Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

22 April 2013

Cowok Jepang vs. Korea

Ini adalah ide yang tercetus ketika ngobrol iseng dengan Shin (Qin, sebenarnya) tentang panggilan sayang di Jepang.

Ya, ketika di sini pun saya masih tergila-gila sama yang namanya Korea, ehm, Selatan. Apalagi di lantai apartemen saya ada tiga orang Korea, dua cewek, satu cowok.

Tapi yang bakalan dibahas adalah cowok saja. Sesuai judul. Dia dianggap mewakili Korea secara keseluruhan. *apadeh*

Dan tentu saja postingan ini hanyalah opini saya.

***
Cowok Korea itu sepertinya memang dibuat untuk bisa berlaku romantis. Untuk kasus saya, dia setiap minggu, setiap hari Senin, selalu menuliskan surat untuk ceweknya. Berlembar-lembar. Terus diselipin hadiah-hadiah kecil. Pas aku pegang surat yang dia tulis, tiba-tiba dia bilang -dalam bahasa Jepang, tentunya- "Nad, cewek suka yang gini kan ya? Dikirimin surat, trus dikasih hadiah kecil-kecil. Ya kan ya? *wink*" Oke. Kedipan matanya nggak nahan. Terima kasih.

Kemudian pula, di FB paling nggak dipasang tuh status "in relationship"

Cowok Jepang? Ay ay ay. Buru-buru romantis. Kalau misalnya nggak kepo maksimal atau nanya langsung, kayaknya aku bakalan ngira mereka single alias jomblo semuanya. Nggak pernah terlihat bareng pacar! Dan kayaknya pacar itu adalah nomor sekian dan sekedar untuk  hiburan di penghujung minggu. *serius*

Cowok Korea, kayaknya sebenarnya nggak ada masalah tuh dengan skinship. Berbeda banget dengan yang aku lihat di reality show sejenis WGM. Malah lebih rileks. Beda dengan cowok Jepang yang (tertangkap oleh mata saya) agak kaku kalau tiba-tiba digandeng tangannya. *bukan oleh saya*

Kebalikan dengan dandanan cowok Jepang yang hebyooh tenan-sampai cukur alis, rata-rata gaya berpakaian mereka kasual. Dan mungkin karena sebelum masuk ke perguruan tinggi mereka udah wamil, jadinya dewasa gitu.


***
Yang terakhir, panggilan sayang ke cewek. Berbeda dengan Korea yang punya panggilan sayang seperti "babo", "chagiya", "yeobo", Jepang hanya punya "anata" untuk mendeskripsikan kata sayang. Itupun kalau sudah menikah. Jika sesama teman kemudian menyebut 'anata', itu hanya berarti 'kamu'. Jadi kalau suami manggil istrinya 'anata' itu adalah panggilan sayang yang bisa berarti "cintaku~~"

Jadi memang agak susah mencari padanan "sweety", atau "honey" di bahasa Jepang :)

Postingan Random tentang Budaya

1. Beberapa gaya teman-teman disini selalu aku perhatikan. Ajaib. Aku selalu berandai bagaimana jika cowok-cowok di Indonesia berpakaian seperti beberapa mahasiswa disini. Jangan salah, ada yang cuma pake training suit ke kampus. Belum lagi celana (yang menurutku celana tidur) yang di belakangnya -bokong- bertuliskan, "I am fabulous" bertinta emas, dipakai di kampus. Heboh dah.

Tapi ada dua cowok yang selalu menarik perhatianku. Untuk yang pertama, sebulan ini, aku jarang banget ngeliat dia pake baju sama. Kemudian yang kedua, berani pake tribal motives tabrak lari, plus alis yang dicukur.

Untuk yang cewek? Bukan ajaib, tapi azaib. Kadang bisa jadi feminim, kadang bisa jadi tomboy abis. Kayak keluar dari komik. :|

2. Orang Jepang rata-rata sopan dan teratur. Kata pak Amir, sebagai orang yang datang dari negara berkembang, hidup di negara maju itu mudah, dan berlaku sebaliknya. Menunggu di halte bus juga begitu. Kalau terlambat, antriannya panjang. Pertama sih aku kaget harus buat antrian untuk masuk ke dalam bus. Jadi harus berpanas-panas ria. Tapi lama-lama jadi kebiasaan dan, alarm, supaya lebih cepat datang ke halte bus.

3. Vending machine ada dimana-mana. Yang aku temui sih permen, minuman, rokok. Dan aku sangat udik sekali sering beli di vending machine. Padahal hitungannya mahal.

4. Nggak ada toko grosiran, atau belanja kebutuhan rumah tangga seabrek-abrek. Salah satu yang patut diteliti sebenarnya. Orang sini biasanya hanya membeli barang kebutuhan rumah tangga dalam jumlah kecil dan sering berbelanja. Alasan mereka untuk membeli barang dalam jumlah kecil adalah: supaya nggak ada yang terbuang. Jadi mereka lebih memilih untuk sering belanja daripada ada yang terbuang karena nggak dimakan :3

5. Permulaan musim semi, waktunya berkebun. Tapi hanya yang tua-tua saja yang terlihat gigih menanam bawang daun (玉ねぎ) bermacam-macam bunga. Ah, ngomong-ngomong soal bunga, bougenville yang di Indonesia bertaburan, disini dijual mahal gelak (bukan gila lagi). Nggak tahu tepatnya bunga itu dijual berapa, tapi yang jelas dijual di dalam mall. Tebak deh berapa harganya.

6. Jalan kaki kemana-mana. Sumpah kalau ini benar-benar bikin kaki jadi lecet-lecet. Pernah banget nih merasa tertipu *asek*. Jadi ceritanya diundang pesta, trus temen-temen pada ngeyakinin aku kalau jarak tempat pesta itu hanya 20 menit jalan kaki. Ternyata, dong, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah. Bahkan rumahnya terletak lebih tinggi dari sekolah ku :/ Total? 40 menit jalan kaki plus misuh-misuh.

Overall, yang jadi kuat itu adalah tubuh bagian bawah. Tapi tubuh bagian atas kurang gerak :|
***
Sekian dulu sih. XD

Postingan Telat

*apadeh artinya kan yak.

Beberapa postingan sebenarnya aku tulis di blog mahasiswa internasional HUE. Jadinya blog ini dan beberapa project lain terlantar.

Karena sudah lama nggak berbahasa Inggris, jadinya kemampuan deskripsi hanya sebatas menjelaskan foto. Padahal harusnya aku bisa lebih dari itu :'(

**

Ah, kabar di sini? *siapa yang nanya coba?* Permulaan musim semi, jadi cuaca masih fluktuatif. Kadang aku harus mendekam dalam futon, kadang malah pengen makan es krim mulu. Bzzztt.. 

Pelajaran? Alhamdulillah baik-baik saja. Ada satu kelas yang penghuninya cuma aku, kemudian serasa selalu diperhatikan. Jadi pas aku harus menjelaskan ideku, entah kata-kata dalam bahasa Inggris-nya serasa hilang, menguap.

Kesehatan? Alhamdulillah sehat, walaupun terkadang aku bingung harus makan apa karena terbatas di sayur, daging (ayam dan sapi), dan sayuran. Itu patut sekali disyukuri. Belum lagi teman-teman yang sudah seperti bodyguard ketika aku makan. Sering pas aku beli makanan bareng mereka, mereka duluan yang pesan menu buatku, khusus. Nggak ada babi dan teman-temannya alkohol. Aku sih tinggal terima. ^^

Asmara? *asek* Kata Indah eonni ama Rina eonni nih: "Jauh-jauh ke Jepang malah keserempet *****" =sensor=. Ah btw, cowok Jepang itu ya, sopan amat ama cewek. At least yang aku temui disini.

Intinya alhamdulillah masih bahagia disini. ^^ 

22 March 2013

Rapelan

Rapel - Gabung

Jadi post ini untuk menggabungkan beberapa kegiatan saya selama bulan Maret. XD

Setelah ke Surabaya, saya ikut Indonesia Contribution Project atau biasa disebut In-P (インーP) gawean anak-anak Hiroshima University of Economics, universitas tujuan saya.

Bicara tentang menemani mereka, sumpah dah, stamina mereka hebat abis =.= (apa karena saya yang keberatan badan?) Malam jam 12 sampai di Jogjakarta, jam 10an udah pergi keliling Malioboro. Rute Inna-Garuda-Mirota Batik-Inna Garuda. Belum lagi keliling Amplas 3 jam (hampir semua toko dijabanin!), naik-turun Gunung Merapi, dan lagi keliling Malioboro 6 jam!

6 jam sodara-sodari.

Itu sih kegiatan yang menghabiskan banyak energi. Yang lain sih biasa, seperti menemani mereka ke Lawean, satu tempat kerajinan tangan di daerah Bugisan.

Lebih tepatnya, merecoki. :p

***
Melihat mereka, saya jadi bergumam sendiri. Pertama, waktu untuk fokus bekerja dan bermain. Work hard, play harder. Kalau sudah waktunya menjalankan program, yang ketawa hampir nggak ada! Serius mencatat, merekam, bertanya. Tapi kalau sudah jalan, weleh. Kedua, Indonesia ini toleran banget. Nggak bisa bahasa Jepang, bersusah payah cari translator. Orang yang nggak suka sempit (padahal yang lain sempit-sempitan), di kasih seat khusus :D Ketiga, belajarlah bahasa Jepang dan korek telinga sebelum bercakap-cakap dengan mereka. Bahasa Inggris mereka sama sekali tidak bisa diandalkan. Ini yang bikin desperado sebenarnya. Akhirnya setiap harus berkomunikasi harus menggunakan empat bahasa: Bahasa Jepang (yang alakadarnya), Bahasa Inggris (yang sumpah bikin bingung kalau mereka bicara, karena ada logat Jepang), Bahasa Tubuh, dan Bahasa Kalbu.

Ke-empat, cowoknya juga doyan dandan, walau nggak se-ekstrim Korea. Minimal catok rambut :3 Nggak heran kan kalau rambut mereka ala polem semua. Persis yang ada di komik-komik.

Yang paling penting aku sudah punya teman yang siap ngajak main disana :D

***
Back to Surabaya.

Sempat dibawa muter-muter ketika di Surabaya, membuat saya lebih berhati-hati kalau memilih taksi =..=" Sial banget kalau yang ini, harusnya hanya bayar 10k, karena dibawa muter-muter, jadi dua kali lipat.

Rasanya ingin menulis seluk-beluk dan tips-trik perjalanan menuju Konsulat Jendral Jepang di Surabaya.

***
TInggal beberapa hari lagi, dan yang saya lakukan hanyalah bersantai di rumah.

***
Ini foto-foto anak-anak In-P :)
Start :D

Flyyy!!
anw: untuk belajar, ini blog saya yang lain :)

1 August 2011

Part Four : Truth or...


Day 2, June 30th 2011
Shubuh, 2.30 am KSA
Kriiiinggg…!
Telepon kamar berbunyi.
“Hmm?”
“Ayo siap-siap. Papa udah mandi nih.” Sahut suara di seberang sana.
“Ya…” Aku pun menutup telepon. Dengan mata setengah tertutup aku menyuruh dua adikku untuk bangun dan mandi. Ampun deh, kalau mereka berdua mandi lama banget. Jadinya aku suruh duluan.
Belum rela melepaskan kepala dari bantal.
Capek sih, tapi tetep aja rasa capek itu dikalahkan oleh rasa ingin ke masjid, berbaur dengan orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Well, selain keluargaku maksudnya. Tubuhku mendapat 30 menit tambahan untuk tidur ayam, setelah itu giliranku untuk mandi. Niatku, menggosok gigi dengan air hangat. Setengah terpejam diriku menarik keran ke atas. Yeah, kemalasanku itu ditegur secara langsung oleh Allah: keran yang kutarik ternyata mengarah ke air panas. Karena sempat memejamkan mata, aku tak tahu air meluber. Sip, tangan terbakar. Mataku langsung melek.
Mandi.
Berganti kerudung, jilbab.
Ke kamar papa dan berbarengan keluar hotel dengan abang yang masih terkantuk-kantuk. Gemas rasanya melihat adik lelaki satu-satunya itu. Wajahnya persis denganku, dan badannya, montok berisi. Kalau melihat sifatnya, aku sendiri kadang malu. Dia punya hati besar untuk memaafkan, namun tidak mau kalah :D Trus, kalau dirasanya orang itu ganggu hanya sekedar untuk buat jahil aja, atau nggak ada kepentingan, Masya Allah cueknya :D Kagum dia bisa milih mana yang penting atau nggak. Peka banget lagi ama keadaan, dewasa deh dari aku.
Seneng rasanya kalau minta peluk ama dia, dikasih pelukan hangat.
Tanpa pamrih.
Well, sembari memikirkan hal itu aku turun dengan lift. Sebelum keluar hotel, sekilas aku melihat sesuatu di jalan sebelah kanan. Teroreeett: The Body Shop! Aha! Alhamdulillah akhirnya bisa membeli lipbalm. Bibirku kering kerontang, sariawan tambah parah. Yah, mungkin ntar Dzuhur baru minta deh ama bapak nan ganteng rupawan :)
Shubuh jam 4.04 dan sekarang masih jam 3.00.
Berjalan kaki bersama keluarga, ke masjid. Jarang-jarang sih selain tarawih, sholat Id Al-Adha ama Id Al-Fitri. *miris* Abang dan Papa berjalan ke pintu masuk laki-laki, dan aku hanya menatap punggung mereka berdua. Papa memegang tangan abang dan muncul pernyataan di benakku, aku dulu juga begitu :)
Aku, si Kembar, Mama dan oma masuk di pintu 16, kalau nggak salah pintu Umar bin Khatthab, CMIIW :D Diperiksa-periksa tuh ama polisi wanitanya. Eniwei, nggak boleh bawa handphone berkamera dan kamera disini. See, sebenernya yang nggak boleh difoto disana adalah makhluk hidup, tapi kalau arsitektur masjid sih nggak apa. Kalau ketahuan bawa kamera ya akan diambil sama polisinya. Yang bawa uang juga cuma papa, dan yaa kalau bawa uang nggak usah banyak-banyak, kan niatnya mau ibadah, bukan belanja-belanja.
Begitu masuk ke dalam masjid, aku hanya bisa terpukau, dan menggigil. Dingin banget disana. Penyejuk ruangan itu menyatu dengan pilar-pilar penyangga. Al-Qur’an bertebaran dan bertong-tong air zam-zam tersedia untuk semua jama’ah yang kehausan. Aku menengadah, arsitektur khas timur tengah. Asma Allah tertulis dimana-mana, kubah masjid yang bueesaarr dan itu loh, desain belang-belang. Ntah bagaimana aku menjelaskannya. Bingung.
Ah, masjid masih sepi.
Kami mengambil tempat yang beralaskan karpet tebaaal. Huwah, halus, bersih. Hidungku menghendus, hatiku bersorak. Tidak ada debu cuy! Bebaslah aku dari penderitaan bersin-bersin sepanjang Shubuh. Alhamdulillah duduk di dekat pilar. Langsung aku mengambil mushaf dan mulai membaca. Sebentar-sebentar aku bersyukur, mengagumi, takjub. Aku disini, dimana sekitar kurang lebih seribu empat ratusan tahun lalu para shahabat, kaum muhajirin dan anshar, berkumpul untuk mendengarkan ajaran dari Rasulullah. Tempat iman diuji dan ditempa, tempat untuk menyusun strategi dan tempat dimana Rasulullah tinggal bersama ‘Aisyah.
Kemudian, ada ibu muda bersama anaknya yang masih kecil datang dan duduk di sebelah mama. Waw, wanita ras Arya emang top markotop dah. Idung mancung, bulu mata lentik, tinggi dan mempunyai tenaga kuda. Tentang yang satu ini ku buktikan ketika berada di Makkah. Nantilah akan kuceritakan itu.
Setelah rangkaian surah Ad-Dhuha sampai An-Nas kuselesaikan, kututup  dan kucium mushafku. Aku menatap anak kecil yang ditidurkan di karpet. Waw, tentu hebat wanita muda ini menyiapkan segalanya dan pergi ke masjid untuk beribadah. Tebakanku, dia bukan orang yang berumrah. Karena dia membawa tas (bermerk euy) yang diisi susu anaknya, makanan anaknya, dompet, handphone dan sesuatu yang bergemerincing, mungkin kunci. Ngintip? Iya. Soalnya penasaran. Apalagi untuk menenangkan anaknya dia perlu membuka tasnya berkali-kali dan mengobrak-abrik isinya.
Selang adzan pertama dan kedua cukup lama sehingga aku memejamkan mataku sebentar dan berusaha keras untuk tidak jatuh tertidur. Gaswat kalau tidur karena aku tidak tahu dimana tempat untuk mengambil wudhu. Dan tidak ada jaminan aku akan kembali ke tempat dimana keluargaku berkumpul. Belum lagi bersinggungan dengan orang-orang yang bertubuh besar.
Setelah berkali-kali tidur ayam, akhirnya adzan yang ditunggu datang juga. Ah sebelum itu Papa sudah memberitahu kalau sebelum bacaan surah pendek akan ada jeda, dan pada waktu tersebut para ma’mum membaca surah Al-Fatihah. Memang berbeda dari biasanya, tetapi itulah yang benar :) Shubuh selesai sekitar jam 5 KSA dan kami sekeluarga langsung menuju hotel kembali.
Tidur.
Karena jam 7 bersiap ke Makam Rasulullah dan para Shahabat serta maqam Baqi.
***
Masih dengan perasaan melayang karena adaptasi tubuh terhadap perbedaan waktu, aku mencuci muka, gosok gigi. Waks, sariawan tambah parah. Karena tidak ada vitamin C maka aku akhirnya meminum air banyak-banyak. Yeh, ternyata pelit sekali manajemen hotel disindanggg… (baca: di sini). Air minum hanya diberi satu botol tanggung. T__T
Jadwal hari ini hanya ziarah. Setelah makan pagi, kami berkumpul di lobby hotel. Dipimpin oleh seorang tour guide, kami mulai berjalan. Ternyata makam cukup jauh, dan kalau pagi masjid Nabawi dibersihkan. Bener-bener kinclong bo. Pake kaus kaki aja nggak masalah berjalan-jalan di masjid. Matahari bersinar seperti jam dua belas di Indonesia. Terik kali. Padahal baru saja jam menunjukkan 8 KSA time. Dahsyat. That’s why they use burqa’ alias cadar. Untuk mengalihkan pikiranku dari panas, diriku akhirnya berdzikir saja.
Setelah sampai di makam Baqi’, guide-nya berkata, “Mari panjatkan shalawat, salam dan do’a kepada para ahli kubur disini. Sebenarnya sih nggak boleh dipimpin kalau berdo’a. Tapi nggak apa, saya akan mengucapkan doa ini pelan kemudian ibu-ibu sekalian mengikutinya.”
Halo? Kalau dilarang kenapa dilaksanakan?
Warning: ini tanah suci, dan telah datang hukum yang jelas. Mengapa lagi harus diikuti?
FYI, doa boleh dipanjatkan dalam bahasa apa saja dan terserah mau doa apa saja asal untuk kebaikan si penghuni kubur dan tujuannya adalah shalawat. Namun ini saja sudah bersifat transaksional. Dan lagi, hanya jama’ah Indonesia yang berkumpul dan memanjatkan doa bersama seperti ini.
Jama’ah Indonesia, dengan segala kekurangannya. Dan ternyata di kemudian hari aku tahu, bahwa pemerintah Arab Saudi telah menerbitkan buku panduan untuk haji dan umroh yang baik dan yang benar, hanya saja jama’ah Indonesia memilih bungkam.
Sekali lagi sodara-sodara, tidak ada do’a bergerombol dipimpin dan dilafadzkan dengan suara keras. Apalagi perempuan :) Agar tidak terpusat perhatian laki-laki kepada kita :)
Karena tidak bisa ke makam Rasul, ya seperti tadi, hanya menghadap makam kemudian membaca shalawat. Kemudian kami ke Raudhoh. Honestly, I haven’t read about Roudhoh before so I can’t explain anything about Roudhoh. Emang sih di internet bisa aja dicari, tapi aku lebih suka untuk membaca buku kemudian bertanya. Kalau penjelasan kemaren sih katanya itu adalah sepotong taman surge, trus tempat paling mustajab di bumi. Maka, berbondonglah umat manusia untuk masuk ke roudhoh yang tidak seberapa besar itu –katanya. Eniwei, aku nggak ke roudhoh, soalnya ngantri gila dan Papa telah mewanti-wanti agar aku, mama, oma dan adik-adikku tidak sholat disana. Kata Papa tidak ada yang menyuruh untuk shalat di Roudhoh. Dan lagi, karena ketidaktahuanku dan baktiku, aku menuruti perkataan Papa.
Insya Allah aku akan kembali dengan pengetahuan yang lebih banyak tentang umroh dan Insya Allah pula, haji. Amin.
Akhirnya karena tidak menunggu masuk Roudhoh, kami memutuskan untuk pulang setelah bergelut dengan pemimpin rombongan. Yeah, pemimpin rombongan berkata bahwa sayang sudah sejauh ini berjalan dan kapan lagi bisa ke Roudhoh dan shalat disana. Aku pun diam dan berdo’a dalam hati.
Allahumma arinal haqqa haqqan, warzuqnat tiba’ah. Wa arinal batila batilan, warzuqnat tinabah. Amin.
(Ya Allah tampakkanlah yang baik itu baik, dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tampakkan kepada kami yang salah itu adalah salah dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya. Amin)
Sampai di hotel, tidur lagi.
Membantu tubuh untuk menyesuaikan diri :D
***
Sebenarnya hari ini sih nggak ada kegiatan lagi. Ohya, aku ingat pas Shubuh aku melihat ada The Body Shop. Sip, aku akan membeli lip balm. Akh, baru ingat kalau dompet dan seluruh isinya aku tinggalkan di tanah air. Gaswat. Harus merengek nih. Hahahay. Alhamdulillah sih Papa mengerti kebiasaan anaknya dan memaklumi diriku yang aneh ini. Tapi sayang seribu sayang toko itu tidak buka.
Another challenge buat bibir kering dan sariawanku.
Ketika keluar untuk shalat Dzuhur, whooooshhzz, angin panas kering kerontang lagi-lagi menerpa wajahku. Subhanallah. Kulipat kerudungku untuk kubuat untuk menutup muka. Whew.
Sampai di masjid, kulepaskan dahagaku dengan meminum dua gelas air zam-zam dingin. Maknyos. Alhamdulillah. Diriku pun mencari tempat shalat. Untuk shalat dengan khusyuk.:)
Ohya, habis Dzuhur tuh baru TBS-nyo buka. Aku membeli spray n lotion muka, lipbalm dan parfum. Khusus untuk parfum aku baru liat kalau ada wangi khusus yang hanya dijual di kawasan Timur Tengah, mungkin. Arab Oud, nama wangian itu. Cukup bernuansa timur tengah. Dan karena membeli parfum itu pula bahasa Inggrisku diuji.
“Engris? You can?” kata penjaga tokonya.
“Eh? Me?”
“Yes, speak Engris?”
Alamak, bener-bener dilafalkan Engris kata English itu. Bla-bla-bla itulah yang aku dengar dari aksen timur tengah itu dan meminta penjaganya untuk mengulang beberapa kalimat.
***
Ketika lima waktu selesai, oma dan adikku telah tidur pulas, aku merenung. Jantungku berdetak dengan tempo yang aku tahu apa artinya itu.
Rindu.
Bahkan sebelum pulang pun aku sudah merasakan rindu.

