21 June 2011

Cinta part I

Aku kehabisan kata untuk memberitahu aku sayang kamu. Huh, aku sebenarnya kesal. Melihat matamu yang menyipit lalu memandangku aneh. Aku hanya bisa memanyunkan bibirku. Hah, lalu kamu tertawa. Aku pun akhirnya tersenyum. Lalu aku menggenggam tanganmu. Sayang, butuh berapa kali lagi dan bagaimana cara untuk membuatmu mengerti aku sayang kamu?
Aku menggandeng tanganmu. Sayang, aku ingin mengajakmu keliling dunia. Dimulai dari sini dulu. Kita keliling Indonesia, yuk? Dari Kalimantan Timur, kita ke Tenggarong, di atas kereta gantung pulau Kumala, aku mengajakmu melihat ke bawah, ke sungai Mahakam. Sungai Terpanjang di Indonesia. Di Kalimantan Timur ini kan ada tuh yang namanya suku Dayak Benuaq. Kata mereka, “Ake Uba Iko”. Aku sayang kamu. Kau menyilangkan jarimu tanganmu di antara jariku. Kau menatapku.
Hanya tatapan? Aku ingin lebih dari itu.
Hem~ Berpindah kita ke Sulawesi Utara. Kita snorkeling yuk! Jarang kan ada yang menyatakan cintanya di laut? Sebenarnya sih menyelam adalah hal yang patut dilakukan di Bunaken. Tapi, kau tahu  kan aku selalu takut berlebihan? Kamu hanya tersenyum melihatku. Senyummu. Saat snorkeling, kita melihat keindahan alam air. Seindah dirimu, yang membuat duniaku berwarna. Aku menghampirimu yang sedang asyik bersnorkeling ria. Kulepas kacamataku. Kupegang tanganmu, orang Manado bilang, “Ta cinta pa ngana..”
Tak juga kau menjawab pernyataanku.
Kita lanjutkan saja perjalanan kita dari Sulawesi Utara~ ke Sulawesi Selatan! Rasakan anging mammiri! Tahu nggak sih arti lagu anging mamiri? Ceritanya sedih banget loh. Tentang seorang yang ditinggal kekasihnya. Lalu membiarkan angin menghapus rasa cinta yang mendalam itu. Tapi sayangku, aku nggak bakal meninggalkanmu. Karena, “U poji’ ko”. Aku sayang kamu. Apakah kamu juga tidak akan meninggalkanku?
Kau melemparkan tatap kepadaku.
Namun apakah arti tatapanmu itu? Aku tidak mengerti. Apakah itu artinya kau tidak akan meninggalkanku? Aku genggam erat tanganmu. Lalu kemudian, kita berjalan-jalan ke ranah jawi. Jogjaaa!! Ya, di Jogja, ada yang namanya candi Prambanan atau Rara Jonggrang. Tahu ceritanya nggak sih? Jadi, Rara Jonggrang itu mau dilamar ama Bandung Bandawasa. Eh, Roro Jonggrang jual mahal, akhirnya minta dibuatin seribu candi deh dalam semalam. Dia nggak tahu kalau si Bandung sakti banget. Ketika hampir selesai semua candinya, Rara minta temen-temen perempuannya untuk memukul lesung dengan alu, agar ayam segera bangun dan berkokok. Si Bandung yang tahu siasat Rara akhirnya marah. Rara dikutuk jadi batu, dan teman-temannya dikutuk nggak pernah nikah alias jadi perawan selamanya. Mungkin si Bandung ingin berkata kepada si Rara, “Kalau nggak suka sama aku ya bilang. Jangan buat aku capek dan kesel!”. Tapi, mereka berdua tetap aja nggak bisa bersatu dan akhirnya tak ada kalimat “Kulo tresno dumatheng panjenengan”.
Sedih.
Kau mengusap-usap bahuku. Memelukku. Mungkin aku versi cewek Bandung Bandawasa. Aku butuh kalimatmu. Tapi aku tidak akan pernah merasa lelah dan menyesal karena mencintaimu, karena mencintai adalah suatu keharusan. Kita ke Bandung yok! Belanja. Kau tahu kan, wanita, belanja adalah cara mengurangi stress. Di Bandung, Parisj van Java, banyak sekali tempat berbelanja dan rekreasi untuk mengurangi stress. Namun perlu kau tahu, aku tidak pernah merasa stress jika kamu berada di dekatku. Kau seakan mengangkat bebanku. Seperti sekarang, membawakan belanjaanku! Hehehe… “Abdi bogoh ka anjeun, A’..”
Dan kau sekarang hanya memperlihatkan deretan gigimu yang rapi.
Aku tak tahu maksudnya. Aku ingin kau membalas perkataanku..

Continued

No comments: