Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

5 April 2011

Hari Ekonomi :D

Hari Senin kemarin menjadi hari yang cukup menegangkan. Selain UTS Business Law alias Hukum Bisnis, kartu ATM Bank Mandiri-ku rusak. Mana uang tinggal sedikit di dompet. Hufwaaaa~. Ada sih yang lain, tapi itu hanya dipakai untuk urusan sangat gawat darurat.

Akhirnya aku memutuskan untuk membuat rekening baru, di Bank Syariah, tentunya. Lalu kemudian, sekitar jam 2.45 pm diriku ke Bank Syariah Mandiri (BSM) untuk membuka tabungan. Sampai di BSM aku disambut oleh satpam yang menyapaku dengan 'Assalamu
alaykum! Silahkan, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?". Ah. Ini yang membuatku lapang. Ketika ada salam dan senyum :) Aku bilang mau membuka rekening. Ditanya lagi apakah aku sudah tahu akan membuka rekening apa. Aku jawab tidak. Lalu aku diberi leaflet oleh satpam itu. "Silahkan, Mbak. Dibaca dulu. Nanti kalau sudah bisa langsung mengisi formulir." Aku menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih.

Aku membuka leaflet. Aku terseyum lagi. Ketika membaca hatiku bersorak, "Aku tahu akad ini!" atau "Ini skemanya, hmmm... gimana ya?" Aku kemudian berusaha mengingat semua pelajaran yang aku terima ke SEF dan mencoba membandingkan. Seru!

Suasana cukup ramai di BSM. Hem, dan selama setengah jam aku memperhatikan sekeliling, ternyata banyak juga yang berniat untuk membuka tabungan. Aku senang! :D Moga-mog!a kedepannya bank syariah mendapatkan market share yang lebih banyak. Amin.

Sampai akhirnya aku dipanggil. Hem, kalau tidak salah aku dilayani oleh Mas (atau Pak? Tapi masih muda, sebut saja Mas) Udin. Hahay, aku merasa geli sebenarnya, karena ada lagu Udin Sedunia itu loh. Lupakan itu. Nggak penting. Ya~ awalnya ditanya-tanya lah mau produk apa, bagaimana dan bagaimana. Dijelaskan akadnya. Ternyata sama, aku ingin tahu aja, apakah dia sebenarnya menguasai produk perbankan tempat dia kerja (Insya Allah :D Sebenarnya ingin 'ngerjain' dikit, tapi aku takut tutup bank-nya dan aku belum ngapa-ngapain)

Ya~ singkat cerita aku memilih Deposito Berjangka (akad: Mudharabah Mutlaqah) dan Tabungan BSM (akad: Mudharabah Mutlaqah)

Deposito berjangka minimal Rp. 2.000.000,- dan dapat diperpanjang secara otomatis (ARO:automatic Roll Over) ketika sudah jatuh tempo dan kita tidak menginginkan pencairan. Nisbah bagi hasil 42:58 atau 58% untuk nasabah. Eits, beda dengan bunga bank ya. Kalau bunga bank udah pasti dari nominal yang ditanamkan itu kita dapat berapa. Misalnya, bunga per tahun Mandiri saat ini 5,25% dan jangka waktu menanamkan modal 3 bulan. Kalau kita nabung Rp. 4.000.000, bunga yang diterima = 3/12 x 5,25% x 4.000.000= Rp. 52.500. Sedangkan kalau dengan nisbah bagi hasil masih memasukkan variabel pendanaan keseluruhan di masyarakat, pendapatan dari penyaluran pembiayaan, pendapatan bagi hasil setiap dana pihak ketiga. Hahahayy~ Perhitungannya memang sulit, namun kalau disederhanakan kira-kira seperti ini: jika pendapatan dari pihak ketiga naik, maka hasil dari bagi hasil itu *halah* akan naik pula, begitu juga sebaliknya. (Saya akan menghitungnya setelah UTS!) Terlihat seperti tidak menguntungkan? Tidak juga. Tidak pasti? Benar! Tapi karena ketidakpastian itulah yang membuat Bank Muamalat Indonesia bertahan di tengah krisis ekonomi '98. Kepastian pengembalian bunga dari pihak yang dibiayai kepada bank itulah yang mempersulit. Rugi ataukah untung ada bunga yang wajib dibayarkan oleh pihak ketiga tersebut. Namun dalam sistem bagi hasil, yang dibagi adalah profit atau loss (idealnya sih memang profit-loss sharing, tapi di Indonesia masih memakai revenue sharing). Masih berkelit sama saja antara bank syariah dan bank konvensional? At least, para pembaca sekalian, bahwa menabung di bank syariah itu menghindari diri dari memakan riba. Menjauhi larangan Allah SWT, bukan? Masih ngeyel juga nggak mau nabung di bank syariah? Hareee geneee? Mari diskusi dalam Shariah Economics Forum, datang kajiannya atau hubungi saya *promosi*

Hah hoh hah hoh

Itu baru pembiayaan. Belum lagi produk kedua, yaitu tabungan BSM. Hiyah~ intinya sih sama saja. Karena akadnya sama. Mudharabah :) CMIIW, kalau nisbah bagi hasil di tabungan sih lebih kecil sepertinya :D

Eniwei, ini dia hasil ke bank kemarin :D



ATM, Bilyet Deposito dan Buku Tabungan

Weelll, kawanz, ayo menabung di bank syariah. Aku sudah, kamu?

31 December 2010

SEF 2011!!

Ini sepenggal kenangan Muktamar kemaren.. Akhirnya terpilih saudara Alfian Nugraha sebagai CEO SEF yang baru :)

Ini dia nama CEO SEF 2011 :)
Launching buku Manifesto Pergerakan SEF 2010-2012

Alfian Nugraha : The CEO of SEF 2011

I'm SEF-er. How about you?

CEO 2011, Alfian Nugraha (kiri) CEO 2010, [mas] Bhima Yudhistira


Ikhwanul SEF-in :P
Launching Manifesto Pergerakan SEF 2010-2011

Perhatikan kaki :)

Ketua SEF dari tahun ke tahun : (ki-ka) Alfian 2011, Mas Bhima 2010, Mas Anggi 2009, Mas Febri 2008
SEFers of the month: (ki-ka) Ika (Desember), Nia (November), Me (Maret) Nita (Juni)


Yeah :D Sekarang masih dalam tahap penyusunan PH 2011. Semoga Ekonomi Islam Tegak di Bumi! ALLAHU AKBAR!

27 October 2010

Entrepreneur's Credo

Entrepreneur’s Credo
I do not choose to be a common man,
It is my right to be uncommon … if I can,
I seek opportunity … not security.
I do not wish to be a kept citizen.
Humbled and dulled by having the
State look after me.
I want to take the calculated risk;
To dream and to build.
To fail and to succeed.
I refuse to barter incentive for a dole;
I prefer the challenges of life
To the guaranteed existence;
The thrill of fulfillment
To the stale calm of Utopia.
I will not trade freedom for beneficence
Nor my dignity for a handout
I will never cower before any master
Nor bend to any threat.
It is my heritage to stand erect.
Proud and unafraid;
To think and act for myself,
To enjoy the benefit of my creations
And to face the world boldly and say:
This, with God’s help, I have done
All this is what it means
To be an Entrepreneur.

(Thomas Paine, 1776)

7 October 2010

Seandainya Jadi Bill Gates :D

Iseng-iseng di matakuliah Manajemen Keuangan.

Bill Gates adalah salah seorang dari orang-orang terkaya di dunia. Kekayaannya diperkirakan mencapai US$59 Milyar pada tahun 2008. Karena saya belum pernah bertemu dengan Mr. Gates, saya tidak bisa meminta beliau untuk mengalokasikan dana untukmu, walaupun sekedar untuk bersenang-senang, apalagi beramal. Nah, mari kita buat sederhana. Misalkan saja, Mr. Gates ini menghabiskan seluruh uangnya untuk bersenang-senang dan bermewah-mewah. Berapa banyak yang bisa Mr. Gates habiskan dalam 30tahun? Asumsikan dia menginvestasikan uangnya dengan bunga 9%.

(Oke, supaya enak, ganti Bill Gates dengan kata "saya")

catatan: belum memperhitungkan inflasi.

30 tahun, annuity factor 9% adalah 10,2737

Present value = Annual Spending x Annuity Factor
$ 59.000.000 = annual spending x 10,2737
annual spending = $ 5.743.000.000

oke, kalau nggak bisa ngitung berapa banyak, aku kasih tahu
$5.743.000.000 itu sama dengan Rp57.430.000.000.000 *misalnya kurs 10.000

Rp. 57 triliun, dalam setahun, selama 30 tahun, tanpa bekerja. Leha-leha.

Dalam sebulan, bisa ngabisin hampir Rp. 5T (Rp. 4,75T kurang lebih)

Sehari menghabiskan Rp 1 M.

Dan asumsikan untuk menghabiskan 1 Milyar itu hanya punya 15 jam, 9jam untuk rehat.

Rp1m dibagi 15 = +- Rp66juta.

Oke, 66 juta setiap jam.

Intinya: saya bisa menghabiskan Rp. 66 Juta setiap jam, selama 30 tahun penuh, tanpa bekerja (bekerja menghabiskan uang itu, iya), JIKA SAYA MENJADI BILL GATES.

Dan itu tidak memperhitungkan charity ya, itu hanya untuk bersenang-senang.

Kalau kamu, bagaimana cara menghabiskan uang Rp66juta setiap jam itu? 

28 September 2010

Seminar Internasional Ekonomi Islam

Seminar Internasional Ekonomi Islam dengan tema Fulfill The National Development by Encouraging Islamic Businesses telah diselenggarakan di Auditorium Pasca Sarjana Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Seminar ini menghadirkan berbagai pembicara, seperti Adiwarman Karim -pemilik Karim Business Consulting, Anggito Abimanyu –dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, dan pemilik Al-Falah Consulting Malaysia, Ahmad Sanusi Husain. Moderator seminar sendiri ialah Priyonggo Suseno, dosen Fakultas Ekonomi UII.

Dibagi dalam dua sesi, acara ini menggunakan tiga bahasa sekaligus, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Melayu. Sesi pertama, yang diisi oleh Adiwarman Karim dan Ahmad Sanusi, membahas tentang perkembangan ekonomi syariah di Indonesia dan Malaysia. Di Malaysia perkembagan ekonomi syariah terbilang pesat, karena dukungan pemerintah dan regulasinya. Bisnis yang berdasarkan syariah juga bervariasi, seperti bisnis makanan halal, perbankan syariah, asuransi syariah atau takaful, dan investasi syariah.
Bisnis makanan halal menjadi penting di Malaysia karena hanya 25% pabrik makanan halal yang dimiliki oleh muslim. Makanan halal yang dimaksud disini bukan hanya bebas dari babi atau semacamnya, namun juga bebas dari hal-hal yang dilarang dari transaksi (riba, gharar, maisyir, suap, dll). Jadi dari pembiayaan pun sudah dijaga kehalalannya. Di dunia perbankan syariah, target market share 20% di tahun 2010 telah tercapai. Ada sekitar 19 bank syariah yang beroperasi di Malaysia, seperti HSBC Amanah, CIMB Niaga Syariah, dan Hong Leong Islamic Bank. Kemudian pemerintah Malaysia juga menggandeng bank syariah terbesar di dunia, Al-Rajhi Bank, untuk menggaet nasabah dan membiayai proyek-proyek besar.

Untuk asuransi syariah, di Malaysia telah berdiri 8 perusahaan asuransi syariah dengan market share sebesar 8%. “Perkembangan asuransi syariah agak tertinggal dengan perbankan syariah, karena selain umurnya lebih muda, jarak pendirian perusahaan asuransi syariah pertama dan kedua cukup panjang,” kata Ahmad Sanusi.

Pemerintah Malaysia juga berkomitmen untuk membangun dan --- pendanaan syariah serta industri halal untuk membuat Malaysia sebagai pusat Keuangan Syariah dan Industri Halal Internasional. Malaysia juga mempunyai master plan untuk pembangunan bank syariah dan kemudian menjadi kewajiban kepala bank untuk mewujudkannya.

Dibandingkan dengan Malaysia, market share perbankan syariah hanya 2,7% dibandingkan bank konvensional. Pengguna jasa asuransi syariah pun sekitar 3,5 juta orang atau sekitar 1 persen dari total penduduk Indonesia sekarang. Masih kalah persentase dengan Malaysia yang market share-nya 20%. Tetapi ini dikarenankan pergerakan bisnis syariah di Indonesia adalah pergerakan bottom-up, yaitu gerakan masif dari masyarakat itu sendiri. “Jangan hanya melihat dari market share-nya yang kecil, tetapi lihat juga dari jumlah orang yang berkecimpung di dunia bisnis syariah ini. Kita ini ‘besar’, tetapi karena persentase kecil itu yang menyebabkan kita tidak merasa ‘besar’,” kata Adiwarman Karim. Tren 2011 ini, kata Adiwarman Karim, yang dibahas adalah tentang pembenahan regulasi, dan promosi bukan mengusung tema “bebas riba” lagi, tetapi asas memberi manfaat. “Bank Muamalat berdiri pada tahun 1991 itu tidak ada regulasi yang mengatur. Kita hanya bersandar pada UU nomor 14 tahun 1967. Lalu kemudian pada tahun 1992, keluar UU nomor 7 tahun 1992, yang menambah pasal tentang prinsip syariah. Itu sudah Alhamdulillah, syukur-syukur bank syariah tidak dilarang,” canda Adiwarman Karim.

Pada sesi ke-dua, masih tentang perbandingan tren ekonomi syariah antara Indonesia-Malaysia, dikemukakan oleh Ahmad Sanusi bahwa aktivitas ekonomi syariah di Malaysia juga meliputi pasar uang syariah, pasar modal syariah, baitul maal, zakat, wakaf, penghitungan faraid (warisan) dan pengurusan surat wasiat. “Di Malaysia, zakat sudah sebagai pengurang pajak. Kemudian kami juga mempunyai software untuk mengitung warisan, siapa saja yang mendapatkan warisan dan berapa besar warisan tersebut,” kata Ahmad Sanusi.

Kemudian, paruh sesi kedua diisi oleh Anggito Abimanyu yang mengemukakan apakah sistem ekonomi syariah itu alternatif atau keharusan. Diawali dengan menceritakan tentang Great Depression tahun 1933 yang mengguncangkan dunia. Kemudian pemaparan didukung oleh data-data bagaimana sistem kapitalis merusak sistem ekonomi dunia. “Kapitalis, sosialis atau apa saja yang menjadi panutan ekonomi dunia, dasar pemikirannya selalu berubah dan tidak mengikuti zaman. Tetapi, ketika ekonomi syariah diterapkan, kita mempunyai dasar yang tetap, yang dijaga oleh Allah sampai akhir zaman, yaitu Al-Qur’an. Inilah yang membuat bisnis syariah tidak kolaps ketika krisis ekonomi dunia mengguncang,” kata Anggito Abimanyu. Potensi zakat yang besar, kemudian penduduk muslimnya yang banyak, menjadikan Indonesia sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan ketika ekonomi syariah dikembangkan. Indonesia memerlukan lebih banyak lagi SDM untuk memajukan bisnis berdasarkan syariah ini. Intinya, ekonomi syariah ini adalah satu keharusan, bukan lagi sebagai alternatif.

Banyak tanggapan positif dari peserta maupun pembicara seminar yang diadakan dalam rangkaian Lustrum XI Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM ini. “Acaranya cukup inspiratif terutama ketika sesi Pak Adiwarman, well-organized, dan menumbuhkan semangat. Namun kemudian harus ditetapkan apa bahasa yang harus dipakai dalam seminar internasional semacam ini, karena cukup membingungkan seminar dalam tiga bahasa,” kritik Putri Swastika, mahasiswa Manajemen FEB UGM. “Jarang acara seminar internasional yang digagas oleh mahasiswa kalau di luar negeri. Pada umumnya yang menggagas adalah universitas, tetapi yang datang hanya sedikit. Ini membuktikan bahwa kecintaan mahasiswa terhadap ekonomi islam sangat besar di Indonesia,” tanggap Adiwarman Karim

N 4 tugas yang dikasih K Bhima

15 June 2010

Kaya (part one)


arrggghhh
nda bagus juga nih~aku udah makin jarang aja terlihat di halaman ini.

susah sih ya?

Sekedar mau ngasih tahu aja, sekarang lagi ujian akhir dan aku hanya~, hanya buka-buka buku, lalu buku itu kujadikan bantal... Tapi keras abis dan akhirnya bisa menyebabkan kaku leher.

Ohya, kemaren aku sempet pulang ke balikpapan dan.. Menemukan bahwa kota itu dilanda gaya hidup hedonisme yang sangat parah. Okelah, sebagai anak ekonomi _ayhem!_ aku tahu kalau konsumsi itu akan menggerakkan pendapatan. Tapi gile aja tuh, kayaknya orang kaya lagi betebaran di Balikpapan. Necis, modis and teletubis abis. Perlente. Aku jadi ngeri ngeliat anak-anak yang notabene masih SMP-SMA atau bahkan masih SD itu bergaya, ralat, kehabisan gaya malah. Kenapa? Karena saking nggak tahu mau gaya apa, mereka malah nggak pake apa-apa. Andai aku bawa kain lebih pas jalan, pasti aku udah sodorin.

"Mbak, mau kainnya? Dijual, harga miring mbak. Daripada situ kerokan ntar malam, mendingan sekalian dicegah dulu"

baru ntar aku pasti dilihatin aja.

Orang gila.

Aku jadi heran ya? Semakin menuju ke masa yang mereka bilang modern dan sinar matahari yang semakin menyengat, mereka malah sedikit demi sedikit tidak melindungi badan, spesial buat kulit -yang katanya sinar matahari bisa menimbulkan kanker kulit- eh, tapi malah dibuka-buka. Yang atas semakin dikebawahin, yang bawah semakin dikeatasin (bahasakuuuuu~~)

Hermannnn~~

Huhu...

Bahaya hedonisme ini terasa sangat ketika orang-orang dari Kalimantan berpindah ke Jogjakarta untuk mencari ilmu, spesial untuk Kalimantan Timur, penghasil minyak dan gas. So pasti, hasil jualan minyak dan gas itu sangatlah menguntungkan. Dan itu berimbas pada keturunan orang yang bekerja pada perusahaan yang bergerak di kedua bidang itu. Karena biaya hidup yang tinggi, banyak yang menganggap bahwa makan dengan harga total Rp. 6000,- adalah hal yang murah. Memang, kalau di kedua kota yang berawalan B itu, harga makanan bisa dibilang cukup mahal. Nah, karena harga rendah dan penghasilan yang tinggi itu tetap, maka daya beli meningkat dan mahasiswa-mahasiswa yang belajar disini itu merasa kaya. Jadilah mereka berbelanja, mengkonsumsi berlebihan.
Misalnya, mereka punya uang 100.000, kalau di Balikpapan or Bontang mereka cuma bisa dapet 1 baju, disini mereka bisa dapet 3 baju, itupun kalau pintar bisa dapet 5 baju. Karena biasa menghabiskan 100.000 untuk membeli baju, ya akhirnya mereka gunakan semua uang itu. Jadilah mereka merasa kaya.

Ada satu kawan yang disinggung mengenai kata "murah". Suatu hari untk tugas English II, kami diminta untuk menceritakan pengalaman tentang masalah budaya yang berbeda, dan temanku menulis, : "harga-harga di jogja sangat murah."
dan akhirnya Lecture-ku bilang: "ini jurnal buatan orang kaya."

Mengapa lecture ku bilang begitu? Karena yang dibilang murah oleh temanku itu adalah sesuatu yang menurut orang jogja mahal. Misalkan soto ayam. Kalau di balikpapan, harganya bisa sampai 10.000, ketika menemukan harga soto ayam 5.000 di jogja, itu termasuk murah. Tapi ternyata, orang jogja bisa saja berpandangan lain, karena ada soto satu porsi itu 2.500. (nggak percaya? mau saya buktikan?)

--to be continued

17 April 2010

Macam-macam Aja

Alhamdulillah..

Alhamdulillah~~
huwaaaa..http://www.emocutez.com

AKHIRNYAAA.... AKHIRNYAAA...

akhirnya banyak tugas menumpuk lagii~~

setelah UTS ini dilalui dengan perjuangan berdarah-darah, ternyata UAS di depan sana akan menghabiskan seluruh darahku.
*lebayatun*

back to the topic.

Kata Raja, puisiku lagi menye-menye gitu. Yee~ terserah ogut dun mau ekspresikan seperti apa. Yang jelas sih kemaren-kemaren lagi sedih banget.
Ntah ah,

Eh,
nambah satu lagi nih yang patut dikagumi selain Pak Akbar disini :P


Kehidupanku bulan April ini fluktuatif, sebanding dengan keadaan dompet :P

Ah, berhubung aku inget sesuatu.

Dulu aku pernah ngepost tentang ngehilangin angka nol dibelakang rupiah kita sekarang. Ternyata itu dulu pernah dilakukan oleh pemerintahan kita. Pas zaman Om Soekarno jadi presiden, ada kebijakan Sanering atau pemotongan nilai uang, nah itu pas zaman om Syafruddin, makanya kebijakan sanering itu dinamai Gunting Syafruddin.

kalau mau liat lengkap sejarahnya, klik ini

Aku juga lagi buka-buka imel lama, nemu cerpen lama nih :)
Gaje banget tuh cerpen, tapi lumayan nilai Sastra Indonesia kemaren melambung tinggi gara-gara cerpen itu :P

Anyway, kemaren aku sempet ngisi formulir untuk masuk IIUM intake bulan September ini. Awalnya sih aku deg-degan banget, karena syaratku tinggal paspor aja. Beruntunglah aku bukan orang nekat, dan agak bodoh (aku nggak tahu kantor imigrasi dimana di Jogja ini), jadi aku hanya isi form-nya saja.

Padahal aku udah banyak tanya-tanya dan ngerepotin K Aji :(

Tapi aku tersadar, mungkin itu hanya emosiku sesaat karena ingin membuktikan sesuatu. Tapi aku yakin papa tidak akan mengizinkan. Mungkin lain waktu aku akan sekedar berjalan-jalan saja disana :)
Lagipula aku benci sangat dengan negara itu :(

Aku terlalu banyak mengambil tema hari ini, maklumlah~~

waktuku sedikit sekali untuk update blog ini :)

10 March 2010

The GreyZone

: my first weekly journal

Introduction
There are so many responsibilities of the corporate among the stakeholders, two of them are responsibilities to consumer and responsibilities to local community. What is local and consumer responsibilities? Corporate social responsibility is companies acting voluntarily and beyond the law to achieve social and environmental objectives during the course of their daily business activities. The act can be a hand to local programme  or just minimalize their negative effect to a community. And responsibilities to customer can be memenuhi the rights of consumer. Such as : get safety product, to be heard, informed all about relevant aspect of the product, to choose what they buy etc.
But now, how with tobacco company? Are they responsible among stakeholders, in this case local community and consumer? If they don’t, what is the problem? How to solve that problems?

