbulkan beberapa kekacauan dan simpang siur berita *hadeh*. Udah 5 orang yang bilang kalau aku bakalan dinikahin. Gerr~ Ternyata aku pulang, baru dikasih tahu, tujuannya cuman satu: vaksin meningitis. Oke, ternyata ada rencana untuk menginjakkan kaki di luar. Alhamdulillah. Insya Allah resolusi tahun 2011 ini tercapai :D Sip.

Oke, itu hanya basa basi basi. Yang ingin kuceritakan sebenarnya adalah: berbicara tanpa mengenal lawan bicaramu di bandar udara, dan, pesawat.

Aku bukanlah orang yang dapat berbicara secara lancar, bukan pula orang yang bisa berbicara secara runtut. Kejadian dimulai pada saat aku memutuskan untuk makan di KFC Adisutjipto sambil menunggu datangnya pesawat. Karena tempat untuk makan sempit, akhirnya aku duduk bersama seorang, hem, ibu atau mbak ya? Dia memulai percakapan:

"Mau pulang, Mbak?"

"Iya, Bu."

Mulai dari percakapan sederhana itu meneliti sifat. Dia bercerita bahwa dia adalah seorang peneliti (sesuai dengan gaya bicaranya, misterius. Menurutku peneliti terkadang introvert dan menyusun jelas perkataannya, ilmiah). Sorot matanya menyiratkan bahwa dia lelah, namun ketika kutawarkan bantuan untuk mengurangi beban yang ia bawa, ia memandangku. Aneh. Dia berjalan cepat seolah aku tidak pernah berbicara dengan dia. Di bandara, percakapan basa-basi itu beberapa kali kualami. Apakah memang itu adalah cara untuk sekedar menghilangkan kebosanan? Atau hanya untuk mengisi waktu?

Aku berpisah dengan ibu itu ketika petugas keamanan bandara mencegatku. Hahahay. Yeah, I mean for security inspection. Aku baru saja mengambil buku dari meja ketika si Satpam langsung menyambar buku tebalku. Aku baru saja ingin bertanya mengapa bukuku direbut begitu saja, sampai beberapa saat kemudian aku tersadar, penampilanku seperti orang membawa bom untuk bunuh diri: tas punggung padat, buku tebal. Aku rasa petugas itu berharap aku akan menyimpan bom buku, mungkin?

Setelah lewat dua lapis pemeriksaan, aku langsung menuju WC untuk menuntaskan panggilan alam. Lanjut ke Periplus. My God, aku menghabiskan uang tabunganku :(

Aku suka suasana bandara. Berbagai macam wajah tampak.

***
Dalam pesawat Batavia, Jogja-Balikpapan, aku tenggelam di dalam novel N.H Dini. Sudah lama setelah Argentuil, baru kemudian ada novel lagi. Aku berasyik-masyuk dengan novel, sampai ketika makanan datang (hey, I always wait for this session, eat while at the sky!) Aku memutuskan untuk mengistirahatkan mata dan memakan roti yang disuguhkan. 

Dan Ibu di sebelahku menyapa.

"Mau ke Balikpapan, Mbak?"

"Iya, Bu."

"Kuliah di mana?"

"U-Ge-Em, Bu."

"Oh, anak saya juga di UGM."

Aku sempat berpikir sejenak. Seingatku aku sudah menjawab pertanyaan itu berkali-kali selama empat semester ini. Dan beban itu tidak berkurang, malah bertambah berat. Memang ada kebanggaan ketika menyandang status sebagai mahasiswa kampus kerakyatan, apalagi fakultas kereta api (Ekonomi n Bisnis :P *peace*) Kadang aku takut ditanya, Mbak, korupsinya kapan selesai? Atau Mbak, berarti mbak tahu dong cara menyelesaikan permasalahan ekonomi di negeri ini? Mbak Neo-liberalisme itu apa sih? Hahah~ *miris*

Tapi percakapan bandara adalah percakapan tentang pencapaian diri. Dibalik kata terucap kemudian tersirat sebuah kebanggaan tentang identitas. Percakapan itu tidaklah membahas secara terang-terangan tentang pekerjaan ibu itu, berapa anaknya, apa yang anaknya kerjakan, pencapaiannya. Namun hanya mengucapkan kalimat tertentu, aku sudah mengerti arah percakapan ini. Satu jurus ketika ada orang yang berbicara dan agak meninggi: diam. Aku mendapat banyak pelajaran sih, khususnya dari teknik berbicara. Bagaimana menyelipkan sesuatu tersirat, bahwa kita juga tidak kalah. :D

to be continued

9 January 2011

Tumblr

Another world of mine:

nad5726.tumblr.com

Just quotes from everyone around me and another wordsmith.

visit me!

21 March 2010

Play and Pause!

Setelah sekian lama hanya update tulisan dengan tugass... Nad memutuskan untuk sedikit lah menceritakan apa yang terjadi dengan kehidupan nad tiga minggu  di bulan Maret nan bahagia ini.

Kawan, tugas tak ada matinya untuk dikerjakan. Kalau tugas itu hidup, mungkin aku tak segan membunuhnya. Dengan tusuk gigi yang hanya limaratusan itu. Nad mulai aktif di SEF, setelah sekian lama tidak ada bahan untuk dipelajari tentang Ekonomi Islam ini. Mungkin nad sendiri akan meng-update blog nad dengan wawancara Mas Bima dan Mas Alfi. TApi itu nanti lah.

Sip, aku sudah mendapat pencerahan. Pengan pause di blog, tapi aku nyatanya onlen tiap hari mejengin imel ama efbe. Dan menemui om google tiap hari untuk menanyakan tugasku. Akhir-akhir ini aku benci ama Om Google.Tugas yang kutanyakan jarang ada.

Padahal buku referensi yang ada bahasa inggris semua. Kata temen nad "aku bakal kumpulin semua buku tebel itu, kalau udah akhir semester aku bakal nge-loak semua!"

Biar jadi banyak maksudnya.

Tapi tetep aja rugi. Wong sekilo cuma dikasih Rp 3500, lalu ngopi aja Rp 300.000,- Rugi gila??

Kulo sinau boso jowo, iki. Walaupun cuma satu-dua kata aku pengen tahu lah setidaknya. Tapi ketika aku pengen belajar Kromo Inggil, temenku pada nyerah semua :( Nggreges rasaning ati :D

Aku sambil memposting, sms-an ama mamah nih. Kangen Masakan beliauuu :( Beliau mau ke mantenan nih...

Dhana jadi ketua PPI UTeM. Aku tidak akan mengucapkan selamat. Habisnya dengan begitu dia banyak terbebani dan.. Ya, aku diacuhkan lagi. :D

Jarang maem jadi kurus. Tapi sekarang aku tahu, nggak enak jadi kurus karena selama 17 tahun hidup, aku mempunyai postur badan yang montok. Jadi ketika aku memperhatikan kaki yang tulangnya mulai menonjol, aku ngeri sendiri, OGAH! Mungkin, aku akan makan banyak lagi :)

Lelucon aneh nambah nih. Ketika aku sedang buat tugas, adek paling kecilku nelpon. Alhamdulillah dia masuk SD.
Ini percakapannya :
Abang : Ce' Inez lagi ngapain?
Aku    : Belajar, Bang. Abang lagi apa?
Abang : Nelpon aja nih. Ce', Ce' belajar yang baik ya...
Aku    : Kenapa emangnya, Bang, belajar yang baik?
Abang : Supaya kayak abang, bisa masuk SD.

Mati ngakak kemarin aku dengernya. Sayangkuu~ polosnya deh Abangg :)

Life's gonna chance, do your best, let Allah do the rest.

Amin

labelnya bakalan banyak nih :)

10 March 2010

The GreyZone

: my first weekly journal

Introduction
There are so many responsibilities of the corporate among the stakeholders, two of them are responsibilities to consumer and responsibilities to local community. What is local and consumer responsibilities? Corporate social responsibility is companies acting voluntarily and beyond the law to achieve social and environmental objectives during the course of their daily business activities. The act can be a hand to local programme  or just minimalize their negative effect to a community. And responsibilities to customer can be memenuhi the rights of consumer. Such as : get safety product, to be heard, informed all about relevant aspect of the product, to choose what they buy etc.
But now, how with tobacco company? Are they responsible among stakeholders, in this case local community and consumer? If they don’t, what is the problem? How to solve that problems?

Discussion
Commonly, tobacco company, especially famous tobacco company, has memenuhi their responsibilities, those are responsibilities to employee, supplier, investor, local community and costumer. For example, giving appropriate wage, inform the financial position, have a good relationship to suppliers, and sponsor many activities, such as environment conservation, giving scholarship and fund the music concert. So, if we asked whether the company has  fulfilled their responsibilities among stakeholders, the answer is yes, they have. But on the other side, the tobacco company has broken one of consumer rights, that is get safety product. Then, tobacco, the product, can cause pollution. But one the one hand, they have a conservation programme, which can be a reforestation programme. Finally, we will find so many things that opposite in tobaccos company responsibilities to the consumer and environment case.
Consumer rights states that consumer have right to get safe products but as we all know that tobaccos full with poison and dangerous thing in it. From nicotine (insecticide), ammonia (toilet cleaner), aracnic (poison), ect. Tobaccos can make pollution and illness, for active smokers and also passive smokers. But tobacco company has excuse. First excuse, that consumer are free to buy all things they want and nobody can forbide them to buy tobaccos. Second, if consumer buy tobaccos, company gets profit. Then the profit is  aside for young generation in scholarships or financial support. This means that consumer who buy tobacco help Indonesia to be better. Third, about pullution and illness, that after sold, tobacco is owned by consumer. When consumer inhale and exhale the smoke then causing pollution, it is consumer’s responsibiliy, not the company’s. For the illness, that is consumer’s choice. If they know the dangerous subtances, why are they still buy and exhale-inhale it?
Based on the processed data from the World Health Organization (WHO) in 2008, that out of every 4 of the Indonesian population was 1 smoker. The total tobaccos smoked per year is 225 billion sticks. It's enough to make a very bad pollution for the environment. These numbers will increase in relevance with the increase of adolescence.
Tobacco company has put themselves toa a greyzone, an area where good and bad things become blur, in assistance with losses and goods for “whitening” or repeal the badness from product they have produced. But, although tobacco company has produce things that harmful to human life, the company can directly closed. Because it will arise effect that not good for tobacco farmers and employees. Tobacco farmers will lose their jobs and cannot supply tobaccos to company, unemployment will increase.
Conclusion
So from previous exposure, in fact, there are more bad things than the good one. By closing the company, hopefully can be the solution. But before closing, in order to avoid bad effect, it is more better to prepare the closing in advance, such as prepare the replacement job for the employees.For example, for the tobaccos farmer, the land can be replaced by planting palms. Slowly the company “rebuilt” the company to a oil processing factory. Then the employee can work in there. In this example we avoid the tobacco/cigarettes bad effect by closing the company. Also we can increasing tax for cigarettes, or avoid to advertising the cigarettes (as American does). But despite of all, one example is more better than thousands advice.

Nadiyah Salsabila
09/280333/EK/17304
Management ‘09

15 January 2010

Yang Muda, Yang Bergairah*

*jangan pada ngeres ato aku yang ngeres? :D


Setelah berjalan-jalan melihat pemandangan jam 12 malam di Jogja.. bohong... Setelah berjalan-jalan di dunia maya melihat dan membaca blog-blog orang... hahahha

aku jadi tersadar,

aku udah lewatin satu tingkat dalam proses pembelajaranku..

berapa lama yah aku disini?

humm

let's count : 2+31+30+31+30+31+14-10-5=

*oh sh#t mana kalkulator?


...


...


...


...


ehm,,154 hari aku disini :D

154:30=5 bulan lebih 4 hari


ya.. kurang 26 hari mau 6 bulan lah

maksa


Semenjak keluar dari rumah, hidupku terasa lebih berwarna karena efek kelir :P


Yah, aku jadi melihat dunia luar dan mengerti plus menyembuhkan rasa sakit untuk menjadi lebih dewasa...


Aku mengerti aku telah menyakiti banyak orang, awal tahun ini pula. Huftt..


Maaf untuk semua kata maaf yang terlambat.


Ketika insomnia datang menyerang, lagi-lagi aku ingin merenung. Aku belum buat resolusi apa-apa nih. Ada banyak keinginan yang menanti untuk diwujudkan.


Pergi ke luar negeri misalnya :D


GOD,

Akhir-akhir ini banyak banget yang namanya buku yang bikin iri memotivasi untuk ke luar negeri, sebut saja Negeri 5 Menara yang kulahap habis dengan Negeri van Oranje.


Dua buku ini sangat-sangat memotivasi untuk berani bermimpi, buku motivasi untuk ke luar negri kedua dan ketiga tentunya setelah tetralogi laskar pelangi. Untuk Negeri 5 Menara (kita sebut buku pertama), masih menyimpan pesan pendidikan, sedangkan Negeri van Oranje (kita sebut buku kedua) hanya bercerita tentang kisah roman 4 laki-laki dan 1 perempuan di bekas negeri kumpeni, Belanda.

Kalau bercerita tentang latar, buku pertama dilengkapi peta di sampulnya, sehingga sambil menikmati jalannya cerita, kita bisa membayangkan kita berada di pondok pesantren, mengikuti semua suasana, berjalan di pondok pesantren. Seakan kita adalah pengamat dari luar aktivitas Alif, Said, Atang, Dulmajid, Baso dan Raja. Nah, sambil juga belajar bahasa Arab (hanya untuk laki-laki, karena perempuan beda pemakaian kata). Tapi ada satu yang terasa mengganjal, deskripsi si Tyson alias Rajab Suja'i diulang beberapa kali. :O Tapi kalau diberi penilaian, buku ini mendapat nilai 8 :D Kita tunggu sekuel selanjutnya dari Negeri 5 Menara. http://www.emocutez.com

Buku kedua, alurnya sih cepet banget dan aku selalu salut dengan roman yang tak bisa kutebak akhirnya (apa aku aja yang bodoh ya?) Dengan TOP banget menggambarkan sudut-sudut kota Belanda lengkap dengan keterangan a la mahasiswa Belanda. Walaupun nggak kesana, serasa sering melihat aja :D Kemudian, petualangan backpackers seperti di Edensor terulang disini :P Ohya, ceritanya dibuka dengan membuat rasa penasaran kita terusik hahahahay. Hum, ceritanya di 3 kota berbeda, 3 cowok mendapatkan 1 pesan singkat yang sama dari seorang cewek. Tidak ada kata-kata yang panjang lebar, tapi membuat 3 cowok itu lari dari kegiatannya dan ingin paling cepat menghampiri cewek tersebut. Ada apa dengan si cewek? :D Baca aja yah.http://www.emocutez.com

Kembali ke MY RESOLUTION
Yah, pokoknya aku pengen banget ke luar negri. Iri banget ama mereka yang bisa bersekolah disana. Huhuhuhu.. Rasa iri itu membakar segenap jiwa, merangsang rasa ingin berusaha lebih dari batas untuk mencapai mimpi, halah.

pokoknya,
AKU PENGEN KE LUAR INDONESIA!!!
NB: Kalau ada yang nawarin aku untuk keliling Indonesia gratis nggak apa kuq :D



NB-nya NB : tapi resolusi ini berlaku 2 tahun kuq. :DDD

3 September 2009

Which one is faster : running slowly or berjalan cepat?

Hahaha...

Ayo teman-teman tebak dulu...

http://www.emocutez.com

Hehehe...

