18 November 2010

My 24hour Journey (Part Balikpapan-Samarinda)

Hem, aku jadi penasaran apakah aku sebenarnya memang duapuluhempat jam berada di perjalanan?

Jogja-Surabaya, 8jam 50menit (jam 10malem-6.50pagi)
Surabaya-Balikpapan, 1jam 30 menit.
Rehat di Balikpapan, 5 jam ( 10pagi-3siang)
Perjalanan Balikpapan-Samarinda, 4 jam (3siang-7malem)

Hampir 24 Jam sebenarnya :P

Perjalanan Balikpapan-Samarinda bisa ditempuh sekitar 1 jam oleh orang yang pengen cepat mati (ini pengalaman sodaraku). Normalnya sih dua jam, tapi aku dan papa menempuhnya 4 jam. Oke, dikarenakan ban pecah di sekitar kilometer 28. Hemhem..

rewindddd!

Di Balikpapan mamah sudah menyiapkan sebungkus nasi kuning untuk aku makan. Sekitar jam 10 lewat mamah pergi ke Samarinda duluan. Ada Oom mau  naik haji, ceritanya buat selametan gitu. Habis makan nasi kuning, aku gosok gigi. Eh nggak lama gigiku tiba-tiba bengkak dan sakit. Gerr~ jadi pipi yang udah bengkak ini tambah bengkak. Nggak enak banget rasanya.

Setelah mamah pergi aku memutuskan untuk tidur sejenak, mungkin bengkak dan sakitnya bisa reda.

Nggak lama tidur, eh ada orang yang ngetok pintu, aku memegang pipiku. Huwah~ tambah gede bengkaknya dan pipiku juga terasa basah. Ahem, ternyata Indonesia ketambahan satu pulau baru. *malu aku membuka pintu dengan mata setengah tertutup. Oh, ternyata mbak yang bantuin mamah ngerjain kerjaan rumah. Setelah membukakan aku kembali ke kasur, untuk meniduri bantal :P

Sekitar jam 3 aku bangun dan papah ternyata sudah pulang dan menyuruh aku berganti baju, tancap ke Samarinda.

Sekitar km.12, papa turun untuk ke Masjid sebentar. Aku ngeliat ada salome goreng. Taaaannncaaaappppp!! Aku suka banget sama jajanan anak eSDe yang notabene junkfood tape uweenakk banget. Mulai dari salome, cireng, es serut, anak emas, fujimie aaahhh~ kalau udah gede gini, yang namanya jajanan anak SD pengen dilahap semuanya. Habisnya pas  dulu SD selalu ngerasa uang jajan kurnag untuk membeli hal-hal seperti itu. Jadi pas udah uang jajan banyak, belinya nggak tanggung-tanggung.

Oke, aku beli salome goreng harga Rp10.000,-. Dua kantong gede salome goreng di tangan dan seringai setanku muncul. Aku kalap makan salome goreng. Hem, bagi yang nggak tahu salome goreng itu apa, sebenarnya seperti roti daging gitu. Digoreng. Namun perbandingan antara tepung dengan rasa dagingnya itu mungkin 5:1, artinya, kalau tepung 5 kilo, yaa~ dagingnya cuman 1 kilo lah, mungkin juga setengah kilo. Intinya : tepung digoreng. Nah, kalau salome rebus, perbandingannya juga sama. tapi kadang tepung kanji-nya banyak banget. Mungkin 7:1.

Selama perjalanan, aku melupakan gigiku yang sakit dan langsung makan salome goreng saus kacang itu dengan lahap. Nikmatnyooo~ lebih nikmat dari makanan yang di pesawat. Huhu~ Dan selama makan itu pula aku dapat wejangan, petatah-petitih, petuah, kalimat mutiara dari bapakku tercinta. Ada yang masuk, ada yang keluar, ada yang mental dari telingaku. Huehehe. Maaf ya papah tercintaa *sungkem

Ya~ jarak perjalanan Balikpapan-Samarinda kalau nggak salah sekitar 119 km. Dan ketika di Km.28, sekitar 4 kilometer dari perbatasan Balikpapan, ban mobilku pecah. Wah, yang terlihat di kanan-kiri cuman kebun doank. Papa berusaha untuk mengganti ban mobil sendiri. Sebenarnya bisa, namun karena nggak ada dongkrak, penggantian ban itu sulit dilakukan. Aku sendiri bingung mau berbuat apa. Alhamdulillah ada bapak-bapak yang lewat dengan sepeda motor. Papa bertanya apakah ada bengkel di sekitar daerah itu dan bapak itu bilang ada, namun jaraknya sekitar 1 kilometer.

Papah menyetujui, daripada tidak?

Selang berapa lama kemudian ban telah terganti dan kami pun melanjutkan perjalanan. Aku mengingat kembali masa-masa aku harus bolak-balik Balikpapan-Samarinda. Seingatku aku belum pernah merasa tidak rela jika harus kembali ke Samarinda karena harus sekolah. Aku menikmati semua kenanganku ketika bersekolah. Aku ingat dengan teman-teman sekelasku, Yutha, Desi. Ah, kemarin itu bertepatan dengan ulangtahun Becca. Aku memutuskan untuk bertemu dengan Becca, dan Desi. Namun Becca tidak bisa dihubungi.

Aku ingat pernah tidak suka dengan Samarinda. Ralat. Sampai sekarang aku tidak suka dengan Samarinda, aku hanya suka ketika aku belajar di sekolah. Aku tidak pernah merasa aku tidak akan lulus ketika itu. Aku selalu mengejar yang terbaik, bersaing dan belajar dengan teman-temanku sendiri. Ya, Yutha, Desi, adalah teman sekaligus saingan berat di kelas Bahasa. Lucu ketika aku mengenang masa Yutha belajar Matematika dengan Desi dan Desi harus menggaruk-garuk kepala karena tidak bisa menjelaskan ke Yutha dengan sederhana. Akupun tidak terlalu menguasai Matematika, maka aku bingung menjelaskan ke Yutha, bukan karena tidak bisa menjelaskan. Akhirnya, Desi menjelaskan ke aku dan aku menjelaskan ke Yutha. Masalah selesai dan kami bertiga sama-sama pintar.

Begitu juga alur Yutha ke Desi ketika belajar Bahasa Jepang atau Jerman.

Aku selalu menjadi perantara untuk memperjelas semua.

Aku semakin kangen Desi, Yutha, Becca.

Ketika sampai di Jembatan Mahakam, aku menelepon Desi. Alhamdulillah Desi menjawab dan akhirnya kami sepakat untuk bertemu. Ah, satu tahun lebih tidak bertemu Desi, bagaimana ya dia sekarang? Masih dengan rambut panjangnya? Atau sekarang sudah pendek?

Setelah Isya, aku diantar Om Eca -lagi- ke Plaza Mulia, tempat aku janjian dengan Desi. Hem~ Samarinda makin banyak Plaza, makin sering banjir. Aku berkeliling Plaza Mulia sendirian. Nggak menarik. Aku akhirnya menunggu Desi di depan Pizza Hut.

Akhirnya ada seorang cewek jangkung menyapaku.

"Cil!"

Huwaaaaaa~~ Aku langsung memeluk Desi. Masih cungkring, nggak ada yang berbeda. Kami berdua menuju Solaria, sambil bercerita tentang teman-teman Bahasa, keluarga kami masing-masing dan kehidupan masing-masing

Ketika sampai di J.Co, kami berdua memutuskan untuk berbincang-bincang di sana.


"Des, ada cerita apa?" tanyaku.


"Qia meninggal. Rabu kemaren (tanggal 3.11)" kata Desi.


"Hah?? Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun! Masya Allah. Trus?"


"Iya. Ceritanya nih, Ciel, inya (dia) mau ke pasar malam tuh bareng temennya. Eh, belum sampai di tujuan dia udah ketabrak. Parah mukanya sampai rusak gitu, malah temennya yang nggak apa,"


"Walah.."


"Inya dilarikan ke RS Abd. Moeis kalo', trus di sana dokter bilang alat-alatnya kada bisa cil ae, ehm, apa yah. Maksudnya itu nggak cukup bagus untuk kasus seperti dia. Akhirnya ke RS (kalo nggak salah Desi nyebut Wahab Sjahranie, tapi aku juga lupa eh. Nad) trus masuk ICU. Disana juga dokternya bilang,'ini nggak bisa diselamatin lagi'. Orangtuanya bilang pokoknya alat-alat untuk menunjang kehidupan Qia harus dipasang sampai dia memang udah nggak ada."