Discussion
Commonly, tobacco company, especially famous tobacco company, has memenuhi their responsibilities, those are responsibilities to employee, supplier, investor, local community and costumer. For example, giving appropriate wage, inform the financial position, have a good relationship to suppliers, and sponsor many activities, such as environment conservation, giving scholarship and fund the music concert. So, if we asked whether the company has  fulfilled their responsibilities among stakeholders, the answer is yes, they have. But on the other side, the tobacco company has broken one of consumer rights, that is get safety product. Then, tobacco, the product, can cause pollution. But one the one hand, they have a conservation programme, which can be a reforestation programme. Finally, we will find so many things that opposite in tobaccos company responsibilities to the consumer and environment case.
Consumer rights states that consumer have right to get safe products but as we all know that tobaccos full with poison and dangerous thing in it. From nicotine (insecticide), ammonia (toilet cleaner), aracnic (poison), ect. Tobaccos can make pollution and illness, for active smokers and also passive smokers. But tobacco company has excuse. First excuse, that consumer are free to buy all things they want and nobody can forbide them to buy tobaccos. Second, if consumer buy tobaccos, company gets profit. Then the profit is  aside for young generation in scholarships or financial support. This means that consumer who buy tobacco help Indonesia to be better. Third, about pullution and illness, that after sold, tobacco is owned by consumer. When consumer inhale and exhale the smoke then causing pollution, it is consumer’s responsibiliy, not the company’s. For the illness, that is consumer’s choice. If they know the dangerous subtances, why are they still buy and exhale-inhale it?
Based on the processed data from the World Health Organization (WHO) in 2008, that out of every 4 of the Indonesian population was 1 smoker. The total tobaccos smoked per year is 225 billion sticks. It's enough to make a very bad pollution for the environment. These numbers will increase in relevance with the increase of adolescence.
Tobacco company has put themselves toa a greyzone, an area where good and bad things become blur, in assistance with losses and goods for “whitening” or repeal the badness from product they have produced. But, although tobacco company has produce things that harmful to human life, the company can directly closed. Because it will arise effect that not good for tobacco farmers and employees. Tobacco farmers will lose their jobs and cannot supply tobaccos to company, unemployment will increase.
Conclusion
So from previous exposure, in fact, there are more bad things than the good one. By closing the company, hopefully can be the solution. But before closing, in order to avoid bad effect, it is more better to prepare the closing in advance, such as prepare the replacement job for the employees.For example, for the tobaccos farmer, the land can be replaced by planting palms. Slowly the company “rebuilt” the company to a oil processing factory. Then the employee can work in there. In this example we avoid the tobacco/cigarettes bad effect by closing the company. Also we can increasing tax for cigarettes, or avoid to advertising the cigarettes (as American does). But despite of all, one example is more better than thousands advice.

Nadiyah Salsabila
09/280333/EK/17304
Management ‘09

4 January 2010

Masihkah Islam Berjaya dalam Ilmu Pengetahuan?



Ilmu sangat penting dalam Islam, dan Islam sendiri tidak bisa dipisahkan dengan ilmu. Dalam Al-Quran sendiri kata ilmu dan kata jadiannya diulang-ulang tidak kurang dari 800 kali. Bagitu pentingnya ilmu dalam Islam sehingga Allah berfirman : “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat...” (QS Al-Mujadilah : 11). Dalam masa kejayaannya, perkembangan ilmu pengetahuan dan agama Islam terintegrasi dengan baik; banyak cendekiawan muslim lahir dan menghasilkan karya yang masih dipakai hingga sekarang. 
Pada masa sekarang, saya melihat ada pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Padahal sebenarnya ilmu pengetahuan itu biasanya bereferensi pada agama. Dalam Al-Quran sendiri memang tidak ada istilah iptek secara langsung, tetapi berupa isyarat-isyarat. Ketika ilmu pengetahuan tidak  terintegrasi dengan agama, yang terjadi bisa saja kehancuran dan kekhawatiran.
Saya mencoba mengadakan penelitian di tempat tinggal saya (kost). Dari 15 orang penghuni kost dan dari berbagai macam fakultas yang berbeda, terlihat sangat jelas pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Ilmu atau pendidikan agama hanya diberikan kira-kira 2 SKS. Selanjutnya, tidak ada integrasi antara kurikulum atau bahan kuliah yang diajarkan dengan agama. Kita masih berkiblat pada barat untuk urusan ilmu pengetahuan dan memakai pikiran para ilmuwan barat. Contohnya saja pada mahasiswa yang belajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Pendidikan Agama Islam diajarkan terpisah. Walaupun masih dalam delapan matakuliah wajib semester ganjil. Tidak ada sistem ekonomi Islam yang diajarkan di dalam pertemuan kuliah. Kalaupun ada hanya sedikit sekali dan tidak dilanjutkan pengajarannya karena mahasiswa non-muslim juga belajar dalam satu kelas. Memang dalam PAI I diajarkan tentang ekonomi Islam, tetapi tidak mendalam. Dalam hal ini, agama dan ilmu menjadi dua domain yang berbeda dalam kehidupan manusia.
Padahal, banyak pemikiran cendekiawan muslim yang diambil oleh barat. Contoh dalam bidang ekonomi yaitu pemikiran Ibn Khaldun yang dalam teori ekonomi sekarang disebut backward sloping supply curve. Pemikiran Ibnu Khaldun ini diajarkan dalam matakuliah Pengantar Ekonomi sebagai Laffer Curve (menjelaskan bagaimana pendapatan pemerintah dari pajak suatu saat dapat menurun). Memang Laffer dalam pemikirannya berkata bahwa Beliau terinspirasi oleh Ibnu Khaldun, tetapi mengapa kita sampai bisa ‘kecolongan’? Belum lagi yang terkenal, Ibn Sina atau oleh barat disebut Avicenna. Bukunya Al-Qanun fi Al-thib disadur oleh barat dan akhirnya dijadikan buku teks wajib oleh dunia kedokteran.
Dahulu, ketika Islam menjadi satu dalam kehidupan manusia, menjadi pedoman di segala aspek kehidupan, Islam mencapai masa kejayaannya. Ketika agama dipisahkan, antara dunia dan akhirat menjadi suatu hal yang terpisah, sulit untuk mencapai kepuasan. Pasti ada hal yang kurang dan menimbulkan kecemasan. Apakah ilmu pengetahuan itu sebenarnya berguna atau malah ada untuk menghancurkan kehidupan manusia.
Seharusnya, ilmu pengetahuan atau matakuliah di fakultas-fakultas atau lebih khususnya dalam matakuliah yang diambil dalam Fakultas Ekonomika dan Bisnis, dimasukkan pengetahuan tentang ekonomi Islam, dan termasuk dalam Matakuliah Keilmuan dan Ketrampilan, bukan hanya sebagai materi dalam matakuliah PAI, agar kita mengetahui dan dapat mengkaji lebih dalam tentang ekonomi yang berlandaskan Islam. Jangan sampai kita sebagai umat muslim hanya mengetahui sedikit saja tentang ekonomi Islam. Malah orang-orang barat yang mengambil pemikiran orang-orang Islam dan mengaku sebagai hasil pemikiran mereka.
Insya Allah, jika kita bisa belajar Ilmu Agama yang notabene adalah Fardhu ‘ain dan juga wajib mempelajari ilmu pengetahuan yang lain –fardhu kifayah- niscaya ilmu pengetahuan bisa terintegrasi dengan baik dengan agama dan akhirnya bisa menerapkan ilmu-ilmu tersebut di jalan-Nya, untuk kemajuan umat Islam itu sendiri.
Sumber :
Al-Quranul Karim
Mankiw, Gregory N. 2006. Principles of Economics. Jakarta : Salemba Empat.
Tim Dosen PAI UGM. 2006. Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta : Badan Penerbitan Filsafat UGM.

3 October 2009

Economic Principles and My Holiday

This story will not tell you about how happy I was with my holiday.
It has been the worst holiday I have ever had. But, when my friend told me I had to work this paper (about relationship between my holiday and economic) I guess I get an idea. This holiday, I have changed my status as a FEB’s student. Then, I found that most events has relation to economic event and I started to think like an economist. Hehehe. After thinking thousands times, I choose this title.
Last holiday, I went to Palembang (well, not in Palembang actually, but in Pagaralam. About 6-8 hours from Palembang) and gave my tickets to Balikpapan up. I didn’t really enjoy go to Pagaralam because it will take a long time to go there. And I could not meet my friends in Balikpapan. But if I went to Pagaralam, I could meet my grandma and meet other family members. This was the first and second economic principles I faced : ‘people face tradeoffs’ and ‘the cost of something is what you give up to get it’. I could not meet my friends but I could meet my grandma. It talks about opportunity cost. Also when waiting so long at waiting room, actually I should be at Introduction to Economics at that day, but I gave it up and chose to go to airport.
That was my longest trip. It took about 15hours from Jogja to Pagaralam. Hum... Taking a car to Pagaralam made me know something about Back-to-Hometown Flow a.k.a Arus Mudik. J I had a conversation with the driver and the driver said that he must go back soon to Palembang to take other passangers. If we arrived on 1 a.m (I started trip to Pagaralam at 5p.m), he must back to Palembang at 3a.m. I asked wheter he felt tired or not, he only said, “It is rule from Big Boss, and because I try to get money for my family.” Hoho.. That was the third, ‘people respond to incentives’. He was willing to feel tired to get money as much as he can to make his family happy. He also decreased his ability to do his job because he wanted his Big Boss would decrease his incentives J
The fourth principle I found when I went to my aunt’s house. She was baking a cake when I went there. Her son was cleaning the windows and her husband is cooking ketupat (should I put ‘s’ after ketupat –so it will be ketupats-? Means lot of ketupat. :) This was the fourth, ‘trade can make everyone better off. Every family member had his-her job, so they could get many advantages, clean home, get money and get food.
There were ten principles, but I just can write four of them J