16 March 2011

Yang Terlupakan

Berapa hari lalu Nad baru pulang dari Banjarmasin, setelah mengikuti even nasional yang mendatangkan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia.

Ada beberapa hal yang patut aku syukuri dan pelajari dari perjalananku kemarin. Pertama, alhamdulillah Jogja masih mengenal budaya sopan-santun. Ketika aku makan sambil duduk di lantai, tanpa sadar aku menghalangi jalan. Orang yang ingin melewati jalan itu harus melewati jalan kecil di belakangku. Nah, yang membuatku kesal, orang-orang pada menerobos, dan kemudian menyenggol kepalaku, punggungku, padahal aku sedang makan. Mau tidak mau aku tersedak. Aku heran, mengapa mereka tidak berkata "Permisi" atau sejenis itu yang intinya "Mohon diberi jalan". Bukankah civitas akademika harusnya tahu akan adab tersebut? Atau sudahkah hilang budaya itu?

Kemudian, berteriak saat menegur atau memerintah.
Ini dia aku kesal banget. Memang aku salah, tapi kesalahan tidak perlu sampai diumumkan kepada dunia, dong! Lagi-lagi tidak ada kata halus yang mengikuti kata perintah. Mohon apa kek, Maaf kenapa kek. Mungkin aku terbiasa dengan lingkungan yang menaati tata bahasa lisan dan aku sangat menghormati orang-orang dengan tutur kata halus. Sebaliknya, sangat berang ketika ada salah tutur. Memang, manusia tidak luput dari kesalahan, tetapi dengan orang yang mengetahui agama, sekiranya tahu, bahwa berfikir sebelum bertutur itu adalah hal yang wajib.

Tidak ada salam, senyum.
Keterlaluan banget! Saat senyum adalah sedekah, dan salam adalah wajib adanya, tak ada satupun yang berbuat hal ini. Bayangkan, mengetok pintu pun tidak dibarengi dengan salam dan langsung masuk begitu saja. Senyum seakan hilang dari bibir. Aku miris. Lalu hal ini tidak hanya aku temukan di daratan, tapi juga ketika di langit. Pramugari yang harusnya ramah, hanya merengut. Tak ada senyum. Rasanya ingin dilempar saja keluar dari pesawat!

Tidak ada terima kasih.
Paling parah dari semua di atas. Wujud syukur pun tak ada. "Alhamdulillah"? terlupakan.

:seorang yang mencari
Tolong, Maaf, Terima Kasih, Permisi, Assalamu'alaykum.

20 June 2010

Kaya (part three)

Sibuk ngomentarin Kekayaan? Sirik lo Nad. Rezeki ya jangan ditolak. Lah orang itu emang untuk kita.

Emang itu untuk kalian. Tapi apakah kalian kira itu long lasting forever?

Ingat, masih ada yang lebih membutuhkan dari kalian. Masih ada yang perlu diberi sedikit rezeki kita. Masih ada yang menadahkan tangan, bukan masih ada. Tapi tambah banyak! 

Please kawan...

Aku jadi ingat ketika apartemen dan hotel Aston dibangun di Balikpapan dan aku mempunyai teman disana. Percakapan lebih dari 5 tahun itu masih terekam dalam ingatanku.

"Mia, kamu kena gusur itu nggak sih? Yang katanya mau dibangun apartemen itu..."
"Nggak tahu eh Nad. Pun digusur, ya katanya sih mau dipindah ke RSS (rumah sangat sederhana)"

"RSS? Bukannya Rumah Sangat Sangat Sederhana Sekali Sekaligus Sangat Sangat Sempit Sekaligus Sumpek? atau singkatnya, errr,(menghitung) RS10??"

"Hahaha... Iya eh Nad. Ntar karirku sebagai pengupas bawang berakhir... Bukan berakhir sih Nad, cuma ntar aku ehm, mamaku harus keluar duit untuk ambil bawang di Pasar Klandasan. Air susah lagi disana."

"Jadi?"

"Belum lagi SMA ini. Aku nggak tahu lanjut atau nggak..."

aku diam. Sekarang aku tidak tahu kabar Mia. Kampung (kalau itu tepat disebut kampung) Mia tinggal adalah kampung pengupas bawang. Dan sekarang? Kampung itu, yang terletak di sepanjang pesisir pantai, ditengah-tengahnya menjulang apartemen dan hotel yang SURAM, nggak ada yang beli Apartemen itu!

Please, tidak maukah kalian berbagi? Supaya tidak ada kesenjangan sosial? Apa mentang-mentang Allah menciptakan semua berpasangan, jadi harus ada kaya dan miskin?

Kamu sendiri gimana? Kamu nggak hedon?

Kalau aku? Yang tahu kamu.

Kaya (part two)

Masih membahas tentang hedonisme yang makin parah sekarang.
Ada yang tahu tentang surat dari Palestina nggak? Itu notes di Facebook yang isinya membandingkan keadaan kita disini ama disana. Kita disini emang tenang, nggak ada denger dan hidup dengan suara tembakan. Memang kesempatan mati kita sama dan kemungkinannya pasti, satu. Kata mereka di surat itu, kalau kita itu sangat beruntung, hidup dalam kekayaan, tidak perlu selalu merasa takut, banyak hiburan. Kita menyebut hiburan itu dengan jalan-jalan, mendengar musik, sedangkan yang mereka sebut hiburan adalah jika bisa mematikan salah satu serdadu Israel.
Beda.
Tapi mereka tetap menginginkan damai.
Hedonisme telah berurat berakar di zaman sekarang. Nih kata temenku si M**a, bahwa gdget wanita sekarang ada 5B, Blackberry, berMobil, ber-Behel, belah tengah, bermenthol (ngerokok). Nambah satu lagi, Beruang Madu :P
Bah, aku mau pake behel jadi geram. Ntar disangka ikut-ikutan.
Huhuhu...
Frustasi ngeliat orang dilenakan dengan kekayaan.
Adalagi temenku yang satu semester (hitungannya 12 mgu ya) ini udah 2 kali ganti hape. Pertama hilang udah diganti E71 (atau 72 ya?) trus ini dia udah ganti Blackberry lagi dan touch! Aku sih males ngebayangin harganya. Hahaha... Kalau ditanya kemaren tuh, harga BB gemini berapa? Ada yang jawab “CUMA 2 jutaan kuq!”. Alamak CUMA!
Trus sekarang lagi berjejer mobil dengan plat pesenan dengan 2 angka, 3 angka, atau nama. ZZZZ. Belum bayar pajak, belum bayar ini itu. Bersyukurlah ada orang yang dengan uang berlebih tapi masih ingat untuk sedekah.
Kalau nda malem mingguan dibilang nda gaul. Kalau nda kurus dibilang nda seksi, kalau nda putih dibilang nda cantik.
Lalu?
Mari berHEDON ria supaya tetap hidup di Indonesia!
To be continued


15 June 2010

Kaya (part one)


arrggghhh
nda bagus juga nih~aku udah makin jarang aja terlihat di halaman ini.

susah sih ya?

Sekedar mau ngasih tahu aja, sekarang lagi ujian akhir dan aku hanya~, hanya buka-buka buku, lalu buku itu kujadikan bantal... Tapi keras abis dan akhirnya bisa menyebabkan kaku leher.

Ohya, kemaren aku sempet pulang ke balikpapan dan.. Menemukan bahwa kota itu dilanda gaya hidup hedonisme yang sangat parah. Okelah, sebagai anak ekonomi _ayhem!_ aku tahu kalau konsumsi itu akan menggerakkan pendapatan. Tapi gile aja tuh, kayaknya orang kaya lagi betebaran di Balikpapan. Necis, modis and teletubis abis. Perlente. Aku jadi ngeri ngeliat anak-anak yang notabene masih SMP-SMA atau bahkan masih SD itu bergaya, ralat, kehabisan gaya malah. Kenapa? Karena saking nggak tahu mau gaya apa, mereka malah nggak pake apa-apa. Andai aku bawa kain lebih pas jalan, pasti aku udah sodorin.

"Mbak, mau kainnya? Dijual, harga miring mbak. Daripada situ kerokan ntar malam, mendingan sekalian dicegah dulu"

baru ntar aku pasti dilihatin aja.

Orang gila.

Aku jadi heran ya? Semakin menuju ke masa yang mereka bilang modern dan sinar matahari yang semakin menyengat, mereka malah sedikit demi sedikit tidak melindungi badan, spesial buat kulit -yang katanya sinar matahari bisa menimbulkan kanker kulit- eh, tapi malah dibuka-buka. Yang atas semakin dikebawahin, yang bawah semakin dikeatasin (bahasakuuuuu~~)

Hermannnn~~

Huhu...

Bahaya hedonisme ini terasa sangat ketika orang-orang dari Kalimantan berpindah ke Jogjakarta untuk mencari ilmu, spesial untuk Kalimantan Timur, penghasil minyak dan gas. So pasti, hasil jualan minyak dan gas itu sangatlah menguntungkan. Dan itu berimbas pada keturunan orang yang bekerja pada perusahaan yang bergerak di kedua bidang itu. Karena biaya hidup yang tinggi, banyak yang menganggap bahwa makan dengan harga total Rp. 6000,- adalah hal yang murah. Memang, kalau di kedua kota yang berawalan B itu, harga makanan bisa dibilang cukup mahal. Nah, karena harga rendah dan penghasilan yang tinggi itu tetap, maka daya beli meningkat dan mahasiswa-mahasiswa yang belajar disini itu merasa kaya. Jadilah mereka berbelanja, mengkonsumsi berlebihan.
Misalnya, mereka punya uang 100.000, kalau di Balikpapan or Bontang mereka cuma bisa dapet 1 baju, disini mereka bisa dapet 3 baju, itupun kalau pintar bisa dapet 5 baju. Karena biasa menghabiskan 100.000 untuk membeli baju, ya akhirnya mereka gunakan semua uang itu. Jadilah mereka merasa kaya.

Ada satu kawan yang disinggung mengenai kata "murah". Suatu hari untk tugas English II, kami diminta untuk menceritakan pengalaman tentang masalah budaya yang berbeda, dan temanku menulis, : "harga-harga di jogja sangat murah."
dan akhirnya Lecture-ku bilang: "ini jurnal buatan orang kaya."

Mengapa lecture ku bilang begitu? Karena yang dibilang murah oleh temanku itu adalah sesuatu yang menurut orang jogja mahal. Misalkan soto ayam. Kalau di balikpapan, harganya bisa sampai 10.000, ketika menemukan harga soto ayam 5.000 di jogja, itu termasuk murah. Tapi ternyata, orang jogja bisa saja berpandangan lain, karena ada soto satu porsi itu 2.500. (nggak percaya? mau saya buktikan?)

--to be continued

18 February 2010

Joko dan Jack






: Kita SELALU menginginkan apa yang tidak kita punya :)


Iya, contohnya ku alami sendiri 2 kali hari Selasa lalu. Ketika kelas Akuntansi Pengantar II dan Metode Kuantitatif.

Ada orang asing dalam kelasku!

-trus kenapa emang kalau ada orang asing?

Ya jelas surprais lah, apalagi biasanya orang asing hanya ditemukan di kelas Internasional, bukan reguler seperti kelas kami. Awalnya, kelas begitu khidmat mendengarkan Pak Aloy menerangkan, sampai saat ketika orang asing itu datang. Penampilannya begitu menarik perhatian kelas. Wah, kelas jadi sarang lebah untuk sekian detik, dan akhirnya si Bule itu duduk di samping Ana. Satu-satunya ras Kaukasoid di kelas, bagaimana tidak mencolok? Anak satu kelas pasti bertanya,

"Apa dia mengerti penjelasan dalam bahasa Indonesia?"

"Koq bisa-bisannya dia masuk kelas ini?"

"bzzzz"

saking banyaknya pertanyaan muncul, udah nggak tahu lagi deh. :P

Aku juga menganggapnya aneh, nggak salah pilih ya orang itu?

Dan Pak Aloy akhirnya memakai 25% bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, apa nda tambah njelimet aku :( harus membuat otakku bekerja 2 kali lipat, menerjemahkan dan memasukkan pelajaran hari itu ke otak.

Akhir kelas, dia mengajak Ana berkenalan, tebak siapa namanya?

"Joko."

mantap.

Masa iya sih? Nggak ada garis di wajahnya yang menunjukkan dia orang Jawa, kuq?

"Sebenarnya nama saya Jack, tapi teman saya sering memanggil saya Joko"


Whaattttt???
Seriusan, aku jadi teringat temenku yang namanya Jaka, (nama lainnya Joko) Dia mah dipanggil Jack! Koq ini malah terbalik ya? Dia -si Bule- mengucapkan Joko dengan senyuman, lagi. Kita mah mau keren-kerenan nama, eh ntu si orang asing malah nge-jawa-in namanya.

Aku nda habis pikir.

Lain lagi cerita si Ushi, waktu MKPK :)

Kali ini orang-orang bule (segerombolan perempuan ras Kaukasoid)  membuka pintu lalu menyapukan pandangan ke seisi kelas.

"Wah~" Ushi berkata, "Mantap banget bodinya..."

Padahal, orang-orang bule malah suka kulit eksotis kayak kita.

Buktinya, para lelaki asing, banyak yang memperistri orang Indonesia yang katanya berkulit eksotis, nggak putih pualam kayak mereka. Eh, kita malah sibuk memutihkan kulit. Mulai dari cara instan, mahal, ---

Kalau aku nampaknya susah untuk memutihkan kulit.

Secara, tinggal di dekat garis Ekuator, matahari mah nggak pernah permisi kalau lewat di sana. Mau pake mandatory make-up khusus orang yang tinggal di khatulistiwa (baca: bedak dingin) pun nggak ada efeknya !

Mereka mau seperti kita, kita mau seperti mereka.

Susah.

13 January 2010

Terlalu Dewasa :(


sebelumnya, ntah dilandaskan atas ngeri ato irii..
wkwkwkwk

aku ngeliat foto-foto para anak-anak smp sampai sma kelas X gitu, apa karena gizi yang sudah baik, kuq mereka terlihat dewasa ya? Ato aku saja yang masih berfikiran childish en nggak mau dibilang tua? God! Believe me, they just seems like a child that wanted to be a teen not in the proper time. di foto ke sekian mereka bisa saja terlihat sangat-sangat-sangat seperti anak-anak dan di foto ke sekian sudah bisa berlagak seperti layaknya foto orang dewasa -mulut diukir sedemikian rupa agar nampak sensual, memilin ujung rambut dan melemparkan senyuman nakal- atau yang lebih gress lagi, foto dari atas dan menampakkan bagian atas d**a :( Gaya mereka semua sama, menampakkan keindahan pahatan Sang Pemahat Agung. Yang menambahkan warna-warna di lukisan-Nya dan membuat hasil akhir yang tiada tandingan. But then :

are your parents not afraid of those -things- ?

I dunno.
But, as a future mother -ehm- I AM afraid of those. I don't want my child, especially my little princess show her beauty, not in proper time. Ah, aku takut ketika nanti aku menjadi orang tua, anak-anakku tidak mempunyai pendirian dan mengikuti gaya orang lain. Then, my little prince, be like a rebel or gothic or bla-bla-bla, mengikuti tren -yang disebut- anak muda. Ah...


Jadi inget lagunya Tante Inul Daratinggi Daratista

Kalau cinta
Sudah direkayasa
Banyak bocah disulapnya dewasa
Budi yang kaya
Adat budaya
Tak lagi terjaga

Oke, mungkin ada yang berfikir nggak ada hubungannya, tapi maksudku bocah udah kaya dikasih karbit gitu, cepet matengnya.


Kalau temen-temen bilang sih masalah jati diri.

Tapi ketika ditanya balik apakah dia tahu apa itu jati diri? She shook her head.

Mencari jati diri.

Ketika kecantikan beramai-ramai dijual, dibuka, dipertontonkan, akhirnya yang ada adalah saling mempromosikan diri bahwa :
akulah yang tercantik, akulah yang paling populer dan aku yang terbaik di antara kaum Hawa.

Aduh, dek..
aku punya dua adik kembar yang masih kelas VII SMP. dan alhamdulillah + insya Allah tidak akan menampakkan semua itu di jejaring sosial seperti ini (selain mereka tidak punya akun FB, tidak bisa sembarang internetan, tidak punya fasilitas memotret, dan lain-lain yang inysa Allah menjauhkan mereka dari yang begitu-begituan). Aku fikir, aku tidak akan sanggup dan langsung memarahi mereka begitu ada pose yang aneh-aneh seperti itu.

God, bless my sisters from such those things.

Adik-adikku, kalian cantik, semuanya cantik.
tapi bolehkah adik menampakkan itu yang sewajarnya saja?
senyumlah, tapi jangan sensual.
laki-laki dibuat untuk tidak tahan yang seperti itu :)

for my little prince and princess :
I am not a perfect person, so is your father :)
but we, we WILL do anything, to protect you from this mortal world.



5 December 2009

Melodi Dukuh Panggang Part III


: sebuah da capo untuk kita semua
Instrumen para pemain di Idul Adha
Pisau
Batang pisang
Mulut
Tak lupa embikan kambing
Inilah persembahan
Membuang semua hasrat binatang dalam diri
Bukti keikhlasan
Dan perayaan
Bagi kita sesama manusia
Tidak hanya bermewah-mewahan
Sehingga terlena
Tetapi berbagi
Dari Allah, untuk kita dan mereka
“Maka, nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan?”

Melodi Dukuh Panggang Part II


: reffrain from majority
Senja mulai merangkak. Adzan maghrib berkumandang, mengisi rongga-rongga di udara. Suaranya memantul syahdu di beningnya air. Burung pun terdiam sebentar, mendengarkan panggilan sayang dari Sang Pencipta. Anak-anak kecil berebut di tempat wudhu. Celotehnya menggambarkan masa kecil yang bahagia walau tak ada nitendo, ps3, ataupun handphone. Mereka terbiasa bermain dengan alam.
Sayup-sayup iqamat terdengar. Manusia berdiri serentak, menanggalkan semua keegoisan dalam diri, ikhlas, memuja sang pencipta. Mengagungkan. Dalam sujud, untaian doa tak bertepi dipanjatkan. Meminta ampunan, lalu memohon agar semua rahmat ini jangan dilepas.
Kemudian, setelah melepas rukuh, para perempuan-perempuan Dukuh Panggang tetap diam di Masjid Amaliya. Di muka mereka tergores hasil kerja keras bertahan hidup. Kaki-kaki mereka keriput, tapi tetap saja mampu menopang mereka. Yang wajahnya perlahan dimakan zaman. Namun tidak dengan semangat mereka. Menurut mereka, inilah yang telah Allah pilih untuk mereka, hidup di Dukuh Panggang. Tak ada yang patut disesali. Menerima adalah jalan yang terbaik.
Ketika bunyi jangkrik terdengar, burung berkoak, laron beterbangan di lampu-lampu, aku menengadahkan muka ke langit. Pekat, dengan bintang-bintang terang yang tidak kudapati di pusat kota. Seperti inikah rasanya tinggal di desa terpencil? Dengan campuran adat istiadat yang kental berbaur dengan suasana agamis? Dengan sedikitnya akses untuk berhubungan ke dunia luar, sinyal handphone yang bagaikan emas?
Aku perlahan berjalan ke dapur untuk sekedar menghangatkan diri. Minyak tanah? Itu adalah barang langka. Yang mereka pakai masih kayu bakar, tungku, wajan yang gosong... aku menghangatkan diri.
Aku tidak yakin akan bertahan di tempat seperti itu.