19 November 2010

Dengarkan Aku

Jujur, saat ini keadaanku lagi kacau balau. Ntah badai apa yang datang, tiba-tiba aku sakit, dua handphone hilang, dan terakhir, memutuskan untuk tidak menghubungi seseorang.


Everything just messed up and I don't know why.


For about 3 days, I even didn't go out of my lodging house for eating. I just stayed at my room, made my room up, wrote something. The results : I posted 3 writing yesterday. I ruined my schedule, I lost my agendas. I'm losing my grip.


When shalat, I even couldn't drop my tears. The wounds just too severe that I've become so numb, I couldn't feel anything.


Akhir dari semua sakit itu adalah ketika aku memutuskan untuk menjauhi, tidak menghubungi, melepas. Teringat akan salah satu penggalan The Alchemist : kalau kau mencintai seseorang, kau harus rela melepasnya. Jika kau adalah bagian dari mimpinya, dia pasti akan kembali. 


Memulai memang susah, namun aku tahu aku bisa. Tuhan mendengarku, Tuhan tahu. Ketika setiap malam aku membisikkan namamu di bawah duli-Nya. Tuhan tahu aku berharap yang terbaik untuk masa depanku, Tuhan tahu mimpiku, Dia memeluk mimpiku.


Tuhan mempersiapkanku untuk mengarungi keadaan yang lebih baik. Aku yakin itu.


Aku terjatuh, namun aku mencoba berdiri lagi.


Dengarkan aku, Malaikatku.
Ketika sayapmu tidak lagi merengkuhku, aku terjatuh
Ketika senandungmu tak lagi kudengar, aku tak lelap


Namun, terima kasih
Memang aku harus berjalan sendiri
Tidak lagi merengek-rengek


Kamu tahu aku kuat
Tugasmu telah selesai


Malaikat Pelindung,
Terbanglah tinggi, gapai bintang-bintang di langit
Aku akan berjalan di Bumi
Jangan pernah sekalipun melakukan telepati itu


Malaikat Pelindung,
Jangan rendahkan sayapmu sekalipun aku meminta
Jangan pernah kembali sekalipun aku memohon


Cukup helai sayap yang kau tinggalkan ini aku simpan


:anggap saja kau tak pernah bersenandung dan merengkuhku

No comments: