Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

23 May 2014

Maya

Ya, daun itu berguguran seiring langkahnya pergi.
Entah kemana
Seiring dengan panas bulan Mei
Hujan bulan Juni
Lekang dan melapukkan
Apapun itu
Menggapai maya yang ia lakukan
Terdengar cekikikan
Namun
Buta tuli
Hanya melangkah yang ia lakukan
Berharap salju lenyapkannya

22 February 2014

Tertahan

Sudilah kiranya, walau tertutup awan, kau Dewi Malam, mendengarku. Sudah lama lara ini tidak kau lipur, tak tergurat senyummu di langit.
Entah apa yang kau sembunyikan, tapi biarlah aku berbicara sebentar.
***
Gelas itu berdenting, mereka bercakap, ramai sekali sedangkan aku hanya memperhatikan. Aku hanya memperhatikan.
Kata pun tak terucap, tersendat dalam kerongkongan. Hingga mungkin menjadi jakun, jakun kata-kata.
Aku benci diriku yang merasa aneh, tak dapat berbicara, Dewi. Aku takut mereka tak mendengarkanku, aku takut mereka menertawai apa yang aku katakan.
Tak beralasankah ketakutanku, Dewi?
***
Jawablah, agar tak hinggap lara walau hanya dalam fikir.

25 November 2013

Aldebaran dan Castor, Sekali Lagi

Hai Aldebaran, lama tak melihatmu
Kali ini Castor mencoba melawan takdir
Mencoba memperkecil jarak saat Ras Alhague bertandang
Tetap saja, tetap saja, tetap saja
Walau hanya bintang-bintang kecil yang bertebaran
Ia tetap menjauhkan
Pollux mencoba mengingatkanku
Tapi kau Aldebaran
Pesonamu kuat menusuk
Seperti panah Sagitarius yang langsung mengarah ke hati Orion
Walau tak dilepaskan
Berbahaya
Kita adalah konstelasi yang terpisah oleh bintang-bintang
Berjajar, tapi tak pernah bersatu

20 November 2012

Rasa

Pilihlah
Sekehendak sukma
Melukis segala rupa
Dalam angan pelipur lara

Merindulah
: untuk yang di ujung horison merah


11 November 2012

Senjakala

Hati ini hati yang tertindas
Akan kesewenangan sepi
Otak telah sampai pada beban puncaknya
Mengejawantahkan keadaan
Menterjemahkan perasaan
Bila rona senjakala tiba

:kau ekstasi ketika hitam memeluk langit

28 August 2012

Aldebaran dan Castor

Aldebaran
Aldebaran
Menasbihkan namamu
sebanyak bintang yang membentang
Diantara kita
Melawan manuskrip yang telah tertulis
Oleh goresanNya
Aldebaran,
Harap supernova segera binasakanku
Biar ku jadi lubang hitam dalam sendiriku
Biar ku tak mengharapmu
Wahai bintang paling terang rasi Taurus

14 May 2012

Mengapa?

Mengapa kamu
Selalu
Walau tak terlihat oleh mata
Walau hanya sekedar bayangan
Ada


Mengapa kamu
Selalu
Walau dalam mimpi semu
Walau dalam impian fana
Terbayang


Mengapa kamu
Selalu
Tak pernah berdiam diri
Tak pernah kupegang, dan
Pergi


Mengapa kamu
Selalu
Walau tak pernah kau sadar
Walau tak pernah terucap
Ku rindu


:Nagata :D

26 April 2012

Koin

Tak bisakah kau berdiri tegak memperlihatkan dua sisimu?
Aku lelah memilih
Gambar atau angka?
Angka atau gambar?


Hukumnnya sudah begitu
Gravitasi menarik koin untuk menampakkan salah satu sisinya


Di balik angka ada gambar
Di balik gambar ada angka
Selalu ada sisi yang tak terlihat
Ketika memilih salah satu
Aku hanya bisa berharap, berdoa


Semoga sisi yang aku pilih benar


Karena ketika koin berdiri diantara dua sisi
Ia bisa roboh hanya karena tiupan.



7 April 2012

Enigma

Ah, baiknya ku bercumbu dengan misteri
Menggoyahkan iman
Membuat lara tak bertepi
Menembus garis masa
Mengais-ngais sekelebat bayang

Enigma: Kau

22 February 2012

Dua Belas Menit

Jari ini menari-nari
Sebelum ku memutuskan untuk berlari
Ke arah kiri
Untuk menghampiri
Dirimu, sendiri
Pagi hari
Sebelum aku pergi

Dua belas menit

Anganku melayang
Sebelum ku putuskan untuk terbang
Untuk berpetualang
Diriku, seorang
Kemudian jam berdentang
Dia datang
Jarak, terbentang

Lagi, dua belas menit

: aku membelakangimu sekarang

3 February 2012

Mungkin

Dunia itu sempit
Dan aku tinggal di dalamnya


Dua kali aku melihatmu
Tak satu pun kau melihatku kembali
Entah perasaan itu masih sama atau tidak
Yang ku tahu
Hatiku tak menentu


Bibir itu
Yang melukis senyum
Mata besar itu
Tatapanmu, saat kau menelurusi
Apa yang tertera dalam pandangku
Tangan itu
Menyentuh, merangkul erat diriku


Mataku mengikuti jejakmu
Tak berani menyapa
Resah


Kupalingkan wajahku
:aku bimbang


Sebaiknya aku pergi
Mungkin aku kembali
Mungkin juga tidak


Haruskah ku doakan agar kau bahagia?

19 January 2012

A Heart that Hurt

Luka nang di tangan, kawa dibabat
Luka nang di hati, hancur sekali
-Sapu tangan babuncu ampat, Banjar Folksong-


(Luka di tangan bisa dibalut, luka di hati, membuat hancur)


Sakit hati, iya. Sakit banget. Sakiiiittt banget.
Mau ngacuhin ya salah, mau acuh buat pusing
Hah?
Gila
Semakin tersakiti, ya 
semakin kamu kuat kan menghadapi sakit itu?
Ternyata ya tidak
Kamu mati rasa
Kamu akhirnya tidak merasakan sakit itu
Bahkan kamu bertanya, "Ini sakit hati?"
Sederhana, luka itu menggores
Pelan
Diam
Dalam
Berkali-kali, sampai kau tak meluncurkan kata
Kau membayangkan menghirup udara
Namun rasanya kau berada di ruang hampa
Sesak
Bahkan air mata saja sampai tersumbat
Kau menghela
Tapi tak melegakan
Akhirnya kamu:
diam

6 January 2012

Pertanda

Kadang, tanda tanya dari seberang situ membuat titik dua tutup kurung buat sini


Kadang, tanda seru berbaris dari situ dengan kapital membuat titik dua apostrop dan buka kurung
Sini terkurung dalam murung


Kadang, demi membuat titik dua tutup kurung untuk seberang situ
Disini menabung ribuan tanda tanya


Kadang, ketiadaan tanda dari seberang situ,


Membuat titik

16 December 2011

Lelaki Hujan dan Wanita Hujan

Wanita hujan dan Lelaki hujan. Wanita hujan dan lelaki hujan.
Menembus air yang terus tercurah dari awan, mengingatkan aku tentang lelaki hujan. Aku dan lelaki hujan. Tak terhitung berapa kali hujan datang ketika aku bersama dirimu. Aku dan lelaki hujan tidak bisa bersama. Hujan terus datang dengan lebat jika itu terjadi.

Ah, kamu sang lelaki hujan yang tak aku lihat. Dirimu terhalang hujan. Dan kacamata ku.



Iya, itu kamu lelaki hujan. Lelaki hujan yang membawa roda dua itu terus ku tatap. Tak ingin engkau habis.


Namun wanita hujan itu, wanita hujan itu, wanita hujan itu. Wanita hujan itu mengingatkanku, mengingatkanku kalau kacamata yang kabur karena air curahan hujan dan embun itu membuatmu tak bisa melihat. Wanita hujan yang terus membuat hujan ketika bersamaku. Sama seperti lelaki hujan.

Apa aku sebenarnya adalah hujan yang mendatangi mereka?

Wanita dan lelaki hujan. Terus datang. Membasahi lembar kehidupan.

14 November 2011

Kapan?

Kapan?
Kapan aku akan mengatakannya?
Apa ketika semua sudah purna?
Ataukah ketika langit berpendar?
Atau ketika semua telah berada di belakang?
Atau ketika sebelum kau kunyah kerupukmu?
Sebelum kau ekstasi?


Oh,
Mungkin...


Ketika jarum jam menghadap ke arah yang sama.

7 November 2011

Warna-Warniku


Colors The Day!


Seribu warna itu adalah engkau
Mewarnai hari-hariku

Ketika abu menggulung biru
Kau datang meniupkan semburat kuning matahari
Membuatku hangat :)
Ketika merah menguasai diri
Kau beri segelas jingga dalam gelas bening
Menggoreskan senyum jambon di bibirku
Mungkin, putih tidak menghalangi terik
Namun berjalan bersamamu di bawah coklat
yang memegang hijau
Cukup membuat jantungku melewati satu denyutan

: ku pikir kau lebih dari seribu warna

31 October 2011

I Was Wondering


When I Was Waiting...




There I am
Trying to make my heart calm
Jet plane reminds me of you
And your hug, oh so warm
Time's running and
outside, it's raining
I am leaving
: i hate the moment i fly at the sky

Sepinggan Airport, October 30th 2011

15 June 2011

Tanpamu

Masih dengan malam yang kurasa selalu panjang
Menantikanmu dalam waktu-waktu sebelum aku terjaga panjang
Hanya untuk menantikan sebuah sapaan yang, ntah kapan akan terucap
Meredam detak jantung yang semakin tidak normal hanya dengan bayangmu

3 May 2011

Titihati

tiktoktiktok
nyanyian si jarum detik yang tak henti berdetak
kehidupan berjalan dan kau
seenaknya saja
Bila tak tahu kapanpun waktu menjawab

Waktu yang membawaku iri dalam kata
Yang hanya kusimpan dalam hati
Taktaktak
Tak akan aku mengelak dari perasaan ini

Aku hanya diam

Tiktoktiktok
Hanya waktu menyaksikan segala iri tertanam di benak
Subur, tumbuh berurat dan berakar

:menunggu saat tepat untuk dipuaskan 

18 April 2011

Hujan

Hujan I

Siang kala itu meredam terang
Langit mengumbar mendung menggulung
Ingat hujan?
Ketika di jendela tergambar titik-titik air
Sendu dan rindu

Hujan II

Membayangkanmu, memikirkanmu
Ketika namamu ku eja pelan
Saat berteduh dari hujan
Menghangatkan hati
Memutar verbatim dirimu

Hujan III

Tak, hujan tak meredam detak jantungku
Hujan tak menghilangkan jejakmu
Hujan, ia selalu mengingatkanku akan dirimu
Dan payung itu