Ini adalah bahan diskusi di kelas Introduction to Business kemaren. Pas lagi bahas tentang sosial-budaya mempengaruhi bisnis. Sebernarnya sih ini bahan renungan untuk kita.

Oke, diskusi dimulai dari dua kalimat dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Yang pertama :

Time is running

Yang kedua :

Waktu berjalan

Dalam bahasa Indonesia memang tidak ada atau mungkin jarang digunakan kalimat : Waktu berlari. yang ada adalah waktu berjalan. Kata dosenku, itu adalah contoh bahwa budaya Indonesia masih jelek (whatever he said, I LOVE INDONESIA)http://www.emocutez.com

Mana budaya yang lebih menghargai waktu?

Jawwabannnya adallahhh *pake gaya Fitrop*

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang kalimat pake bahasa Inggris itu khan?

Yang pake bahasa Inggris : Time is running.
Mereka sadar bahwa waktu itu berlari, bukan hanya berjalan. Nah, kalau waktu sudah bergerak secepat itu, berarti tidak ada yang boleh di sia-siakan. Apapun yang dijalankan, harus tepat waktu karena setiap kegiatan berdasarkan waktu 24 jam yang telah dialokasikan ke masing-masing kegiatan. Dan tidak ada yang terlewatkan. Makan, tidur, jalan, sekolah dll. Budaya luar itu, ketika kita terlambat 5 menit saja, adalah suatu hal yang amat sangat salah. Dan kalau kita tidak punya alasan yang tepat, itu adalah bukti ketidaksopanan kita.
Contohnya saja Jepang, 5 menit terlambat saja itu sudah tidak bisa dimaklumi. Mereka sangat menghargai waktu. Nah, coba baca deh komik-komik Jepang ato Manga. Malahan, kalau misalnya mereka berjanji, ada yang dateng satu jam sebelum waktu perjanjian. Alasannya takut telat.

Beda banget ama Indonesia http://www.emocutez.com *tersudut*

Kalau Indonesia : Waktu berjalan

Ahahay. Nih dia nih budaya ngaret, jam karet, jam dinding, jam tangan, jam Gadang. *halah*

Coba kalau di Indonesia, ada budaya tunda. Biasanya yang diucapkan adalah:
"Iya, nanti aja"

"Iya, tunggu sebentar"

"Iya, nah..."

Nah kata dosenku, kalau bidaya orang luar negeri itu adalah On Time, sedangkan kita adalah In Time. Misalnya kalau kuliah jam 7, orang luar pada dateng yah minimal jam 6.30 lah. Sedangkan kita akan datang jam 7 pas! Ataupun jam 7 lebih lah. Yang penting kuliah masih berjalan...
Orang luar, kalo terlambat, pasti punya alasan dan dia akan meminta beribu maaf. Malah kalau misalnya dia nggak ditungguin gara-gara telat, dia akan menyesal dan menerima dengan lapang dada. Tapi mah kalo kita, udah misalnya telat, ditinggal, eh malah marah-marah ato mencak-mencak. Hahahay!

Capek deh~!http://www.emocutez.com

Trus ada lagi pembahasan lebih jauh antara

TIME IS RUNNING + SLOWLY = TIME IS RUNNING SLOWLY

WAKTU BERJALAN + CEPAT = WAKTU BERJALAN CEPAT

Nah, yang diambil cuma Running Slowly ama Berjalan Cepat.

Mana yang lebih cepat?

Clue-nya : dalam olahraga jalan cepat, nggak boleh berlari lambat.

Jadiiii....?

28 August 2009

Antara Indonesia-Malaysia

Ini menjelaskan, betapa Indahnya Bahasa Indonesia.. :)


INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa ... (oh please...)

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi (Kalo Laut hentak2 aer kali yak?)

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin-Angin

INDONESIA : 'Pasukaaan bubar jalan !!!'
MALAYSIA : 'Pasukaaan cerai berai !!!'

INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi (bageimana cuba ?)

INDONESIA : rumah sakit bersalin
MALAYSIA : hospital korban lelaki (bener juga sih...)

INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA : talipon bimbit

INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut

INDONESIA : belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : pusing kiri, pusing kanan (kalo breakdance apaan?)

INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam (yuu marie,)

INDONESIA : 6.30 = jam setengah tujuh
MALAYSIA : 6.30 = jam enam setengah

INDONESIA : gratis bicara 30menit
MALAYSIA : percuma berbual 30minit

INDONESIA : tidak bisa
MALAYSIA : tak boleh

INDONESIA : WC
MALAYSIA : tandas

INDONESIA : Satpam/sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling (ngarep banget di malingin yak mpe ditungguin)

INDONESIA : Aduk
MALAYSIA : Kacau

INDONESIA : Di aduk hingga merata
MALAYSIA : kacaukan tuk datar

INDONESIA : 7 putaran
MALAYSIA : 7 pusingan

INDONESIA : Imut-imut
MALAYSIA : Comel benar

INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara

INDONESIA :bertengkar
MALAYSIA : bertumbuk

INDONESIA : pemerkosaan
MALAYSIA : perogolan

INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku

INDONESIA : joystick
MALAYSIA : batang senang (maksud loe..??)

INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang (kalo tidur malem "gelap tengkurep" donk)

INDONESIA : Air Hangat
MALAYSIA : Air Suam

INDONESIA : Terasi
MALAYSIA : Belacan

INDONESIA : Pengacara
MALAYSIA : Penguam

INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut

INDONESIA : Ban
MALAYSIA : Tayar

INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh

INDONESIA : kulkas
MALAYSIA : peti sejuk

INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual

INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat

INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing ke bandar

INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal (suntik kale..???)

INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : ketibaan (untung bukan ketibanan)

INDONESIA : bersenang-senang
MALAYSIA : berseronok

INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang

INDONESIA : rumah sakit jiwa
MALAYSIA : gubuk gila

INDONESIA : dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter gila (lu gilaaaaaaaaaaa)

INDONESIA : narkoba
MALAYSIA : dadah

INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan

INDONESIA : hantu pocong
MALAYSIA : hantu Bungkus (pesen atu donk bang!!!)


Postingan dari forum.dudung.net

Terlalu Bodoh :P

Cerita ini sebenarnya cerita waktu aku pertama datang ke Jogja..

Dari Balikpapan, aku nggak bawa peralatan mandiku lengkap. Aku lupa bawa pasta gigi. Nah, setelah mencari warung makan, aku, Rinda, Dina, mampir ke warung. Untunk beli air mineral ama pasta gigi.

Rinda ama Dina nunggu aku di emperan warung, aku masuk agak ke dalam.

Lalu Ibu Penjual (P) keluar dan tanya aku (A)
P : Mau beli apa kak?
A : Mau beli odol, Bu...
P : Setunggal?
A : Haaah? (nggak ngerti artinya setunggal)
P : Setunggal, Kak?
A : (garuk kepala) haaah?
P : Setunggal, Kak? (ibunya juga jadi bingung kuq aku hahh-hahh terus)
A : (melambaikan tangan) bukan bu, bukan mau beli setunggal, saya mau beli odol, Bu...


Dengan PD-nya aku bilang itu.
Lalu Dina bilang ke penjualnya, "Nggih, Bu. Odol'e setunggal"
Trus Dina bilang ke aku, "Nad, setunggal itu satu. Bukan bahasa barang!"

*TEARS*

Segitu bodohnya eh. Aku tahunya kalo satu itu kan Siji. Eh, ini Setunggal. Ya aku kira Setunggal itu Odol.

Hah...

n.b: Bahasa Jawa punya tingkatan. Nah, Siji itu bahasa ngoko. Kalo Setunggal itu Kromo. Ah, jadikan bahasa Jawa bahasa yang kamu mengerti ke tiga di Indonesia setelah bahasa Indonesia itu sendiri dan bahasa asal Ibu-mu atau Ayah-mu.