"Serem gitu sih?" Aku merinding mendengarnya.


"Iya, tahu Rizky kalo'? Nah jadi gila dia gara-gara Qia meninggal. Padahal inya ama Qia kan udah putus lama ya? Tapi Rizky-nya nggak bisa balikan gara-gara dia jadi guru dan Qia muridnya. Padahal kan Qia tinggal setahun lagi nah di SMA, baru bebas."


Aku terdiam.


"Ikam (kamu, Bahasa Banjar) gimana lah ceritanya?" tanya Desi.


"Hahhh~ Tauk, Cil ai. Susah sih kalau urusan hati," jawabku


"Ikam kada bicara pun ulun tau nah. Aku ama Yutha khan sering tuh ngobrol tentang kamu. Tapi aku ama Yutha itu takut aja pang nanya lagi ama kamu. Takut salah bicara."


"Maksudnya?"


"Ya, aku sama Yutha itu ngeliatin dari jauh aja. Nungguin kamu cerita. Ya ternyata kamu nggak cerita, kami kira kamu udah baik-baik aja."


"Nggak lah, Ciel. Ikam tahu sendiri lah ceritaku. Tapi susah, dong, ngelupain yang lama sama kita. Let it flows lah, Cil. Kalau difikirin juga buat aku kurus. Tenang aja koq, ada buktinya kalau aku nggak masukin di hati. Ini badanku masih subur." candaku.


"Ikam tuh lah. Baka yaro! (Bahasa Jepang, Bodoh!)" umpat Desi.


"Woooooo~~ Aho! (ini makian kasar banget katanya)" balasku.


"Inu!" --> Anjing. Dalam arti sebenarnya dan bukan kata makian. Kecuali dalam bahasa Indonesia. :P


"Buta!" --> Babi. Keterangannya sama seperti di atas.


Akhirnya kami tertawa berdua. Desi menambahkan kalau Qia juga nggak pake helm, itu yang memperparah keadaannya. Kematian. Sebenarnya hal yang paling dekat dengan kita tapi kita menyangkalnya. Seakan hidup selesai di alam dunia dan tidak ada alam selanjutnya. Pun ketika contoh besar sudah terpampang jelas di depan mata, masih ada orang yang hidup seakan untuk selamanya. Merapi, Wasior, Mentawai seakan belum menjadi contoh yang jelas.


Aku jadi teringat penggalan lagu M2M: "You do will never know what you've got till it's gone". Hmmmm~ mungkin orang itu nyadar kalau dia kehilangan sesuatu yang berharga, dalam hal ini nyawa, ketika dia sudah mati *sigh. Aku sih nggak tahu, yang jelas karena aku belum meninggal. Ya Allah, hamba meminta agar dikembalikan dalam kondisi yang khusnul khotimah.. Amin.


Kami pun dipisahkan oleh makhluk Allah, sang Waktu. Desi mengantarku ke depan Taman Makam Pahlawan dan menungguku sampai aku dijemput. Setelah papa datang, aku bersalaman dengan Desi dan berpelukan. Aku, sepertinya sempat lupa rasanya dipeluk oleh seorang sahabat. Betapa pelukan itu ternyata mengangkat beban dari pundak.


Di mobil, perjalanan ke rumah Oom yang mempunyai hajatan, aku merenung.


Betapa banyak pelajaran yang aku ambil dari perjalanan panjangku. Belajar tentang tolong-menolong, kebersamaan, mencari teman, survive, kematian, mengambil keputusan, untuk tetap tenang disaat sulit, menghargai sesuatu. Dan kemudian belajar.


Dimanapun di belahan Bumi ini, Allah mempersiapkan orang-orang terbaik-Nya untuk membantumu. Bahkan disaat kau jatuh, dan seakan dunia menghimpitmu, Allah datang, memberimu bermilyar-milyar karunia yang patut kamu syukuri, yang patut kamu pergunakan sebaik-baiknya, Kehidupan.