Jadi ingat ada kontes, "Ini ceritaku. Apa ceritamu?"
***
Cerita ini terinspirasi dari mi instan bermerk Indomie yang dinobatkan sebagai Best All Time Instant Noodle 2011-2012. Si Ninik sekitar hari Sabtu (19/4) memasang gambar iklan Indomie di e-bay. Cukup hebat harganya, satu paket isi 5 bungkus hampir Rp200.000. Kita hitung-hitung untung yang didapatkan si penjual Indomie ini ya.
Indomie yang dia jual adalah Indomie rasa Kari ayam. Harga rata-rata harga Indomie per dus adalah Rp70.000, dan isi satu dus adalah 40 bungkus, sehingga per bungkus +/- Rp1.750. Mari dibulatkan ke Rp2.000 supaya lebih mudah untuk menghitungnya.
Harga jual mi seharusnya:
2.000x5 bks= Rp10.000
Harga jual mi di ebay:
200.000
Keuntungan yang didapatkan oleh si penjual:
(jual mi di ebay-jual mi seharusnya)x(isi satu kardus/isi per paket)
= (200.000-10.000)x(40/5)
=190.000x8
=1.520.000
Asumsi:
-tidak ada biaya untuk bungkus kardus lagi, atau kalau ada, katakanlah 120.000
-pembeli membeli satu kardus alias 8 paket.
SATU KARDUS BISA UNTUNG RP1.400.000!
Kemudian aku sama Ninik berusaha untuk mencari pembeli lewat gmarket, ebay, amazon. Wkwkwkwk. Ninik bilang, "Jual 10 dus aja kita bisa kaya raya, Nad! Bisa bolak-balik Korea beberapa kali dalam setahun tuh :/"
Jadi mikir juga: pengen jadi juragan Indomie di Jepang!
Lebih baik jadi juragan mi daripada juragan rokok* kan?
***
Aku juga ingat banget beberapa hal yang bikin aku pusing sebagai mahasiswa pertukaran pelajar: Bumbu Nasi Goreng yang jadi Rp75k, Gado-gado yang jadi Rp130k, Mie Indomie Goreng yang jadi hampir Rp40k, dan saus sambal yang jadi Rp50k/botol. Fyuuuhhhh...
Beberapa anak HUE yang kemari sering borong Indomie kalau sudah dekat hari kepulangan mereka. Jelas banget alasan mereka: murah dan lebih gurih rasanya. Dengan uang Rp40k, mereka hampir bisa borong satu kardus mi, sedangkan disana cuma bisa kenyang sekali alias cuma dapat sebungkus!
Sebelum pertukaran, aku kira semua omongan, kisah tentang Indomie itu hanya bualan yang ngomong aja. Seorang dosen pernah berkata dia selalu membawa Indomie ketika dia harus belajar di luar negeri. Dua dus, untuk persiapan, dan jika sudah habis bisa nitip teman. Bahkan ketika zaman masih jadi mahasiswa dan beliau jalan ke Inggris, demi menghemat uang, beliau membawa beberapa bungkus Indomie untuk pengganjal perut. Ada lagi yang bercerita bahwa bagaimanapun yang di luar negeri, akan kangen dengan segala macam Indomie, apalagi bagi dia yang penggemar berat Indomie Ayam Bawang. Tapi ternyata, setelah merasakan sendiri, dengan berbagai masalah yang ada (bumbu kurang gurih, kadang nggak ada rasa Kari Ayam yang aku suka, telur ayam yang berbeda dengan telur ayam disini) aku survive sih, tapi pas pulang, hampir tiap hari aja aku makan Indomie.
Apalagi keluargaku penggemar berat Indomie.
Perutku sekarang keroncongan.
***
Tertarik jadi juragan mi di luar negeri?
Cause my daily life is not exactly the same as theirs. It's my story!
Showing posts with label HUE Exchange. Show all posts
Showing posts with label HUE Exchange. Show all posts
22 April 2014
10 July 2013
Kali Ini
Aku melangkahkan kaki keluar dari kamar apartemen. Sepi. Jalanan masih basah karena hujan lima menit yang lalu. Aku menatap vending machine yang sekarang berada di depanku. Ku genggam erat koin di tanganku, 120 Yen.
Bisa beli jus botol gede kalau aku ke mall yang jaraknya sangat dekat dengan apartemen, tapi di vending machine cuma dapat botol paling kecil.
Ah rindu.
Ku masukkan koin ke mesin, kemudian ku pilih minuman favoritku. Klang klang! Begitu suara botol yang keluar dari mesin. Ku tatap langit, berawan. Namun suhu sekarang sangat panas. Kelembaban tinggi membuatku hanya ingin menetap dalam kamar dan menyalakan pendingin ruangan.
Adzan mana adzan?
Adzan cuma bisa di dengar dari laptop. Rekaman langsung dari Makkah atau Madinah. Tinggal pilih. Cuma kalau Shubuh alarm-nya ayam berkokok. Bukan ayam beneran, lagi-lagi rekaman suara ayam khas merk telepon genggam yang termasyur itu.
Tiba-tiba air membasahi pipiku. Bukan, bukan air mata, tapi air hujan. Baru saja lima menit lalu berhenti, sekarang hujan lagi.
Iya, aku rindu suara petasan. Aku rindu suara adzan. Aku rindu masakan mama. Aku mau dibangunkan pas sahur. Aku mau sama teman-teman, tilawah, curhat-curhatan, membahas apapun masalah kami dalam sudut pandang agama.
Saling mengingatkan.
***
Namun kemudian aku tersadar. Ketika nanti terjun ke dunia nyata, dunia setelah dunia perkuliahan, hidupmu tergantung dengan dirimu sendiri. Kamu yang mempunyai pilihan-pilihan, tetapi untuk memilih pilihan tersebut kamu sudah mempunyai buku panduan.
Tinggal kamu saja yang memilih untuk “improvisasi" ketika memilih, atau menuruti buku panduan hidupmu itu.
:)
Semoga bulan Ramadhan kali ini membuat persiapanku menghadapi dunia semakin mantap :) Aamiin
***
Kulangkahkan kembali kakiku menuju apartemen. Kubuka pintu dan kuucapkan salam.
Rahmat bagimu..
8 July 2013
Menjelaskan 2
Part I
***
Oke, akhir-akhir ini Sangjin Oppa rajin banget tanya-tanya tentang Islam.
Sekali lagi, gara-gara bahasa Jepangku yang nggak karuan, aku pengen nangis. T^T
"Nadiyah, kamu di tahun ke-4 kan sekarang?"
"Iya."
"Balik ke Indonesia, langsung wisuda?"
"Nggak, tahun depan kayaknya. Tahun depan bulan Februari."
"Ah, begitukah. Habis wisuda, mau ngapain? Kerja?"
"Nggak. Pengennya nikah."
"Beneran?" *ekspresi terkejut*
"結婚するかもしれない" (terjemahannya kira-kira: Menikah atau nggak, nggak tahu)
"Ah, orang Indonesia habis wisuda pada nikah apa?" *1
"Nggak juga sih."
"Kalau Nadiyah mau nikah apa?"
"Ah, kalau sekarang mencari hati dulu."
"Hahahahahha.. Kalau di Islam, misalnya nih kalau Nadiyah, kalau udah jadian boleh liat rambut?"*2
"Nggak boleh. Bolehnya kalau sudah nikah."
"Sudah nikah? Koq susah sih?"
"Kan rahasia. Soalnya precious person, oppa. 소중한 사람?"
"Hem bener. Trus misalnya nih, kalau udah jadian, nggak boleh pisah gitu?"
"Ya, masih ada yang pisah sih..."
"Trus kalau nikah baru bisa lihat rambut ya?"
"Iyaps. Benar sekali."
"Ah, kenapa sih dalam Islam nggak boleh makan babi?"
*jengjeng* "......"
"Jorok ya?"
"Iya sih, tapi alasannya bukan itu aja Oppa."
"Kamu nggak tahu alasannya?"
*Jleb* "Aku tahu, tapi susah menjelaskannya..."
"Ahahhahaha. Kalau gitu belajar bahasa Korea aja sudah sana!"
"Iya deh iyaa~~"
Aku pun melenggang ke kamar. Selalu deh. :|
***
Note:
1 : Mungkin dia bilang begitu karena semester kemaren ada yang nikah pas pulang ke Indonesia.
2 : Konsep pacaran, jadian (付き合う) itu emang nggak ada di Islam. Tapi berhubung aku bingung menjelaskannya *lagilagi* ya aku bilang aja, bisa aja putus kalau pas pacaran. Bener kan?
***
Oke, akhir-akhir ini Sangjin Oppa rajin banget tanya-tanya tentang Islam.
Sekali lagi, gara-gara bahasa Jepangku yang nggak karuan, aku pengen nangis. T^T
"Nadiyah, kamu di tahun ke-4 kan sekarang?"
"Iya."
"Balik ke Indonesia, langsung wisuda?"
"Nggak, tahun depan kayaknya. Tahun depan bulan Februari."
"Ah, begitukah. Habis wisuda, mau ngapain? Kerja?"
"Nggak. Pengennya nikah."
"Beneran?" *ekspresi terkejut*
"結婚するかもしれない" (terjemahannya kira-kira: Menikah atau nggak, nggak tahu)
"Ah, orang Indonesia habis wisuda pada nikah apa?" *1
"Nggak juga sih."
"Kalau Nadiyah mau nikah apa?"
"Ah, kalau sekarang mencari hati dulu."
"Hahahahahha.. Kalau di Islam, misalnya nih kalau Nadiyah, kalau udah jadian boleh liat rambut?"*2
"Nggak boleh. Bolehnya kalau sudah nikah."
"Sudah nikah? Koq susah sih?"
"Kan rahasia. Soalnya precious person, oppa. 소중한 사람?"
"Hem bener. Trus misalnya nih, kalau udah jadian, nggak boleh pisah gitu?"
"Ya, masih ada yang pisah sih..."
"Trus kalau nikah baru bisa lihat rambut ya?"
"Iyaps. Benar sekali."
"Ah, kenapa sih dalam Islam nggak boleh makan babi?"
*jengjeng* "......"
"Jorok ya?"
"Iya sih, tapi alasannya bukan itu aja Oppa."
"Kamu nggak tahu alasannya?"
*Jleb* "Aku tahu, tapi susah menjelaskannya..."
"Ahahhahaha. Kalau gitu belajar bahasa Korea aja sudah sana!"
"Iya deh iyaa~~"
Aku pun melenggang ke kamar. Selalu deh. :|
***
Note:
1 : Mungkin dia bilang begitu karena semester kemaren ada yang nikah pas pulang ke Indonesia.
2 : Konsep pacaran, jadian (付き合う) itu emang nggak ada di Islam. Tapi berhubung aku bingung menjelaskannya *lagilagi* ya aku bilang aja, bisa aja putus kalau pas pacaran. Bener kan?
7 July 2013
Sebentar Saja
Sebentar saja kutarik diri ini dari keramaian yang ada.
Waktu untuk sedih boleh kan?
Tapi memang ia sebaiknya tidak menggerogoti hati lebih lama.
Kemudian kubiarkan jari-jari ini mengetuk papan tombol dengan riang agar hal yang menyesak dalam hati dan pikiran, hilang.
***
Iya, aku iri.
Sudah sekitar H-2 Ramadhan, tapi gegap gempita Ramadhan tak ada. Sudah ku bilang kah bahwa masjid terdekat dari tempatku itu sekitar dua jam. Memakan waktu sekitar 2 jam untuk sampai kesana dan uang yang dikeluarkan untuk jalan pulang pergi itu bisa untuk makan 2 hari. Kembang api? Ada dong pastinya. Musim panas sih.
Untuk berpuasa disini, mungkin sekitar 16 jam. Kemudian setan menyergap dalam hati. Panas yang menyengat dan kerongkongan yang kering membuatku ketar-ketir membayangkan Ramadhan kali ini. Dasar manusia lemah emang. Tapi aku akan mencoba koq. Langkah pertama emang berat! Sudah di wanti-wanti oleh bapak-ibu dosen, kakak angkatan, dan bahkan KUI disini untuk hati-hati jaga fisik, karena sangat berbeda dengan di Indonesia.
Terharu dengar ibu dosen bahasa Jepang yang bahkan sangat khawatir ketika mengetahui aku bakal menjalankan puasa. Kata beliau, "Nanti kalau puasa, habis dari kelas langsung pulang nyalain AC aja. Istirahat. Kalau nggak tahan jangan dipaksa. Takutnya kamu sakit ntar disini...". Belum lagi muka khawatir beliau :)
Kalau sahur, sebisa mungkin jangan makan gorengan dan mi instan. Katanya bikin cepat haus. Sebisa mungkin sayur-sayuran atau sup. Duh, bagi aku yang penyuka gorengan pasti tergoda untuk masak goreng-gorengan. Tapi demi ketahanan tubuh! Yosh!
Minta bangunin sahur? Ye kali. Sahur disini sekitaran jam 2.45 lah, soalnya Shubuh jam 3. Kemudian di rumah masih jam 2 kurang aja. Adek-adek mungkin baru pada tidur. Mama juga belum bangun pastinya. Mau Tarawih? Lagi-lagi sendirian, di kamar. Seperti shalat biasanya. Sepertinya.
***
Oh ngomong-ngomong.
Aku menuliskan ini ketika teman-teman cewek-Asia ku lagi ke Bar.
Yang tidak ikut pastinya tinggal saya.
Pesta tanpa minuman alkohol kayaknya cuma dikit banget! Seingat aku dari pesta makan-makan, yang nggak ada alkoholnya itu cuma satu. Kalau sudah mabuk, bau sake dimana-mana! Pernah suatu kali rok yang aku pakai terkena tumpahan Makgeolli (Korean rice wine), dan karena pesta baru mulai, dan aneh kalau aku tiba-tiba pulang, aku akhirnya berusaha bertahan.
Sampai dirumah, baju yang kupakai malam itu aku rendam, dan kemudian dirikupun aku tenggelamkan dalam air hangat. Pusing karena bau makgeolli dan teman-temannya.
---
Kalau saja cuaca lagi bagus tadi, pastinya saya sudah melangkahkan kaki ke museum siang tadi dan sekarang tinggal tidur dengan cantiknya, instead of writing this.
Show me the right path to be closer to you, Lord. My heart and my mind just getting further away from You. Forgive this weak human being. Aamiin.
Waktu untuk sedih boleh kan?
Tapi memang ia sebaiknya tidak menggerogoti hati lebih lama.
Kemudian kubiarkan jari-jari ini mengetuk papan tombol dengan riang agar hal yang menyesak dalam hati dan pikiran, hilang.
***
Iya, aku iri.
Sudah sekitar H-2 Ramadhan, tapi gegap gempita Ramadhan tak ada. Sudah ku bilang kah bahwa masjid terdekat dari tempatku itu sekitar dua jam. Memakan waktu sekitar 2 jam untuk sampai kesana dan uang yang dikeluarkan untuk jalan pulang pergi itu bisa untuk makan 2 hari. Kembang api? Ada dong pastinya. Musim panas sih.
Untuk berpuasa disini, mungkin sekitar 16 jam. Kemudian setan menyergap dalam hati. Panas yang menyengat dan kerongkongan yang kering membuatku ketar-ketir membayangkan Ramadhan kali ini. Dasar manusia lemah emang. Tapi aku akan mencoba koq. Langkah pertama emang berat! Sudah di wanti-wanti oleh bapak-ibu dosen, kakak angkatan, dan bahkan KUI disini untuk hati-hati jaga fisik, karena sangat berbeda dengan di Indonesia.
Terharu dengar ibu dosen bahasa Jepang yang bahkan sangat khawatir ketika mengetahui aku bakal menjalankan puasa. Kata beliau, "Nanti kalau puasa, habis dari kelas langsung pulang nyalain AC aja. Istirahat. Kalau nggak tahan jangan dipaksa. Takutnya kamu sakit ntar disini...". Belum lagi muka khawatir beliau :)
Kalau sahur, sebisa mungkin jangan makan gorengan dan mi instan. Katanya bikin cepat haus. Sebisa mungkin sayur-sayuran atau sup. Duh, bagi aku yang penyuka gorengan pasti tergoda untuk masak goreng-gorengan. Tapi demi ketahanan tubuh! Yosh!
Minta bangunin sahur? Ye kali. Sahur disini sekitaran jam 2.45 lah, soalnya Shubuh jam 3. Kemudian di rumah masih jam 2 kurang aja. Adek-adek mungkin baru pada tidur. Mama juga belum bangun pastinya. Mau Tarawih? Lagi-lagi sendirian, di kamar. Seperti shalat biasanya. Sepertinya.
***
Oh ngomong-ngomong.
Aku menuliskan ini ketika teman-teman cewek-Asia ku lagi ke Bar.
Yang tidak ikut pastinya tinggal saya.
Pesta tanpa minuman alkohol kayaknya cuma dikit banget! Seingat aku dari pesta makan-makan, yang nggak ada alkoholnya itu cuma satu. Kalau sudah mabuk, bau sake dimana-mana! Pernah suatu kali rok yang aku pakai terkena tumpahan Makgeolli (Korean rice wine), dan karena pesta baru mulai, dan aneh kalau aku tiba-tiba pulang, aku akhirnya berusaha bertahan.
Sampai dirumah, baju yang kupakai malam itu aku rendam, dan kemudian dirikupun aku tenggelamkan dalam air hangat. Pusing karena bau makgeolli dan teman-temannya.
---
Kalau saja cuaca lagi bagus tadi, pastinya saya sudah melangkahkan kaki ke museum siang tadi dan sekarang tinggal tidur dengan cantiknya, instead of writing this.
Show me the right path to be closer to you, Lord. My heart and my mind just getting further away from You. Forgive this weak human being. Aamiin.
11 June 2013
Butuh Waktu
: sebuah catatan yang ingin dituangkan secara terburu oleh penulisnya
***
Mungkin sekitar empat atau lima bulan lalu, sebelum berangkat ke Hiroshima, karena tidak tahu menahu apapun tentang Hiroshima, diriku mencoba meng-add ketua PPI Hiroshima. Tapi sayangnya, mungkin karena banyak sekali orang yang menambah beliau sebagai teman, saya tergusur. Namun, tetap menjadi follower beliau, melihat beberapa cerita inspirasi yang beliau tuliskan. Cerita yang menggelembungkan hasrat di dada untuk terus bermimpi. Sambil menanti-nanti kata "Friend request sent" menjadi "Friend".
Tapi sebulan berlalu, belum ada konfirmasi.
Kemudian saya, yang ketika itu sedang menunggu teman-teman Indonesia Contribution Project dari HUE, tiba-tiba melihat seseorang yang saya yakin sekali sebagai ketua PPI Hiroshima. Saya tapi kurang yakin dengan wajah beliau, hanya bisa berteriak kecil kepada teman saya yang juga akan pergi ke Hiroshima, "Sa, itu loh ketua PPI Hiroshima!". Sasa menyuruh saya untuk mengejar beliau dan bertanya apa memang beliau ketua PPI Hiro. Toh kalau salah juga tak apa.
Tapi beliau terlanjur menghilang dari pandangan.
Waktu berangkat semakin dekat, dan akhirnya hanya bermodal sedikit pengetahuan tentang apa yang sedang terjadi dan yang mungkin akan terjadi di Hiroshima, saya berangkat. Bismillah.
Panjang cerita, sudah dua bulan setengah saya disini, kemudian ada pemberitahuan dari international office bahwa ada pertemuan antara Indonesia-Jepang di sebuah hotel di Hiroshima. Kejutan! Saya menemukan wajah yang sama, tapi lagi-lagi saya belum sempat menyapa beliau. Sampai akhirnya saya digeret oleh mbak Retno, mahasiswa Ph.D untuk berkenalan dengan bapak Tuswadi.
Keajaiban kecil terjadi. Setidaknya menurut saya.
Setelah empat-lima bulan, akhirnya saya berbicara dengan Pak Tuswadi secara langsung. :) Ketika saya bercerita tentang saya yang melihat beliau sebelum ke Hiroshima, bagaimana saya yakin betul bahwa yang saya lihat adalah beliau, ketakutan saya untuk menyapa, dan bercerita bahwa setiap postingan yang beliau tulis menginspirasi saya :)
***
Apa sih yang ingin saya katakan dalam tulisan ini?
Saya jadi menyadari, kesempatan itu selalu datang pada saat yang tepat. Rezeki datang selalu di saat yang tepat. Rencana kita mungkin beratus, beribu, berjuta adanya. Namun tentu Allah-lah yang membuat semua rencana kita itu menjadi nyata, dan dipermanis dengan memberikan rezeki itu pada waktu yang tepat.
Mungkin saja, seandainya saya waktu itu saya menyapa Pak Tuswadi di bandara, saya tidak akan dapat memperkenalkan diri dengan baik dan berbicara banyak dengan beliau, karena pada saat itu pesawat mengalami keterlambatan dua jam, dan mungkin saja beliau mempunyai urusan lain yang lebih penting.
Lima bulan kemudian, saya bertemu dengan beliau pada saat yang tepat, dan kemudian dapat berbicara banyak, dan, hei, akhirnya saya friend di FB dengan beliau!
***
Mungkin saja, seandainya orang tua langsung membolehkan anaknya yang cerewet ini ikut pertukaran pelajar pada semester awal, saya tidak akan se-santai ini karena ketika pulang masih memikirkan nilai-nilai yang saya kejar. Belum lagi teman-teman yang terlanjur berada di tingkat atas saya, dan saya pun harus mengambil kelas berbarengan dengan angkatan bawah.
Saat ini adalah saat yang tepat, pada saat saya kembali, saya hanya akan memikirkan skripsi. Saat ini adalah masa saya mengisi energi karena mimpi ke depan sudah saya tuliskan dengan lebih jelas.
Saat ini adalah saat dimana saya lebih bisa membuka diri untuk kemudian berusaha menghadapi dunia :)
***
Terkadang butuh waktu dan kesabaran, karena manusia diberi keterbatasan.
Tidak dapat melihat kapan mimpinya terkabul.
Tidak dapat melihat mimpi apa yang terkabul.
Tidak dapat mengatur mimpi apa yang harus terkabul dan kapan.