25 August 2009

Kuliah Perdana

PUYEEEEENNNKKKK

Apa itu kuliaaaaa??

Duh mau gila rasanya aku. Aku dari jurusan Bahasa tiba-tiba masuk ke kelas Pengantar Ekonomi n dijejalin dengan kata-kata Opportunity Cost, Principle of Economics, Supply, Demand...

Kalo bahasa itu mah aku juga tahu.

Yang bikin gegar budaya itu para mahasiswanya. Ckckck. Aku terbiasa jadi siswa pasif di kelas, sementara dosen-dosen malah menyuruh siswanya aktif. Rasanya aku kalah cepat eh ama mereka. Padahal rasanya aku nggak bego-bego amat waktu SMA. :(

Huft..
Menyebalkan nggak bisa membuat pertanyaan untuk Dosen.

Yah, baru hari pertama aja udah dikasih buku pengantar pake bahasa Inggris. Judulnya Principles of Economics, karangan si Mankiw.

Si Mankiw? huehehehe

Oke lah, aku sekarang akan berkutat dengan buku itu. Selama 2 semester ke depan :)

23 August 2009

Ekonomi Indonesia...

Aku lagi bete-betenya dengan uang ribuan. Makanya aku mau curhat dulu. Pas seminggu yang lalu kalo nggak salah, aku ngeliat mini-mags dari Hotel Le Grandeur Balikpapan. Aku ngeliat harga yang terletak di pojok bawah halaman ke tiga mini-mags itu.

Harga mini-mags berbahasa Inggris itu ternyata 30rb!

Ckckck. aku geleng-geleng kepala ngeliatnya.

Dibandingkan dengan negara-negara lain, yang pake angka ampe ribuan itu cuma negara kita! USA $3, Malaysia RM 12, Thailand 20an Bath (kalo nggak salah). Intinya, diantara sekitar 20an negara yang tercantum dalam daftar yang menjual mini-mags itu, cuma Indonesia yang memakai angka ampe puluh ribuan. Alias paling banyak nominalnya.

Aku langsung bete.

Fikiran anehku langsung muncul. Kenapa sih kita nggak menghilangkan 3 nol di belakang angka untuk tukar rupiah. Misalnya nih, $1 itu sama dengan Rp.10000 kita hilangkan aja tiga nol dibelakang satu, jadi $1=Rp.10. Jadi istilahnya di Indonesia cuma ada uang Rp.10, Rp. 50 yaaaa... Kembali ke zaman dulu gitu lah.

Jadi nggak malu-malu amat rasanya.

Kata guruku, nilai tukar IDR (Indonesian Rupiah) itu paling murah di antara negara-negara Asia Tenggara. Bahkan satu Baht pun (kalo nggak salah) masih Rp.700an. Ih... Sebel! :(

Aku jadi curhat kemaren ama guruku. "Mam, if I become a Economist, I will erase three zeros in our currency" (halah, bahasa Inggrisnya ancur!) trus guruku cuma bilang, "I hope so you'll be that. I'm sure you can fix this problem and make Indonesia a better country in 10 years..."

ahahaha...

Bisa nggak sih kita menerapkan kebijakan menghapus 3 angka nol?

Jadinya, enak gitu ngedengernya misalnya ada percakapan:
"Eh, satu dolar berapa rupiah?"

"Hum, cuma sepuluh Rupiah aja..."

hahaha

Tapi, sekarang yang bakal kita dengar untuk sementara:
"Eh, satu dolar berapa Rupiah?"

"Nggak tahu nih, naik turun terus. Pusing aku."

Suatu hari nanti, aku yakin, Indonesia will be better.

Dan yang paling pentinggg...

"AKU CINTA RUPIAH!"

n.b: ini catatan seorang calon ekonom yang lagi pusing. Jadi tulisan ini nggak usah di kaji lebih jauh :P