Bagi yang belum terkabul mimpinya, mungkin penundaan itu diberikan untuk mempersiapkan hatimu, menempa agar ia lebih siap untuk menghadapi dunia yang -katanya- kejam. Mungkin penundaan diberikan karena waktu mendatang itu lebih baik daripada jika mimpimu dikabulkan sekarang.
: Dia Mahatahu
.:: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) ::. [AlAn’am: 59]
***
Mungkin sekitar empat atau lima bulan lalu, sebelum berangkat ke Hiroshima, karena tidak tahu menahu apapun tentang Hiroshima, diriku mencoba meng-add ketua PPI Hiroshima. Tapi sayangnya, mungkin karena banyak sekali orang yang menambah beliau sebagai teman, saya tergusur. Namun, tetap menjadi follower beliau, melihat beberapa cerita inspirasi yang beliau tuliskan. Cerita yang menggelembungkan hasrat di dada untuk terus bermimpi. Sambil menanti-nanti kata "Friend request sent" menjadi "Friend".
Tapi sebulan berlalu, belum ada konfirmasi.
Kemudian saya, yang ketika itu sedang menunggu teman-teman Indonesia Contribution Project dari HUE, tiba-tiba melihat seseorang yang saya yakin sekali sebagai ketua PPI Hiroshima. Saya tapi kurang yakin dengan wajah beliau, hanya bisa berteriak kecil kepada teman saya yang juga akan pergi ke Hiroshima, "Sa, itu loh ketua PPI Hiroshima!". Sasa menyuruh saya untuk mengejar beliau dan bertanya apa memang beliau ketua PPI Hiro. Toh kalau salah juga tak apa.
Tapi beliau terlanjur menghilang dari pandangan.
Waktu berangkat semakin dekat, dan akhirnya hanya bermodal sedikit pengetahuan tentang apa yang sedang terjadi dan yang mungkin akan terjadi di Hiroshima, saya berangkat. Bismillah.
Panjang cerita, sudah dua bulan setengah saya disini, kemudian ada pemberitahuan dari international office bahwa ada pertemuan antara Indonesia-Jepang di sebuah hotel di Hiroshima. Kejutan! Saya menemukan wajah yang sama, tapi lagi-lagi saya belum sempat menyapa beliau. Sampai akhirnya saya digeret oleh mbak Retno, mahasiswa Ph.D untuk berkenalan dengan bapak Tuswadi.
Keajaiban kecil terjadi. Setidaknya menurut saya.
Setelah empat-lima bulan, akhirnya saya berbicara dengan Pak Tuswadi secara langsung. :) Ketika saya bercerita tentang saya yang melihat beliau sebelum ke Hiroshima, bagaimana saya yakin betul bahwa yang saya lihat adalah beliau, ketakutan saya untuk menyapa, dan bercerita bahwa setiap postingan yang beliau tulis menginspirasi saya :)
***
Apa sih yang ingin saya katakan dalam tulisan ini?
Saya jadi menyadari, kesempatan itu selalu datang pada saat yang tepat. Rezeki datang selalu di saat yang tepat. Rencana kita mungkin beratus, beribu, berjuta adanya. Namun tentu Allah-lah yang membuat semua rencana kita itu menjadi nyata, dan dipermanis dengan memberikan rezeki itu pada waktu yang tepat.
Mungkin saja, seandainya saya waktu itu saya menyapa Pak Tuswadi di bandara, saya tidak akan dapat memperkenalkan diri dengan baik dan berbicara banyak dengan beliau, karena pada saat itu pesawat mengalami keterlambatan dua jam, dan mungkin saja beliau mempunyai urusan lain yang lebih penting.
Lima bulan kemudian, saya bertemu dengan beliau pada saat yang tepat, dan kemudian dapat berbicara banyak, dan, hei, akhirnya saya friend di FB dengan beliau!
***
Mungkin saja, seandainya orang tua langsung membolehkan anaknya yang cerewet ini ikut pertukaran pelajar pada semester awal, saya tidak akan se-santai ini karena ketika pulang masih memikirkan nilai-nilai yang saya kejar. Belum lagi teman-teman yang terlanjur berada di tingkat atas saya, dan saya pun harus mengambil kelas berbarengan dengan angkatan bawah.
Saat ini adalah saat yang tepat, pada saat saya kembali, saya hanya akan memikirkan skripsi. Saat ini adalah masa saya mengisi energi karena mimpi ke depan sudah saya tuliskan dengan lebih jelas.
Saat ini adalah saat dimana saya lebih bisa membuka diri untuk kemudian berusaha menghadapi dunia :)
***
Terkadang butuh waktu dan kesabaran, karena manusia diberi keterbatasan.
Tidak dapat melihat kapan mimpinya terkabul.
Tidak dapat melihat mimpi apa yang terkabul.
Tidak dapat mengatur mimpi apa yang harus terkabul dan kapan.
Bagi yang belum terkabul mimpinya, mungkin penundaan itu diberikan untuk mempersiapkan hatimu, menempa agar ia lebih siap untuk menghadapi dunia yang -katanya- kejam. Mungkin penundaan diberikan karena waktu mendatang itu lebih baik daripada jika mimpimu dikabulkan sekarang.
: Dia Mahatahu
.:: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) ::. [AlAn’am: 59]
1 May 2013
Curhat Sebentar
Udah dari hari Minggu diriku sakit. Hari Senin, sebenarnya libur nasional, tapi untung aja ada klinik yang buka. Jadilah diriku diantar Miyahara-san untuk berobat. Katanya sih cuma ada masalah di tenggorokan, tapi sumpah ini bikin tersiksa banget. Badan sebenarnya pegel-pegel, suara habis, pilek. Cocok deh.
Setelah hampir mungkin, satu setengah jam nunggu di klinik, akhirnya aku masuk juga ke ruang pemeriksaan, semuanya diperiksa. Takjub juga ngeliat dokternya udah tua banget. Kalau di Indonesia mah sudah tergantigan dengan dokter-dokter muda. Karena udah dua hari makanan yang masuk ke perut cuma sedikit, jadinya aku pake di infus. Agak kaget juga mendengar kata infus, sebenarnya. Karena aku kira infus adalah tanda bahwa penyakit yang diderita itu parah. Ternyata nggak. Disini infus yang diberikan kepadaku adalah sejenis asupan makanan.
Habis sekitar Y 10.000 an untuk sekali berkunjung dan obat-obatan.
Mahal? Iya. Tapi orang disini juga jarang sakit euy.
Tapi ini batuk saya nggak sembuh-sembuh juga. Malah tambah ingus ijo yang banyak keluar. Mungkin esok sepertinya saya akan pake masker ke kampus. Ngomong-ngomong, udara disini masih dingin aja T^T
Well, jaga kesehatan sih yang paling penting kalau nggak mau uang jatah setengah bulan lenyap. :D Aku sih sering tidur larut malam, trus makan nggak pernah teratur. :'( jarang minum vitamin dan sering lupa bawa air putih. :'(
Bodoh? Iya. Tapi sakit menjadi teguran :)
Setelah hampir mungkin, satu setengah jam nunggu di klinik, akhirnya aku masuk juga ke ruang pemeriksaan, semuanya diperiksa. Takjub juga ngeliat dokternya udah tua banget. Kalau di Indonesia mah sudah tergantigan dengan dokter-dokter muda. Karena udah dua hari makanan yang masuk ke perut cuma sedikit, jadinya aku pake di infus. Agak kaget juga mendengar kata infus, sebenarnya. Karena aku kira infus adalah tanda bahwa penyakit yang diderita itu parah. Ternyata nggak. Disini infus yang diberikan kepadaku adalah sejenis asupan makanan.
Habis sekitar Y 10.000 an untuk sekali berkunjung dan obat-obatan.
Mahal? Iya. Tapi orang disini juga jarang sakit euy.
Tapi ini batuk saya nggak sembuh-sembuh juga. Malah tambah ingus ijo yang banyak keluar. Mungkin esok sepertinya saya akan pake masker ke kampus. Ngomong-ngomong, udara disini masih dingin aja T^T
![]() |
| Memarnya belum ilang :'( |
Bodoh? Iya. Tapi sakit menjadi teguran :)
22 April 2013
Postingan Random tentang Budaya
1. Beberapa gaya teman-teman disini selalu aku perhatikan. Ajaib. Aku selalu berandai bagaimana jika cowok-cowok di Indonesia berpakaian seperti beberapa mahasiswa disini. Jangan salah, ada yang cuma pake training suit ke kampus. Belum lagi celana (yang menurutku celana tidur) yang di belakangnya -bokong- bertuliskan, "I am fabulous" bertinta emas, dipakai di kampus. Heboh dah.
Tapi ada dua cowok yang selalu menarik perhatianku. Untuk yang pertama, sebulan ini, aku jarang banget ngeliat dia pake baju sama. Kemudian yang kedua, berani pake tribal motives tabrak lari, plus alis yang dicukur.
Untuk yang cewek? Bukan ajaib, tapi azaib. Kadang bisa jadi feminim, kadang bisa jadi tomboy abis. Kayak keluar dari komik. :|
2. Orang Jepang rata-rata sopan dan teratur. Kata pak Amir, sebagai orang yang datang dari negara berkembang, hidup di negara maju itu mudah, dan berlaku sebaliknya. Menunggu di halte bus juga begitu. Kalau terlambat, antriannya panjang. Pertama sih aku kaget harus buat antrian untuk masuk ke dalam bus. Jadi harus berpanas-panas ria. Tapi lama-lama jadi kebiasaan dan, alarm, supaya lebih cepat datang ke halte bus.
3. Vending machine ada dimana-mana. Yang aku temui sih permen, minuman, rokok. Dan aku sangat udik sekali sering beli di vending machine. Padahal hitungannya mahal.
4. Nggak ada toko grosiran, atau belanja kebutuhan rumah tangga seabrek-abrek. Salah satu yang patut diteliti sebenarnya. Orang sini biasanya hanya membeli barang kebutuhan rumah tangga dalam jumlah kecil dan sering berbelanja. Alasan mereka untuk membeli barang dalam jumlah kecil adalah: supaya nggak ada yang terbuang. Jadi mereka lebih memilih untuk sering belanja daripada ada yang terbuang karena nggak dimakan :3
5. Permulaan musim semi, waktunya berkebun. Tapi hanya yang tua-tua saja yang terlihat gigih menanam bawang daun (玉ねぎ) bermacam-macam bunga. Ah, ngomong-ngomong soal bunga, bougenville yang di Indonesia bertaburan, disini dijual mahal gelak (bukan gila lagi). Nggak tahu tepatnya bunga itu dijual berapa, tapi yang jelas dijual di dalam mall. Tebak deh berapa harganya.
6. Jalan kaki kemana-mana. Sumpah kalau ini benar-benar bikin kaki jadi lecet-lecet. Pernah banget nih merasa tertipu *asek*. Jadi ceritanya diundang pesta, trus temen-temen pada ngeyakinin aku kalau jarak tempat pesta itu hanya 20 menit jalan kaki. Ternyata, dong, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah. Bahkan rumahnya terletak lebih tinggi dari sekolah ku :/ Total? 40 menit jalan kaki plus misuh-misuh.
Overall, yang jadi kuat itu adalah tubuh bagian bawah. Tapi tubuh bagian atas kurang gerak :|
***
Sekian dulu sih. XD
Tapi ada dua cowok yang selalu menarik perhatianku. Untuk yang pertama, sebulan ini, aku jarang banget ngeliat dia pake baju sama. Kemudian yang kedua, berani pake tribal motives tabrak lari, plus alis yang dicukur.
Untuk yang cewek? Bukan ajaib, tapi azaib. Kadang bisa jadi feminim, kadang bisa jadi tomboy abis. Kayak keluar dari komik. :|
2. Orang Jepang rata-rata sopan dan teratur. Kata pak Amir, sebagai orang yang datang dari negara berkembang, hidup di negara maju itu mudah, dan berlaku sebaliknya. Menunggu di halte bus juga begitu. Kalau terlambat, antriannya panjang. Pertama sih aku kaget harus buat antrian untuk masuk ke dalam bus. Jadi harus berpanas-panas ria. Tapi lama-lama jadi kebiasaan dan, alarm, supaya lebih cepat datang ke halte bus.
3. Vending machine ada dimana-mana. Yang aku temui sih permen, minuman, rokok. Dan aku sangat udik sekali sering beli di vending machine. Padahal hitungannya mahal.
4. Nggak ada toko grosiran, atau belanja kebutuhan rumah tangga seabrek-abrek. Salah satu yang patut diteliti sebenarnya. Orang sini biasanya hanya membeli barang kebutuhan rumah tangga dalam jumlah kecil dan sering berbelanja. Alasan mereka untuk membeli barang dalam jumlah kecil adalah: supaya nggak ada yang terbuang. Jadi mereka lebih memilih untuk sering belanja daripada ada yang terbuang karena nggak dimakan :3
5. Permulaan musim semi, waktunya berkebun. Tapi hanya yang tua-tua saja yang terlihat gigih menanam bawang daun (玉ねぎ) bermacam-macam bunga. Ah, ngomong-ngomong soal bunga, bougenville yang di Indonesia bertaburan, disini dijual mahal gelak (bukan gila lagi). Nggak tahu tepatnya bunga itu dijual berapa, tapi yang jelas dijual di dalam mall. Tebak deh berapa harganya.
6. Jalan kaki kemana-mana. Sumpah kalau ini benar-benar bikin kaki jadi lecet-lecet. Pernah banget nih merasa tertipu *asek*. Jadi ceritanya diundang pesta, trus temen-temen pada ngeyakinin aku kalau jarak tempat pesta itu hanya 20 menit jalan kaki. Ternyata, dong, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah. Bahkan rumahnya terletak lebih tinggi dari sekolah ku :/ Total? 40 menit jalan kaki plus misuh-misuh.
Overall, yang jadi kuat itu adalah tubuh bagian bawah. Tapi tubuh bagian atas kurang gerak :|
***
Sekian dulu sih. XD
Postingan Telat
*apadeh artinya kan yak.
Beberapa postingan sebenarnya aku tulis di blog mahasiswa internasional HUE. Jadinya blog ini dan beberapa project lain terlantar.
Karena sudah lama nggak berbahasa Inggris, jadinya kemampuan deskripsi hanya sebatas menjelaskan foto. Padahal harusnya aku bisa lebih dari itu :'(
**
Ah, kabar di sini? *siapa yang nanya coba?* Permulaan musim semi, jadi cuaca masih fluktuatif. Kadang aku harus mendekam dalam futon, kadang malah pengen makan es krim mulu. Bzzztt..
Pelajaran? Alhamdulillah baik-baik saja. Ada satu kelas yang penghuninya cuma aku, kemudian serasa selalu diperhatikan. Jadi pas aku harus menjelaskan ideku, entah kata-kata dalam bahasa Inggris-nya serasa hilang, menguap.
Kesehatan? Alhamdulillah sehat, walaupun terkadang aku bingung harus makan apa karena terbatas di sayur, daging (ayam dan sapi), dan sayuran. Itu patut sekali disyukuri. Belum lagi teman-teman yang sudah seperti bodyguard ketika aku makan. Sering pas aku beli makanan bareng mereka, mereka duluan yang pesan menu buatku, khusus. Nggak ada babi dan teman-temannya alkohol. Aku sih tinggal terima. ^^
Asmara? *asek* Kata Indah eonni ama Rina eonni nih: "Jauh-jauh ke Jepang malah keserempet *****" =sensor=. Ah btw, cowok Jepang itu ya, sopan amat ama cewek. At least yang aku temui disini.
Intinya alhamdulillah masih bahagia disini. ^^
Beberapa postingan sebenarnya aku tulis di blog mahasiswa internasional HUE. Jadinya blog ini dan beberapa project lain terlantar.
Karena sudah lama nggak berbahasa Inggris, jadinya kemampuan deskripsi hanya sebatas menjelaskan foto. Padahal harusnya aku bisa lebih dari itu :'(
**
Ah, kabar di sini? *siapa yang nanya coba?* Permulaan musim semi, jadi cuaca masih fluktuatif. Kadang aku harus mendekam dalam futon, kadang malah pengen makan es krim mulu. Bzzztt..
Pelajaran? Alhamdulillah baik-baik saja. Ada satu kelas yang penghuninya cuma aku, kemudian serasa selalu diperhatikan. Jadi pas aku harus menjelaskan ideku, entah kata-kata dalam bahasa Inggris-nya serasa hilang, menguap.
Kesehatan? Alhamdulillah sehat, walaupun terkadang aku bingung harus makan apa karena terbatas di sayur, daging (ayam dan sapi), dan sayuran. Itu patut sekali disyukuri. Belum lagi teman-teman yang sudah seperti bodyguard ketika aku makan. Sering pas aku beli makanan bareng mereka, mereka duluan yang pesan menu buatku, khusus. Nggak ada babi dan teman-temannya alkohol. Aku sih tinggal terima. ^^
Asmara? *asek* Kata Indah eonni ama Rina eonni nih: "Jauh-jauh ke Jepang malah keserempet *****" =sensor=. Ah btw, cowok Jepang itu ya, sopan amat ama cewek. At least yang aku temui disini.
Intinya alhamdulillah masih bahagia disini. ^^
7 April 2013
Touch Down(town)
Sedianya aku tinggal di Hiroshima, Jogja-nya Jepang katanya. Tapi, daerah aku tinggal itu adalah daerah Gion, Merapi-nya Jogja. Jauh dari peradaban walau ada satu mall gede. Jadi, waktu denger Mina dan Sangjin mau ke downtown, aku mepet-mepet deh pengen ikut mereka. Wkwkwkwk.
SOO~ berjalan kaki ke basu tei (バステイ) alias pemberhentian bus yang jauhnya sekitar 20 menit dari apato. Hujan turun dengan indahnya. Belum sampai pemberhentian bus saja rokku sudah basah, kaos kaki basah. Tapi tetap saja keingintahuan semakin besar. Y 250 * 2 untuk perjalanan downtown vv. :3
Di tiba di Hiroshima Sentral (広島センター) masih berjalan kaki lagi, untuk ketemu Mizu dan Syun~ Karena sudah masuk waktu makan siang, akhirnya memutuskan untuk makan pasta :9 Tentu saja aku pilih yang aman-aman sajo~ Bolognaise. Kalau nggak teliti, bisa sesat di Shopping Arcade! Kiri-kanan, sepanjang jalan, toko semua!
Memang sih porsinya itu masih porsi kecil, dan ternyata ada porsi gede! Belum lagi mereka masih makan pizza sebagai tambahan. Bangkrut dah! Pizza dibagi tiga, untuk yang cewek dan cowok, kemudian pastaku sendiri, habis Y 533 (pasta) + Y 240 (Pizza bagi 3) = Y 773. Mahal? Iya.
Karena ada yang mau tarik uang di ATM, mereka ke combin (convinience store). Aku yang niatnya cuma mau lihat-lihat komik, langsung membeli komik ini pas melihatnya:
Mahal banget! Y 1219. Tapi aku akan berhemat selanjutnya!
Habis dari combin, kita ke Purikuraaa! Salah satu tempat populer untuk dikunjungi! Tempat fotobox yang bakal membuat ukuran mata tampak lebih besar!
Better than expected. Ehehehe. Kalau nggak salah sekitar Y 400. Tapi kemaren sudah ditanggung wkwkwkwk.
Di acara jalan-jalan itu aku jadi fashion police! *padahal baju yang dipakai sendirinya fashion disaster!* Di waktu yang dingin menusuk kulit mereka masih pake yang mini-mini. Aku takjub banget dengan ke-kawaii-an pakaian mereka. Kawaii Style atau gaya imut ini pastinya sudah terkenal. Tapi kalau melihat sendiri itu emang rasanya beda. Rok mini, baju lengan panjang atau coat, dan heels. Berbagai macam heels! Mau pump heels, wedges, stiletto, mary-jane but still heels! Ankle boots with heels and soooo many heellss! Kalau di Indonesia sih menurutku itu biasa, di mall, yang paling juga nanti dari parkiran sampai parkiran saja menderitanya. Karena kemana-mana biasa pake kendaraan.
Lah ini. Di negara yang pake jalan kaki kemana-mana sebelum sampai tujuan, 5-15 cm heels to get everywhere? *clapping hands* Tapi ya itu. Varises bisa dilihat di kaki mereka.
Sepertinya Sangjin kemaren mencari-cari stationery. But it turned out we explored all the stationery shop. Sampe 5 tempat dan satu sama lain agak berjauhan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat stationery yang lain, kita makan es krim! Polar Bear Gelato (ジェラート工房 ポーラーベア) :9
Banyak macamnya: Coffee, Strawberry, Milk-Strawberry, Vanilla, Greentea
Masuk mall lagi habis makan, muter-muter, dan melihat beberapa hal yang menarik.
Iya, kapsul tsunami yang muat -katanya- sampai empat orang. Jadi kalau ada bahaya Tsunami, langsung masuk ke kapsul itu, pakai belt-nya, dan sepertinya (insya Allah) dapat mengapung mengikuti arus air laut. Asal akhirnya nggak ke tengah laut aja.
***
Waktu juga sudah menunjukkan jam setengah 6, dan kami pun pulang~ Dalam perjalanan, aku sempatkan mengambil foto diantara kerumunan orang :)
Sayang sekali karena terburu-buru, jadinya nggak bisa dapat pemandangan downtown yang bagus :'(
Capek jalan, pulang deh :)
Mina yang foto, jadinya dia nggak masuk frame. Ehehehe.
Dingin, tapi menyenangkan!
***
Tips: Selalu bawa air minum dan payung selama spring dan summer. Apapun yang terjadi, siapkan dua hal itu di dalam tas, terutama air minum. Walau dingin, kamu bisa kekurangan cairan. Dan bibir kering adalah hal yang sangat menjengkelkan!
Cek prakiraan cuaca sebelum menentukan mau beraktifitas pada hari tersebut. Memang sih tetap saja Allah yang berkehendak :D Tapi kegiatan yang aku lakukan di atas dan kegiatan nulis blog hari ini adalah kegiatan tour yang tertunda karena prakiraan cuaca yang mengatakan akan hujan di dua hari tersebut (06-07 April). Dan benar. Hujan sepanjang hari~~
SOO~ berjalan kaki ke basu tei (バステイ) alias pemberhentian bus yang jauhnya sekitar 20 menit dari apato. Hujan turun dengan indahnya. Belum sampai pemberhentian bus saja rokku sudah basah, kaos kaki basah. Tapi tetap saja keingintahuan semakin besar. Y 250 * 2 untuk perjalanan downtown vv. :3
Di tiba di Hiroshima Sentral (広島センター) masih berjalan kaki lagi, untuk ketemu Mizu dan Syun~ Karena sudah masuk waktu makan siang, akhirnya memutuskan untuk makan pasta :9 Tentu saja aku pilih yang aman-aman sajo~ Bolognaise. Kalau nggak teliti, bisa sesat di Shopping Arcade! Kiri-kanan, sepanjang jalan, toko semua!
| Itu di kiri Syun, dan Sangjin |
Karena ada yang mau tarik uang di ATM, mereka ke combin (convinience store). Aku yang niatnya cuma mau lihat-lihat komik, langsung membeli komik ini pas melihatnya:
![]() |
| Opening Works of Doraemon |
Habis dari combin, kita ke Purikuraaa! Salah satu tempat populer untuk dikunjungi! Tempat fotobox yang bakal membuat ukuran mata tampak lebih besar!
| Mizu maaf (^^;) |
Di acara jalan-jalan itu aku jadi fashion police! *padahal baju yang dipakai sendirinya fashion disaster!* Di waktu yang dingin menusuk kulit mereka masih pake yang mini-mini. Aku takjub banget dengan ke-kawaii-an pakaian mereka. Kawaii Style atau gaya imut ini pastinya sudah terkenal. Tapi kalau melihat sendiri itu emang rasanya beda. Rok mini, baju lengan panjang atau coat, dan heels. Berbagai macam heels! Mau pump heels, wedges, stiletto, mary-jane but still heels! Ankle boots with heels and soooo many heellss! Kalau di Indonesia sih menurutku itu biasa, di mall, yang paling juga nanti dari parkiran sampai parkiran saja menderitanya. Karena kemana-mana biasa pake kendaraan.
Lah ini. Di negara yang pake jalan kaki kemana-mana sebelum sampai tujuan, 5-15 cm heels to get everywhere? *clapping hands* Tapi ya itu. Varises bisa dilihat di kaki mereka.
Sepertinya Sangjin kemaren mencari-cari stationery. But it turned out we explored all the stationery shop. Sampe 5 tempat dan satu sama lain agak berjauhan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat stationery yang lain, kita makan es krim! Polar Bear Gelato (ジェラート工房 ポーラーベア) :9
![]() |
| Strawberry Gelato |
Masuk mall lagi habis makan, muter-muter, dan melihat beberapa hal yang menarik.
![]() |
| Ular Tangga Doraemon |
![]() |
| Tsunami Capsule |
***
Waktu juga sudah menunjukkan jam setengah 6, dan kami pun pulang~ Dalam perjalanan, aku sempatkan mengambil foto diantara kerumunan orang :)
![]() |
| A part of Downtown |
Capek jalan, pulang deh :)
| Sangjin, Nad, Sasa |
Dingin, tapi menyenangkan!
***
Tips: Selalu bawa air minum dan payung selama spring dan summer. Apapun yang terjadi, siapkan dua hal itu di dalam tas, terutama air minum. Walau dingin, kamu bisa kekurangan cairan. Dan bibir kering adalah hal yang sangat menjengkelkan!
Cek prakiraan cuaca sebelum menentukan mau beraktifitas pada hari tersebut. Memang sih tetap saja Allah yang berkehendak :D Tapi kegiatan yang aku lakukan di atas dan kegiatan nulis blog hari ini adalah kegiatan tour yang tertunda karena prakiraan cuaca yang mengatakan akan hujan di dua hari tersebut (06-07 April). Dan benar. Hujan sepanjang hari~~
4 April 2013
That Journey 3
Masih di tanggal 2 April
Sampai di Hiroshima Station, ternyata aku salah memberitahukan jam kedatangan ke Miyahara-san. Harusnya jam 12.20, aku kasih tahu jam 13.20. Jadilah mengisi perut di McDonald, tempat dijemputnya kami berdua.
Sampai di dorm, takjub bet dong yak..
Microwave, panggangan, rice cooker, mesin cuci, kulkas, kompor, setrika, vacuum cleaner, tipi! Belum lagi harta karun: hair dryer, catokan, stationery, bumbu masak, piring, gelas! *lengkap*
Sampai dorm jam 2, eh jam 2.30 sudah disuruh ke Kodokan untuk tour lingkungan sekitar. Ah ya, lupa. Hujan deras seharian dan merata, sepanjang perjalanan dari Osaka ke Hiroshima! Akhirnya was wus was wus, mandi dan ganti pakaian. Di Kodokan, pertama kali ketemu Sho! hihihihihi, kemudian Tacchan yang pake jas *ehem* dan anak Indonesian Project lainnya.
Baru kemudian diantar untuk jalan-jalan! Ke Mall terdekat sepanjang hidup : Aeon Mall. Cukup gede dan lengkap. Tapi ada juga sih tempat belanja lainnya: Don Quixote. Di supermarketnya ditunjukkan mana makanan yang mengandung mirin dan babi. Kemudian ditunjukkan kantor pos, stasiun kereta, dan bus stop untuk ke downtown :)
Hujan dan dingin menusuk kulit dan kemana-mana jalan kaki itu cukup membuat saya takjub. Belum lagi dimana-mana ada vending machine untuk minuman, Tergoda untuk masukin uang dan membeli fanta! Ada rasa peach, anggur :9 bahkan susu sakura!
Sayang sekali nggak ada foto-foto banyak. :'(
Yang namanya bahasa Inggris sedikit saja dari mereka sangat membantu untuk mengerti apa yang dibicarakan. Nggak jarang aku harus memutar otak dan menebak apa arti yg sedang mereka bicarakan! :]
It was so fun!
Habis itu makan okonomiyaki deh sama dua Tsubasa :)
Okonomiyakinya super gede! Trus berlapis-lapis. Tidak lupa banyak komik untuk dibaca. Salah satunya adalah Slam Dunk!
Perut senang, hati kenyang. Eh perut kenyang, hati senang. Kemudian pulang ke dorm lagi :)
Inilah pemandangan sepanjang jalan dari Kodokan ke dorm.
:) Semoga nanti lebih menyenangkan :)
Sampai di Hiroshima Station, ternyata aku salah memberitahukan jam kedatangan ke Miyahara-san. Harusnya jam 12.20, aku kasih tahu jam 13.20. Jadilah mengisi perut di McDonald, tempat dijemputnya kami berdua.
Sampai di dorm, takjub bet dong yak..
| Segala ada :] |
Sampai dorm jam 2, eh jam 2.30 sudah disuruh ke Kodokan untuk tour lingkungan sekitar. Ah ya, lupa. Hujan deras seharian dan merata, sepanjang perjalanan dari Osaka ke Hiroshima! Akhirnya was wus was wus, mandi dan ganti pakaian. Di Kodokan, pertama kali ketemu Sho! hihihihihi, kemudian Tacchan yang pake jas *ehem* dan anak Indonesian Project lainnya.
Baru kemudian diantar untuk jalan-jalan! Ke Mall terdekat sepanjang hidup : Aeon Mall. Cukup gede dan lengkap. Tapi ada juga sih tempat belanja lainnya: Don Quixote. Di supermarketnya ditunjukkan mana makanan yang mengandung mirin dan babi. Kemudian ditunjukkan kantor pos, stasiun kereta, dan bus stop untuk ke downtown :)
Hujan dan dingin menusuk kulit dan kemana-mana jalan kaki itu cukup membuat saya takjub. Belum lagi dimana-mana ada vending machine untuk minuman, Tergoda untuk masukin uang dan membeli fanta! Ada rasa peach, anggur :9 bahkan susu sakura!
Sayang sekali nggak ada foto-foto banyak. :'(
![]() |
| di Aeon Mall |
It was so fun!
Habis itu makan okonomiyaki deh sama dua Tsubasa :)
| Okonomiyaki Hiroshima! |
| :9 |
![]() |
| Hanamichi Sakuragi! |
Inilah pemandangan sepanjang jalan dari Kodokan ke dorm.
That Journey 2
Di pesawat, perjalanan ternyata sih hanya sekitar 6 jam + 1 perbedaan waktu. Sampai di Osaka sekitar jam setengah 11. Trus turun ke imigrasi. Antrian cukup panjang untuk yang punya paspor luar negeri. Tapi karena prosesnya cepat, dan dibagi antara pelajar dan pelancong, jadinya menunggu itu tak terasa :) Di imigrasi mengurus residence card dan izin kerja part-timer. Sampai giliranku, ternyata macet dikit: nama berbeda di lembaran paspor, kartu habis, dan sepertinya muka yang pake kacamata berbeda, jadi harus dilihat berkali-kali oleh petugas imigrasi. Saat-saat begitu, bahasa Jepang secukupnya itu berguna sekali.
Sayang nggak boleh ambil foto di ke-imigrasi-an. :)
Kemudian mengambil bagasi. Di conveyor sudah tinggal beberapa koper saja, termasuk koper aku dan Sasa. Kemudian keluar menuju pemberhentian bus. Pintu bergeser otomatis, daaaannn~~ angin yang super dingin berhembus ke wajah. Cuaca ekstrim dalam satu hari. Oke banget.
Setelah baca petunjuk di bandara, kemudian cari wi-fi gretongan untuk ngabarin ortu dan temen-temen :3
| Bawaan :) |
Dari bandara, kemudian naik bis bandara ke Herbis Osaka Station. Bukan stasiun kereta api, tapi halte bus! Perjalanan sekitar satu jam lebih, kemudian turun di halte, menggeret-geret koper! Masih sekitar 20 menit perjalanan dengan langkah orang Indonesia. Cuma sekitar 10 menit kayaknya kalau langkah orang Jepang.
| Underground Passage |
![]() |
| UP, sangat sunyi di malam hari |
Masih dengan ketakjuban dan ketidak percayaan bahwa sudah sampai di Jepang, aku berusaha merekam semua kejadian dalam ingatan. Jam menunjukkan pukul 1, tapi masih saja banyak orang ber-jas lalu-lalang di jalanan. Entahlah, lembur mungkin? Walau dingin, aku tidak serta-merta selalu bersin, malah badan terasa segar! Melewati proses geret-geret dan angkat-angkat, akhirnya sih tiba juga di terminal bus. Tapi masih jam 1.30 am! Bis? Jam 7.30 dan hajat kecil minta dibuang!
Intinya sih sekitar 8 jam menahan pipis!
![]() |
| Berat bebanku~~ *nyanyi* Credit: Sasa |
Kemudian, menahan dingin yang teramat sangat, kami mencoba bergerak kesana-kemari. Perut kemudian keroncongan, akhirnya aku pergi mencari bento, sedangkan Sasa bertugas untuk menjaga barang. Ada FamilyMart, semacam Indomart n Alfamart di Indonesia. Banyak pilihan makanan disana: sushi, onigiri, spageti, salad. Tapi bingung banget yang mana yang nggak pake babi. Akhirnya pilihanku jatuh ke bento dengan dua onigiri.
![]() |
| Lumayan. Dan ini makanan terakhir kami sampai 10 jam ke depan! *Credit: Sasa* |
Bingung banget mau ngapain di cuaca dingin ekstrim. Mau tetep diam di tempat dingin, mau jalan-jalan angin yang berhembus dingin banget. AC kalah dah. Tidur telentang, dingin. Tidur duduk, dingin plus pegel. Serba salah!
Kalau kayak gini baru deh kangen udara panas.
Entah apa yang kami lakukan, keliling Umeda Sky Building, mencari tempat hangat (tapi bangunan Umeda Sky Building itu open space! Jadi susah menemukan ruangan yang lebih hangat!) Namun, perlahan jarum menuju ke angka 7 juga. Alhamdulillah
![]() |
| In front of Umeda Sky Building East Tower |
Matahari malu-malu banget menampakkan wajahnya. Kami tetap saja kedinginan! Sampai pada akhirnya kami masuk ke dalam ruang tunggu dan aku pun pipis~~ =]
Perjalanan ke Osaka sekitar 5 jam. Dan dihabiskan dengan memejamkan mata!
![]() |
| Mengenang dinginnya Osaka |
![]() |
| Dalamnya bus Willer :) |
***
Bagian ini khusus tips-and-trick dan detail perjalanan.
Sebelum ke Jepang, apalagi yang mau ikut program pertukaran di HUE, ada baiknya menguasai bahasa Jepang sampai buku dua, minimum. *kalau di Lembaga Bahasa Jepang* Atau tamatkan buku "Complete Japanese 1 dan 2". Berguna banget untuk sekedar mengerti apa yang mereka bicarakan walau nanti kamu akan membalasnya pake bahasa Inggris.
Atur waktu dengan tepat untuk setiap perjalanan, jangan seperti saya yang harus rela kedinginan dan merutuk sepanjang malam. Lebih bagus kalau misalnya pake pesawat malam dan sampai Osaka pada pagi hari, lebih banyak pilihan kendaraan untuk sampai Hiroshima.
Kalau dapat penerbangan malam dan masih di awal musim semi, bawa jaket yang cukup tebal dan jangan pakai baju tipis. Untuk yang perempuan dan memakai rok seperti saya, legging tebal atau skinny jeans di dalam rok is a must! Bukan sekedar celana biasa :)
Bawa snack!
Detail perjalanan:
1. KIX-Herbis Osaka Station
Keluar dari bandara, cari pemberhentian bis nomor 5. Kemudian beli tiket di mesin tiket. Pilih Osaka Station atau Osaka/Umeda Station. Bukan Shin Osaka yak. Nanti turun di Herbis Osaka Station. Harga tiket 1500 yen. Selain harga itu, berarti salah :P
2. Herbis Osaka Station - Willer Bus Terminal
Jangan salah ya, terminal di sana bukan kayak terminal Indonesia. Terletak di salah satu bagian bangunan gede. Dari HO station (turun bis belok kiri) lurus terus sampai lampu merah. Kemudian belok kiri, nyebrang. Jalan lurus terus sampai ketemu, di sebrang jalan sebelah kanan, north exit. Kanjinya (出口) entah apalagi yang tertulis, kalau liat kanji itu berarti kamu sudah berada di jalan yang benar, asek. Menyebrangi jalan, menuju arah pintu keluar stasiun kereta. Belok kiri setelah menyebrang, kemudian jalan saja lurus di pedestrian. Sampai ketemu lampu lalu lintas, di sebelah kiri ada jalan underground passage. Menuju situ. Masuk aja. Setelah melewati underground passage, tinggal menyebrang. Kemudian belok kanan. Terminal bus Willer ada di sekitar 20 meter setelah menyebrang.
Subscribe to:
Posts (Atom)














